Oleh: apit | April 27, 2008

Fadjari Iriani Sophiaan, Ketua Program Sekolah Para Calon Mata-Mata

Intel Juga Memata-matai Botol Plastik Kompetitor
Dunia intelijen tak lagi melulu untuk kepentingan bela negara. Kini, di tengah ketatnya persaingan bisnis, sekolah pascasarjana bidang intelijen juga diminati perusahaan-perusahaan swasta. Yang hebat, ketua program sekolah satu-satunya di Asia itu seorang wanita.

RIDLWAN HABIB, Jakarta

RUANG kerja di kompleks Kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba itu tak seberapa luas. Hanya sekitar sembilan meter persegi. Begitu masuk, aroma harum bunga jasmine langsung terasa. Di samping pintu terdapat lemari kayu yang penuh buku. Di sudut kiri terlihat tumpukan kardus berisi buku berjudul Intel: Inside Indonesia’s Intelligence Service karangan Ken Conboy.

“Tadi di bawah aku sudah tahu kalau kamu datang. Tapi, sengaja kubiarkan supaya kamu naik dulu,” kata wanita penghuni ruangan itu kepada Jawa Pos. Namanya cukup panjang, Fadjari Iriani Sophiaan Yudoyoko. Dia tampil dengan busana tak terlalu formal, kaus putih yang ditutup blazer biru gelap.

Iriani, panggilan akrabnya, adalah ketua program S-2 Kajian Strategik Intelijen Universitas Indonesia. Dia menjabat sejak program itu didirikan pada pertengahan 2004. “Awalnya ini program kerja sama Badan Intelijen Negara dan Universitas Indonesia. Tapi, setelah angkatan pertama, operasionalnya ditangani sepenuhnya oleh UI,” ujarnya.

Saat pertama dibuka, mahasiswanya berasal dari badan-badan intelijen internasional. “Australia mengirim, ada juga dari Brunei, Singapura, dan Malaysia. Mereka lulus dua tahun lalu,” jelasnya. Saat itu bahasa pengantar perkuliahan sehari-hari menggunakan bahasa Inggris.

“Sekarang menggunakan bahasa Indonesia meskipun modul-modul dan bahan perkuliahan mayoritas berbahasa Inggris,” ujar wanita yang fasih berbahasa Rusia itu. Angkatan keempat yang sekarang belajar di sana ada 20 orang. “Mereka dari beragam institusi, intelijen kejaksaan, Departemen Pertahanan, Mabes TNI, Polri, dan juga perusahaan,” tambahnya. Hanya Intelijen Imigrasi yang belum pernah mengirim orang belajar di sana.

Menurut ibu tiga anak itu, program Intelijen UI adalah satu-satunya di Asia. “Bahkan, setahu saya, di dunia hanya ada di sini dan di London, Inggris,” katanya.

Setiap peserta harus menempuh kuliah empat semester. “Program ini belum banyak dikenal. Kami tidak hanya mengajarkan ilmu menjadi spy (mata-mata), tapi juga menciptakan analis intelijen,” jelasnya.

UI punya banyak ahli pertahanan, mengapa yang dipilih jadi ketua program seorang wanita? Ditanya seperti itu, Iriani tersenyum. “Intelijen sebenarnya bukan semata-mata fisiknya. Tapi, lebih pada pemikiran dan analisis. Karena itu, perempuan tidak masalah. Lagi pula, sekarang ini hampir tidak ada exception (pengecualian) bagi wanita untuk berkarir,” katanya.

Selain itu, tambah dia, kelembutan perempuan di dunia intelijen justru berguna. “Mungkin pertimbangan rektor menaruh saya di sini dulu karena harus ada kekuatan negosiasi perempuan untuk menghadapi intel-intel berbagai negara,” kata Iriani.

Pada awal program, jurusan unik tersebut harus menghadapi tuntutan tinggi dari peserta, terutama intelijen asing. “Saya deal dengan mereka untuk menjelaskan bahwa kita tak sekadar mencetak spy. Yang lebih penting adalah daya analisis mengolah informasi. Mungkin karena saya wanita, pelan-pelan saya bisa meredam (tuntutan) itu,” katanya.

Iriani menjelaskan, dalam siklus intelijen, spy atau mata-mata ditaruh di garda paling depan. Tugasnya mencari data pihak lawan yang dianggap ancaman. “Jadi, spy itu hanya alat. Informasi yang diperoleh diproses oleh analis. Data yang sudah diolah itu akan digunakan para pengambil kebijakan untuk menentukan langkah lanjutan.”

Menurut dia, pada awal-awal mahasiswa kuliah memang ada penolakan. Terutama peserta program adalah intel di lapangan. “Jadi ada semacam ego ’Siapa sih elu, gua kan memang sudah intel’, terutama pada pengajar yang basisnya bukan praktisi,” ujar wanita asli Betawi itu.

Dia mencontohkan, mahasiswa pernah marah-marah karena analisis soal Aceh dan krisis Ambalat dianggap tidak cukup oleh dosen. “Tapi, setelah dijelaskan alur sistematika berpikir, mereka mulai diam. Jadi, memang kita mengajarkan membuat analisis intelijen yang valid, akurat, scientific. Tidak main kira-kira,” katanya.

Rata-rata yang belajar di kampusnya memang intel asli. Mereka dikirim khusus oleh instansi masing-masing. “Sekarang ini setiap mahasiswa kita drill bener-bener agar mutu lulusannya bagus. Jadi, nanti bisa ada penilaian lebih dari pimpinannya. Harapannya, sekarang kirim satu, besok kirim enam,” katanya lantas tertawa.

Masyarakat biasa boleh ikut? “Tentu saja,” jawabnya. Syaratnya memenuhi standar kualifikasi. Misalnya, lolos skor tes potensi akademik (TPA) sebesar 450. “Ini yang agak sulit. Banyak calon mahasiswa nggak bisa masuk,” ujarnya.

Untuk menyiasati itu, sebelum tes, UI mengadakan bimbingan TPA. Rata-rata yang gagal adalah mereka yang berasal dari institusi birokrasi. “Misalnya, kemarin Mabes Polri kirim banyak (calon mahasiswa), tapi di tengah jalan gagal karena tes itu,” ujar wanita yang lama tinggal di Amerika Serikat itu.

Selain lulus tes TPA dan seleksi kemampuan bahasa Inggris, calon mahasiswa juga harus siap dana cukup besar. Biaya kuliah per semester Rp 15 juta. Itu berarti sampai lulus (4 semester) setidaknya harus keluar biaya Rp 60 juta. Itu pun masih ditambah biaya untuk buku-buku referensi yang amat langka diperoleh di Indonesia.

“Memang cukup mahal. Tadinya, karena ada kerja sama internasional, jadi grade-nya mahal. Dosen-dosen kita juga benar-benar expert,” katanya.

Pengajar bidang ini memang tidak main-main. Selain para professor UI, praktisi intelijen lapangan yang sudah sangat terlatih juga memberikan materi. Misalnya, Mayjen (pur) Dadi Susanto. Mantan Dirjen Strategi Pertahanan Dephan itu lama berkarir di dunia intelijen. Dia pernah menjabat direktur A Badan Intelijen Strategis dan Asisten Intelijen Kasum Mabes TNI.

Selain itu, ada Brigjen (pur) Sonny E.S. Prasetyo, mantan direktur B Badan Intelijen Strategis TNI; Brigjen (pur) Irawan Sukarno, dan mantan Kasum TNI Letjen (pur) Agus Widjojo. “Dari BIN (Badan Intelijen Negara) juga ada, tapi sebagai perseorangan. Artinya, mereka tidak mewakili institusi,” katanya. Misalnya Saut Situmorang. Mata-mata BIN selama 20 tahun itu mengajarkan ilmu competitive intelligence.

“Di bidang intelijen keuangan kita juga punya ahlinya. Misalnya Pak Viraguna Bagoes Oka,” kata Iriani. Viraguna berpengalaman karena pernah menjabat direktur pengawasan Bank Indonesia.

Selain para ahli dalam negeri, ada pengajar dari luar negeri. “Dulu kita datangkan dari Australian National University. Sekarang ada Ken Conboy yang ikut mengajar,” kata Iriani.

Ken Conboy adalah warga negara Amerika yang lama tinggal di Indonesia. Dia menulis tiga buku tentang intelijen Indonesia dan Kopassus. Ken yang sekarang berprofesi sebagai konsultan keamanan itu juga kenalan baik mantan Kepala BIN Jenderal (pur) A.M. Hendropriyono.

Perkuliahan berlangsung setiap hari. Waktunya malam karena rata-rata peserta sudah bekerja. Dalam silabus kurikulum yang diterima Jawa Pos, pada semester awal ada lima mata kuliah yang diambil. Di antaranya, dasar-dasar teknik dan ilmu intelijen, sejarah, dan komunikasi intelijen.

Pada semester kedua juga ada lima mata kuliah. Mahasiswa lebih banyak belajar kasus-kasus intelijen. Baik operasi yang gagal maupun operasi yang berhasil. Juga, cara memahami kejahatan transnasional dan cara mengemas informasi intelijen dalam materi intelligence productions.

Sebelum mengerjakan tesis pada semester keempat, mahasiswa belajar tentang terorisme dan ilmu kontraterorisme, intelijen dan hubungan internasional, competitive intelligence, dan ilmu analisis kejahatan finansial. Semester ketiga terdiri sembilan sistem kredit semester (SKS). “Kita juga berencana melakukan praktik bersama intelijen. Dalam arti ilmu spy-nya (teknis mata-mata),” katanya.

Peserta dari kalangan perusahaan juga makin banyak. Hal itu menyebabkan materi tesis -syarat yang harus dipenuhi jika ingin meraih gelar master intelijen- juga kian beragam. “Macam-macam kasusnya. Karena intelijen sekarang bukan hanya masalah negara. Bisnis dan persaingan global juga butuh itu,” urainya.

Dia mencontohkan salah satu peserta dari sebuah perusahaan (Iriani menyebut sebuah nama merek air dalam kemasan) yang melakukan riset tentang industri kemasan plastik. “Intelijen juga ngurusi botol plastik lho. Dia harus masuk secara rahasia untuk mencari data-data secrecy perusahaan lain sebagai kompetitor. Misalnya, bagaimana menghadapi kelangkaan biji plastik, bentuk (kemasan) yang diminati konsumen, dan sebagainya,” jelasnya.

Selain itu, ada yang menulis tesis bertema analisis intelijen dalam persaingan tarif telepon. Mahasiswa ini dikirim dari staf bidang riset sebuah perusahaan telekomunikasi besar di Indonesia.

“Ada juga yang menulis soal rencana pembangunan rocket base di Papua,” kata wanita yang hobi menyanyi itu.

Iriani yang sudah punya seorang cucu itu optimistis program yang bulan depan melakukan seleksi calon mahasiswa itu semakin diminati. “Saat ini kalau perusahaan mau eksis tak bisa menghindar dari belajar ilmu intelijen. Jadi, persepsinya bagaimana mengalahkan kompetitor dengan analisis yang smart dan akurat,” kata anggota The Professor Band UI itu. (el)

Sumber: http://www.jawapos.com/index.php?act=detail&id=10377


Responses

  1. Saya tertarik akan ulasan tentang intel yang ada di Indonesia. Bisakah saya mendapat alamat jasa intel yang ada di jawa tengah?

  2. sy lulusan sma tahun ini(2008)..dmn sy bisa mndftar mnjd praktisi intelijen/ siswa STIN? sy tggu balasannya..

  3. Saya ingin memperoleh buku atau data yang bisa dibaca umum tentang pendidikan dasar `intelijen di Indonesia. Mengapa intelijen kita masih bermental kekuasaan semata-mata dan cenderung sewenang-wenang!

  4. mohon penjelasan tentang syarat-syarat masuk stin,untuk tahun 2009/2010,apakah jurusan IPS bisa masuk?.kami mempersiapkan untuk setelah lulus tahun depan.
    Terima kasi

  5. dari dulu saya ingin menjadi seorang mata-mata (intelijen) karena saya sangat senang bergaul dgn orang lain dan sering mendapat info yg penting dan fital. jika ada instansi yg mau rekrut informan, saya mau. posisi saya di sorong-papua. saya bisa dihubungi via email saya (dofidayora@yahoo.com)

  6. saya ingin sekalimasuk Badan Intelijen Negara karna saya ingin menjadi orang yang berguna bagi masyarakat dan bangsa……………………………(adityatzd@yahoo.co.id)

  7. ooh iya saya juga ingin tanya dimana saya bisa mendaftar sebagai siswa STIN?……..saya ttngu jawabanya yaa (adityatzd@yahoo.co.id)

  8. Saya dengar kalau masyarakat umum bisa jadi mata-mata atau intelijen. Katanya identitas diri bisa dikirim/daftar ke Polisi dan akan mendapat kartu anggota.. apa benar/bisa..?

  9. saya ingin menjadi seorang itelejen negara yang mengabdi buat negara dan mati untuk negara,saya hanya lulusan smu tahun 2002,tapi boleh tes pengalaman saya siapa tau mungkin cocok untuk menjadi seorang itelejen negara


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: