Oleh: apit | April 28, 2008

Galtung: Tiga Corak Fundamentalisme

Siapa yang tidak kenal Profesor Johan Galtung; sosiolog, pemikir, dan aktivis perdamaian kelahiran 24 Oktober 1930 di Oslo, Norwegia. Karya-karyanya telah jadi rujukan dunia pada saat orang berbicara tentang perdamian, konflik, perang, dan cara-cara mengatasinya. Kritiknya terhadap penghasut perang terasa pedas sekali, tidak peduli siapa pun yang melakukan. Pada usia 12 tahun, Galtung pernah ditahan Nazi. Maka, mulailah ia mengerti betapa jahat dan kejamnya peperangan.

Galtung adalah pengagum Mahatma Gandhi, tokoh anti-kekerasan India yang legendaris. Pada 1970-an, Galtung pernah meramalkan keruntuhan Uni Soviet, yang kemudian menjadi kenyataan. Imperium Amerika sekarang ini juga diperkirakannya tidak akan bertahan lama, karena politik luar negerinya yang ekspansif dan cuek terhadap hukum internasional, sedangkan di dalam negeri, demokrasi dan hak-hak asasi manusia seperti dihormati.

Pada 14 September 2002 di Koln, di depan 25.000 pendukung gerakan perdamaian Jerman, setahun pasca-tragedi 11 September 2001, Galtung berseru: “Moderates all over the world, unite! (Kaum moderat sedunia, bersatulah!)”. Di forum inilah Galtung berbicara tentang tiga corak fundamentalisme yang telah menjadikan penduduk bumi sebagai tawanannya.

Berbeda dari kebanyakan pers Barat yang membidikkan tombak fundamentalisme yang mengerikan itu lebih banyak kepada orang Islam pasca-tragedi September, Galtung meneropong bahwa ada tiga kekuatan fundamentalis yang berasal dari kultur berbeda tapi filosofinya serupa: pertama, faksi Wahabi Osama bin Laden; kedua, faksi puritan Protestan yang semula berasal dari Inggris, kemudian menyebar ke Amerika Serikat; ketiga, ini jarang didengar tapi yang tidak kurang kejamnya: fundamentalisme pasar.

Menurut Galtung, fundamentalisme corak pertama adalah yang bertanggung jawab terhadap perbuatan kriminal di belakang tragedi September. Baik faksi Wahabi maupun faksi Protestan sama-sama merasa dirinya sebagai manusia pilihan Tuhan. Keduanya berpikir sebagai orang yang mendiami Tanah yang Dijanjikan yang suci. Keduanya sama-sama menganut doktrin: “… he who is not with me is against me” (orang yang tidak ikut saya adalah musuh saya). Keduanya memandang enteng kematian orang lain. Keduanya begitu mirip, sehingga George bin Laden dan Osama Bush dapat bertukar percakapan. Keduanya merasa bahagia dengan membunuh ribuan manusia.

Anda bisa membayangkan, pada saat nama George W. Bush sedang melambung tinggi pasca-tragedi September, Galtung telah “menobatkannya” sejajar dengan Osama, dengan daya bunuh lebih dahsyat. Sungguh tidak banyak penduduk bumi yang punya reputasi internasional tapi berani bersuara lantang membongkar kebiadaban, kezaliman, dan kejahatan terhadap kemanusiaan seperti Galtung.

Saya rasa, umat manusia berutang budi pada sosok manusia dengan integritas pribadi yang prima dan konsisten ini. Jika ia menyerang praktek biadab, di saat yang sama ditunjukkannya bagaimana hidup secara beradab itu. Tidak sebaliknya, pada saat sementara orang berbicara tentang kasih sayang, perbuatannya malah mengobarkan budaya kebencian dan kekerasan. Ketika sementara pihak berbicara tentang demokrasi dan hak-hak asasi manusia, bangsa-bangsa lain dijadikan mangsa untuk dibinasakan dengan cara-cara brutal.

Galtung bertutur: “Dunia sarat dengan masalah, yang satu lebih besar dari yang lain. Masalah itu punya satu nama. Nama itu adalah Amerika Serikat, geofasis, di dalamnya ada sedikit demokrasi, di luar fasis. Mereka berpikir berada di atas hukum, langsung di bawah Tuhan, sehingga tidak ada ruang bagi PBB, hukum internasional, dan hak-hak asasi manusia.” Gatung pun membidik Israel yang juga dikuasai kaum fundamentalis, resolusi-resolusi PBB ditentang secara sistematis.

Corak ketiga adalah fundamentalisme pasar. Kata Galtung, Amerika Serikat ditunggangi oleh tipe fundamentalisme lain: fundamentalisme pasar. Ada manusia pilihan di situ, yaitu CEOs (chief executive officers) dengan korporatnya. Di situ ada pula tanah suci: pasar.

Mereka berjuang di sana. Kata Galtung: “Siapa pun yang tidak percaya kepada pasar yang “tak terkekang” (unfettered) tapi punya gagasan dan cita-cita ekonomi yang lain harus diperlakukan sebagai pengkhianat. Dan mereka memandang hidup orang demikian ringannya, seperti 100.000 kematian saban hari, terutama karena pasar tidak dapat memenuhi keperluan pokok mereka untuk makanan dan kesehatan, seperempat di antaranya semata-mata karena lapar.”

Pungkasannya, kita ulangi seruan Galtung: “Kaum moderat sedunia, bersatulah!” Saya iringi: “Semua corak fundamentalisme adalah musuh sejati kemanusiaan, sekaligus musuh bebuyutan akal sehat!”

Ahmad Syafii Maarif
Guru Besar Sejarah, Pendiri Maarif Institute
[Perspektif, Gatra Nomor 21 Beredar Kamis, 10 April 2008]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: