Oleh: apit | Mei 16, 2008

Ke Grasberg, Gunung Emas Papua, setelah 20 Tahun Dikelola PT Freeport (1)

Jumat, 16 Mei 2008,

Tambang Terbuka dengan Truk Monster Tinggal 6 Tahun Lagi
Tahun ini genap 20 tahun PT Freeport Indonesia mengelola tambang Grasberg di Timika, Papua. Salah satu lokasi tambang terbesar di Indonesia itu dikelola seperti “negara dalam negara”. Inilah laporan Jawa Pos yang baru pulang dari sana.

BERADA di ketinggian sekitar 1.871 meter di atas permukaan laut, kali pertama menginjakkan kaki di Bandara Moses Kilangin, Timika, udara terasa dingin. Bandara itu terkesan tak terawat. Ruang kedatangan ukuran 8 x 10 meter dihiasi loket-loket kayu yang sudah lapuk. Pembatas ruang kedatangan dengan landasan udara adalah kawat-kawat silang yang biasa digunakan di kebun binatang.

Beberapa ekspatriat terlihat bingung mencari troli untuk menaruh barang bawaan mereka. Jumlah troli yang tersedia di bandara yang dinamai sama dengan nama kuli barang Jacquez Dozy, geolog penemu Erstberg (lokasi tambang PT Freeport yang pertama), itu memang dalam hitungan jari. Apalagi mencari troli yang berfungsi baik, lebih sulit lagi.

Bandara yang, rencananya, segera diperbarui itu berada di mil 26. Hanya 10 menit perjalanan dari Hotel Sheraton, Timika, yang diresmikan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Joop Ave pada 1995.

Di hotel itu, PT Freeport memiliki satu ruangan khusus yang digunakan sebagai pusat informasi. Hotel tersebut berdekatan dengan Kuala Kencana, kota utama Freeport, yang kebutuhan penghuninya kebanyakan diimpor dari Australia.

Tempat-tempat penting di Timika memang disebut dengan ukuran mil, ukuran jarak yang lazim digunakan di AS. Jarak mil terendah adalah Pelabuhan Amamapere yang berada di mil 6, tempat kapal-kapal asing mengangkut jutaan ton emas dan tembaga sejak 1971.

Berdekatan dengan pelabuhan, PT Freeport Indonesia menempatkan empat pabrik pengeringan (dewatering plant) yang berfungsi mengeringkan konsentrat emas dan tembaga yang masih berbentuk seperti bubur.

Bubur itu dikirim dari pabrik pengolahan bijih di mil 74 dengan pipa sepanjang 110 kilometer. Saat dikirim, konsentrat memiliki kadar air 35 persen. Setelah kadar air di konsentrat bisa ditekan hingga tinggal 8-9 persen, konsentrat dikapalkan ke berbagai penjuru dunia. Termasuk ke PT Smelting di Gresik, salah satu pembeli utama konsentrat Freeport, dengan komposisi mencapai 27 persen.

Ketua MPR Amien Rais pernah menuding bahwa di pabrik pengeringan itu Freeport “bermain” dengan langsung mengapalkan konsentrat tersebut tanpa sepengetahuan negara. Tahun lalu DPRD Papua juga meminta Freeport melaporkan secara rinci dan periodik mengenai ekspor emas dan perak ke Amerika Serikat (AS) yang selama ini diduga tidak pernah dilaporkan.

“Padahal, aktivitas pengapalan ini dilakukan dengan sepengetahuan petugas kepabeanan. Kadar emas dalam konsentrat juga selalu diukur secara berkala oleh PT Sucofindo,” kata Binsar Panjaitan, superintendent dewatering plant.

Namun, Freeport memang memiliki permasalahan di sektor pengapalan itu. Dengan kedalaman hanya 6-8 meter, kapal-kapal besar sulit merapat di Amamapare. Perusahaan itu memiliki dua jenis kapal berkapasitas 3 ribu ton dan 8 ribu ton yang membawa konsentrat tersebut serta memindahkan ke kapal pembeli di laut lepas. Akibatnya, hanya 10 ribu ton konsentrat yang bisa diangkut kapal.

Pada mil 21, ada tempat reklamasi, yakni daerah tailing (disebut juga sirsat, pasir sisa tambang) yang mengalami proses vegetasi alami. Daerah itu digunakan Freeport untuk menunjukkan bahwa unsur-unsur dalam tailing tidak berbahaya. Problem sirsat adalah masalah kuantitasnya.

Untuk mengunjungi lokasi Grasberg yang berada di ketinggian 4.268 meter di atas permukaan laut itu, harus melewati beberapa pos pengawasan. Salah satu di antaranya mil 50 tempat check point.

Jangan berharap bisa masuk lokasi itu tanpa kartu pengunjung yang dikeluarkan Freeport. Namun, penjagaan ketat tersebut bisa ditembus para panner (pendulang-pendulang emas liar) di sekitar lokasi. Mereka diindikasikan main mata dengan aparat kepolisian yang bertugas di sana.

Untuk masuk ke tambang Grasberg, pengunjung juga harus mengenakan peralatan standar keamanan. Yaitu, helm, rompi penanda, kacamata pengaman, dan sepatu boot khusus untuk pertambangan.

Jalanan berkelok-kelok dan menanjak. Mobil dengan penggerak empat roda (4 wheel drive) merupakan prasyarat utama kendaraan yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut. Sedikitnya tiga kelokan menunjukkan kemiringan lebih dari 45 derajat.

Setelah beberapa saat melewati mil 50, salah satu titik poin lain adalah terowongan Hanekam sepanjang 1.050 meter. Terowongan ini dibuat hanya satu arah, sehingga kendaraan yang lewat dari arah berlawanan harus bergantian. Keluar dari kegelapan di terowongan kendaraan melewati jembatan lima hari.

Diberi nama jembatan lima hari karena jembatan ini pernah rusak pada akhir 1990-an dan proses memperbaikinya membutuhkan waktu lima hari. Setengah jam perjalanan kemudian, kita tiba di Kota Tembagapura. Nama kawasan dengan ketinggian 3.000 meter di atas permukaan laut itu diberikan oleh mantan Presiden Soeharto.

Freeport memiliki berbagai fasilitas di sini. Mulai kantor, perumahan, fasilitas kota seperti pusat perbelanjaan, hiburan, dan semacamnya. Kondisi ini sedikit berbeda dengan Kota Timika yang terkesan semrawut.

Dengan desain kota yang minimalis, beberapa gerai yang lazim ditemukan di pusat keramaian ibu Kota Jakarta hadir di sana. Misalnya, Hero Supermarket, Salon Rudy Hadisuwarno, kantor Bank Mandiri dan Bank Niaga, serta food court yang menyediakan berbagai makanan siap saji.

Di areal food court tampak beberapa ibu muda berbincang santai ditemani kopi dan jajanan. Dari Tembagapura, perjalanan terus naik ke atas menuju pusat pengolahan bijih di mil 74. Di lokasi ini terdapat tempat pemisahan antara konsentrat yang berisi emas dan tembaga dengan batu-batuan tidak berharga.

Dari 209 ribu ton batu-batuan per hari yang diangkut dari Grasberg, hanya sekitar 6.000 ton yang memiliki kandungan emas dan tembaga. Sisanya, 200 ribu ton lebih, dibuang dalam bentuk sirsat (pasir sisa tambang) ke Sungai Otomona.

Data yang dimiliki Freeport, pada 2007 pada setiap 209 ribu ton bijih yang diolah, 0,82 persennya adalah tembaga yang per tonnya berisi 1,24 gram emas dan 3,53 gram perak. Dengan kata lain, konsentrat yang diperoleh per hari rata-rata 5,325 ton, terdiri atas tembaga 28,5 persen yang per tonnya berisi 40,8 gram emas dan 80,8 gram perak.

Naik ke Pegunungan Grasberg membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit dengan trem listrik. Dua trem tersedia dengan kapasitas 80 dan 100 orang untuk mengangkut pekerja pertambangan.

Udara tipis dan kabut menghiasi pemandangan Pegunungan Grasberg yang telah membentuk ceruk mirip belanga raksasa. Tampak lalu lalang haul truck Komatsu 930 atau Cat 797 mengangkut bebatuan besar untuk ditempatkan di pabrik pengolahan. Truk-truk monster dengan roda 6 ban berdiameter 5 meter itu lazim digunakan di pertambangan besar di dunia. Harga satu bannya saja mencapai USD 30 ribu (sekitar Rp 276 juta).

Selain tambang terbuka, Freeport menggunakan metode lain yang dikenal sebagai block caving. Di sini proses eksploitasi dilakukan dengan membuat terowongan untuk mendapatkan konsentrat yang diinginkan.

Diperkirakan pada 2014-2015 tambang terbuka Grasberg akan ditutup karena sudah tidak memiliki nilai ekonomis lagi. Sebagai ganti, metode block caving akan dipakai di gunung yang saat ditemukan kandungannya diperkirakan mencapai 2,5 miliar ton itu.

Papua memang termasuk wilayah yang memiliki sabuk mineral yang kaya. Negeri tetangga, Papua Nugini, misalnya, memiliki 115 titik kandungan mineral yang telah diidentifikasi. Dari jumlah tersebut, 15 perusahaan pertambangan beroperasi di Papua Nugini.

Kondisi tersebut jelas jauh berbeda dengan Papua. Sejak 1967, hanya Freeport yang beroperasi di pulau paling timur Indonesia itu. Sejak Erstberg hingga penemuan Grasberg pada 1988, perusahaan asal Amerika itu terus mengumpulkan pundi-pundi uangnya. Freeport kini tercatat sebagai salah satu produsen emas terbesar di dunia. (iwan ungsi)

Sumber: http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=341897


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: