Oleh: apit | November 11, 2008

Agitator Itu Bernama Panjebar Semangat

Menengok Warisan dr Soetomo (4)
Selasa, 20 Mei 2008 | 14:08 WIB

Laporan Wartawan Surya Kuncarsono Prasetyo

SISA pers perjuangan sekarang hanya Penjebar Semangat, meski orientasinya sudah berbeda. Namun, daya tahan puluhan tahun itulah yang patut diacungi jempol.

Siang itu, majalah Mingguan Bahasa Jawa, Panjebar Semangat (PS), naik cetak lagi. Kira-kira, kali ini adalah cetakan yang ke-3.648 sejak majalah ini lahir 2 September 1933. Oplahnya masih membubung sekalipun usianya sudah 76 tahun. Di antara 30.000 eksemplar setiap minggunya, sebagian dikirim ke Suriname hingga Negeri Belanda. Mungkin inilah satu-satunya media massa tertua di Indonesia yang masih bisa dinikmati.

“Dalam sejarahnya, inilah majalah agitasi dan pembakar semangat rakyat umum yang terkuat. Karena masa itu tidak ada rakyat kecil yang bisa berbahasa Indonesia kecuali orang sekolahan. Sementara semangat perjuangan harus dikobarkan seluas- luasnya,” kata Pj Pimpinan Redaksi PS, Moechtar.

Memasuki lantai dua, saya merasakan roh perjuangan itu berhembus lagi. Mesin-mesin cetak tua masih digunakan. Bahkan peta jaringan distribusi majalah selebar tiga meter terbitan tahun 1930 tetap tertempel dan masih terpakai. Jakarta masih tertulis Batavia dan Buitenzorg untuk penyebutan Bogor.

Bahkan Bung Karno juga terkesan dengan PS. Di ulang tahun ke-20 PS pada 1953, presiden pertama ini memberi kesan ditulis tangan yang naskah aslinya saya lihat siang itu. Menurutnya PS berjasa membantu perjuangan nasional, semoga panjang umur.

Edisi pertama penerbitan ini berkop Weekblad Djawa Oemoem Panjebar Semangat. Pada delapan halaman di edisi awal ini setidaknya cukup menggambarkan betapa tulisan majalah ini begitu beraroma agitatif,
lebih-lebih di masa kolonial. Majalah yang mulanya selebar tabloid ini memiliki rubrik antara lain: Pergerakan, yang berisi liputan perkembangan gerakan kebangsaan dan upaya-upaya Belanda melakukan pencekalan, Taman Poetri yang dipenuhi tulisan tentang pemikiran perempuan dan beberapa rubrik lain.

Saya mengutip beberapa berita di rubrik Pergerakan untuk menunjukkan betapa ’beraninya’ PS masa itu. Tulisan Bahasa Jawa dengan ejaan lama itu saya terjemahkan bebas sebagai berikut:

Tentang PNI, Dikabarkan bahwa Bung Hatta pergi ke Turen (Malang, Red) untuk menemui pimpinan PNI setempat. Beberapa pimpinan PNI datang. Namun, polisi membubarkan pertemuan karena dianggap ilegal. Roekoen Tani Bondowoso, Vergadering (perkumpulan) Rukun Tani Bondowoso yang diketuai Roeslan dibubarkan pemerintah karena petani dilarang memiliki perkumpulan. Yang melarang adalah wakil pemerintah.

Cobaan Iman, Tanggal 21 bulan ini (September 1933, Red) surat kabar Sin Po mengatakan priyayi yang menjadi pimpinan Partindo (Partai Indonesia , Red) dan PNI diundang di Kabupaten Tuban. Mereka ditanya agar memilih antara organisasi atau pekerjaanya sebagai aparat negara.
Jika berat pekerjaan wajib keluar dari organisasi, menurut Sin Po banyak yang keluar dari organisasi. PS didirikan oleh motor pergerakan nasional Dr Soetomo di paviliun Gedong Nasional Indonesia ( GNI ) Bubutan sekitar dua tahun setelah GNI berdiri. Markasnya tidak pernah pindah.

Sebelum mendirikan PS, Soetomo mendirikan koran harian Soeara Oemoem dengan alamat redaksi yang sama. Namun, Soeara Oemoem tidak berumur panjang seperti PS. Kalimat agitatif itu sudah tidak bisa ditemukan lagi pada penerbitan PS masa sekarang. “Mungkin hanya orang-orang tua yang masih memiliki roh PS sebagai pers perjuangan, saya generasi baru yang datang menjadi wartawan sejak 1978,” kata seorang wartawannya, Bambang Sudiyanto.

Moechtar juga mengakui ada perubahan visi PS dari majalah agitatif ke media pelestari budaya Jawa. Namun, setidaknya mimpi Bung Karno supaya PS panjang umur kesampaian.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: