Oleh: apit | Mei 20, 2008

Pak Tom, Motor Pergerakan dari Simpang Dukuh

Menengok Warisan dr Soetomo di Surabaya (5-habis)

Selasa, 20 Mei 2008 | 14:09 WIB

Laporan Wartawan Surya Kuncarsono Prasetyo

SEJUMLAH bentuk gerakan nasional awal abad 20 selalu bermuara pada sosok Dr Soetomo. Namanya begitu populer, sehingga menjadi nama
jalan di setiap kota. Namun, justru rumahnya sendiri di Surabaya sekarang merana.

Jika tidak diberitahu oleh Cak Kadar (Kadaruslan, Ketua Pusura) saya tidak akan pernah tahu bahwa motor pergerakan Boedi Oetomo ini rumahnya di pojok Jl Simpang Dukuh-Jl Kenari. Belakangan, berapa buku lawas yang menceritakan Soetomo melampirkan memo tulisan tangannya dengan kop bertuliskan Simpang Doekoeh 12 Soerabaia. Alamat rumahnya.

Jangan harap bisa menemukan rumah Soetomo ini secara utuh seperti masa
silam. Bangunan yang berhadapan dengan dealer motor ini kosong sejak lima
tahun lalu. Pohon-pohon dan rumput tinggi tak terkendali menutupi bangunan ini dari jalan raya. Andaikan proyek pembangunan di Jl Kenari tidak macet pada 1998 silam, bisa jadi bangunan bersejarah ini sudah rata tergusur. “Pemkot harus membeli rumah itu. Dan segera ditetapkan sebagai cagar budaya daripada hilang,” kata Cak Kadar geram.

Menurut sejumlah catatan, Pak Tom (begitu Dr Soetomo akrab disapa, Red) tinggal di rumah ini sejak 1923 hingga akhir hayatnya 30 Mei 1938. Di Surabaya, Pak Tom bekerja sebagai dosen di Nederlandsch Indisch Artsen
School (NIAS) yang sekarang menjadi Fakultas Kedokteran Unair.

Selain itu Pak Tom juga berpraktik di Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ). Penduduk Surabaya kerap menyapa dengan Rumah Sakit Simpang atau yang sekarang menjadi Plaza Surabaya.

Saya harus menyingung sosok Pak Tom dalam satu tema tersendiri sekarang,
sebab beberapa kali dalam rangkaian tulisan ini sebelumnya sosok ini hanya
muncul samar-samar dari balik sejumlah bentuk gerakan perlawanan yang
berpusat di Gedong Nasional Indonesia (GNI).

“Pak Tom orangnya sabar. Demikian pengakuan seorang profesor tua keturunan Belanda yang sekarang tinggal di Amerika kepada saya. Profesor itu bakal meluncurkan buku kesaksianya tentang Pak Tom September nanti,” kata Cak Kadar. Sayang Kadar lupa namanya.

Suatu siang pada 1935-an, kata Kadar, sang profesor kecil tengah mengejar
layang-layang tidak sengaja melompat pagar dan masuk halaman rumah Pak Tom . Begitu takutnya dia pada sosok Pak Tom yang membuka pintu rumah. Selama itu, Pak Tom dikenal orator ulung, singa podium, pemimpin massa . Bahkan orang Belanda dibuat keder dengan namanya.

“Namun yang terjadi. Pak Tom, katanya, keluar sambil menyerahkan layang-layang dan benangnya kepada bocah bule ini. Pak Tom menyapa
dengan senyum dan mengajak ngobrol lama sekali,” terangnya.

Sejak saat itu bocah ini begitu kagum pada Pak Tom . Bahkan menginjak remaja menjadi simpati pada gerakan-gerakan pro kemerdekaan.

***
Pak Tom lahir di Nganjuk 30 Juli 1888. Dia menjadi pemberani sejak bersekolah dokter Jawa di School tot Opleiding Inlandsche Artsen (STOVIA) Batavia. Setelah lulus ia berpraktik di beberapa daerah sampai dia menikahi susternya yang berdarah Belanda, Everdina Johanna Bruring de Graff. Pak Tom melengkapi statusnya menjadi dokter penuh setelah kuliah di Belanda 1919-1923.

Selain seorang dokter pejuang, Pak Tom juga organisatoris dengan mendirikan Boedi Oetomo, Poesoera, Indonesiache Studieclub. Ia juga menjadi politisi dengan mendirikan PIB dan Parindra, dia juga jurnalis dengan menerbitkan Soeara Oemoem dan Pajebar Semangat, dia seorang ekonom saat mendirikan Bank Negara Indonesia dan Pusat Koperasi Pribumi dan masih banyak lagi.

Sumber: http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/05/20/14091738/pak.tom.motor.pergerakan.dari.simpang.dukuh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: