Oleh: apit | Mei 23, 2008

Pupuk WSF, Pupuk Ajaib “Republik Mimpi”?

Iswandi Anas

Akhir-akhir ini berbagai pihak disibukkan oleh “temuan” water stimulating feed oleh Raden Umar Hasan Saputra. Temuan WSF yang juga dikenal sebagai Nutrisi Saputra ini didukung penuh oleh Bapak Ir Ciputra dan Prof Dr Ir Roy Sembel.

Berbagai pihak juga disibukkan oleh temuan ini antara lain para petani di berbagai daerah, beberapa perkebunan besar, para peneliti pertanian dan perguruan tinggi. Bahkan, Presiden Yudhoyono pun meluangkan waktu menerima Saputra dan Ciputra, Rabu (6/9), dan menyebut Saputra layak dinominasikan untuk memenangi hadiah Nobel!

Tentu semua pihak “seharusnya” menerima “temuan” yang spektakuler ini dengan sukacita dan bangga bila hal ini benar dan telah dibuktikan secara ilmiah. Kontroversi impor beras, kegagalan panen di berbagai daerah, kelangkaan pupuk, dan persoalan pertanian lainnya tentu akan teratasi dengan temuan WSF ini. Namun kenyataannya, temuan ini sendiri amat kontroversial.

Nutrisi esensial

Seperti diuraikan oleh Saputra, WSF adalah teknologi pembentukan nutrisi esensial berupa tepung dan cairan. Tepung sebagai sumber N, P, K, Ca , Mg, dan trace mineral, sedangkan cairan adalah sebagai precursor nutrisi esensial yang bahan bakunya dari tepung jagung. Namun, penemunya tak bersedia menjelaskan lebih lanjut tentang WSF ini karena alasan paten. Temuan ini, menurut Saputra, sudah dipatenkan di sembilan negara. Negara mana saja, tidak dijelaskan oleh yang bersangkutan.

Prof Sembel yang didampingi Saputra menjelaskan manfaat WSF sebagai berikut: 1. Meningkatkan produksi padi sekitar dua kali lipat (4 ton menjadi 8-9 ton per ha), 2. Menurunkan jumlah pupuk dan pestisida sampai 50 persen atau lebih, 3. Memperpendek umur panen 10-15 hari, 4. Menurunkan biaya produksi padi sebesar 30 persen, 5. Penghematan air karena tanaman padi cukup diairi sekali 15 hari, 6. Biaya pengangkutan pupuk berkurang, 7. Meningkatkan kualitas beras (beras patah turun dari 10-20 persen menjadi 5 persen), 8. Rendemen dari padi menjadi beras meningkat dari 62 persen menjadi 75 persen.

Lebih menarik lagi, menurut Prof Sembel, WSF dapat digunakan untuk tanaman apa saja bukan hanya untuk padi. Dengan demikian, pupuk ini “benar-benar menakjubkan”. Namun, sayangnya, data ilmiah mengenai hal ini tidak ada.

Ir Ciputra meminta IPB melalui Wakil Rektor IV IPB Dr Asep Saefuddin memberikan masukan terhadap demplot penggunaan WSF untuk tanaman padi yang dilaksanakan oleh PT WSF International di Desa Panyirapan, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, dan di Desa Jati baru, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang. Kunjungan dilakukan pada tanggal 16 Agustus 2006.

Setelah melakukan peninjauan ke kedua demplot PT WSF tersebut dan mendengarkan penjelasan dari penemunya, kesimpulan kami dari IPB adalah “mungkin” pupuk WSF dapat meningkatkan produksi padi. Secara visual, tanaman padi yang “diberi perlakuan” pupuk WSF “lebih baik” tumbuhnya. Namun, data penelitian tertulis, yang dilakukan menurut kaidah penelitian yang benar tidak tersedia.

Di kedua lokasi demplot tersebut, “perlakuan kontrol” tidak ada sehingga pengaruh penggunaan pupuk WSF tidak bisa dibandingkan tanpa penggunaan WSF. Demikian pula ulangan perlakuan tidak ada. Semua hal ini adalah mutlak harus ada untuk penelitian ilmiah. Di lain pihak penanaman padi di kedua lokasi ini baru untuk pertama kali, tetapi data mengenai peningkatan produksi, peningkatan rendemen, pengurangan beras patah sudah diperoleh.

Berdasarkan hal ini, sesuai dengan permintaan Ir Ciputra kepada Wakil Rektor IPB Bidang Kerja Sama, IPB diminta untuk membantu melakukan pengujian pupuk WSF secara ilmiah. Hal ini untuk menjawab apakah betul pupuk WSF ini secara ilmiah benar-benar dapat meningkatkan produksi padi.

Harus bersabar

Tentu semua pihak akan sangat berbahagia dan berbangga dengan temuan anak bangsa ini bila pupuk WSF ini benar-benar dapat meningkatkan produksi padi. Untuk menjawab berbagai macam pertanyaan dan memastikan apakah pupuk WSF ini benar-benar dapat meningkatkan produksi padi, dan menghilangkan keragu-raguan bahkan cemoohan, tiada jalan lain yang dapat dilakukan produsen dan pendukung WSF adalah melakukan penelitian secara ilmiah yang memenuhi persyaratan multilokasi sehingga kesimpulan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan.

Setelah itu baru pupuk WSF ini dianjurkan kepada petani. Lembaga yang berkompeten melakukan penelitian ini tentunya perguruan tinggi dan lembaga penelitian pertanian yang memenuhi syarat baik dari sumber daya manusianya maupun dari sarana pendukungnya seperti laboratorium dan peralatan.

Memang hal ini akan memakan waktu paling tak sekitar empat bulan dan memerlukan biaya yang memadai, tetapi mau tidak mau hal ini mutlak harus dilakukan.

Lebih baik kita bersabar dari pada kita mencelakakan banyak pihak terutama petani yang sudah sangat menderita saat ini. Bila tidak demikian, maka persoalan, kontroversi dan keragu- raguan bahkan tuduhan “penipuan” dapat saja dilayangkan kepada produsen dan pendukung pupuk WSF ini.

Mudah-mudahan hal ini dapat memberikan penjelasan mengenai kontroversi pupuk WSF dan mencari jalan keluar yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan ini, demi kita semua. Bila betul WSF dapat meningkatkan produksi padi, bukan penemunya saja yang gembira, tetapi semua anak bangsa akan berbangga, tetapi hal sebaliknya juga bisa terjadi. Bila pupuk ini tak sesuai dengan claim yang selalu didengung-dengungkan oleh penemu dan pendukungnya, maka makian, umpatan, bahkan lebih dari itu akan terjadi.

Semoga kita mau bersabar dan berpikir serta mengambil keputusan berdasarkan kaidah ilmiah. Kita tidak hidup dalam Republik Mimpi seperti yang ditayangkan di televisi. Mari kita semua berpikir dan bertindak dengan menggunakan nalar dan akal sehat kita.

Iswandi Anas Guru Besar Ilmu Tanah Institut Pertanian Bogor .

Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0609/09/opini/2939669.htm


Responses

  1. tentunya harus dibuktikan di luar negeri juga….

  2. pakai double random blind test lebih sip..

  3. Kita patut kasihan pada pakar tanah, sudah banyak waktu habis percuma memelajari materi yang tidak membumi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: