Oleh: apit | Maret 20, 2008

Yang Mandul, Yang Ngotot, Yang Menyesal

Kamis, 20 Mar 2008,


Sejak awal, invasi militer AS dan sekutunya ke Iraq memang menimbulkan kontroversi. Kalangan pemimpin dunia pun terpecah antara mendukung dan menolak. Sementara PBB yang diharapkan menjadi penengah, kehilangan peran. AS pun mengabaikan pendapat dan suara badan internasional tersebut.

KOFI ANNAN, Sekretaris PBB (saat itu).

Sejak awal dia tidak setuju dengan usul AS untuk melakukan invasi militer ke Iraq. Apalagi, tiga dari lima anggota tetap Dewan Keamanan (DK) PBB memveto resolusi tersebut. Ketika negara itu adalah Prancis, Rusia, dan Tiongkok. Dua anggota DK-PBB lainnya, AS dan Inggris, bersikukuh pada rencana menginvasi Iraq dengan mengabaikan keputusan PBB.

Meski markas PBB di Baghdad, Iraq dibom dan menewaskan pejabat paling senior, Annan tetap pada sikapnya menolak Perang Iraq. “Itu (Perang Iraq) tidak sesuai dengan Piagam PBB dari sudut pandang manapun. Karena bisa disebut illegal,” ujarnya dalam sebuah wawancara dengan BBC.

Sebelum mengakhiri jabatannya akhir 2006, dalam pidato terakhirnya, dia kembali mengungkapkan penyesalannya atas Perang Iraq. “Tidak ada bangsa yang dapat membuat dirinya aman dengan mencari supremasi dari bangsa lain,” ujarnya.

HANS BLIX, Ketua tim inspeksi senjata PBB.

Dia ditugasi PBB untuk membuktikan tuduhan AS bahwa Iraq tengah mengembangkan senjata pemusnah masal (WMD/weapons of mass destruction). Namun belum lagi dia menyelesaikan tugasnya, AS keburu menyerang Iraq.

Blix pun memutuskan mengundurkan diri. Dia pun menuduh AS dan Inggris memang terobsesi menyerang Iraq, meski tanpa dalih apa pun. “Saya jadi ragu, bagaimana sebenranya sikap mereka (AS dan Inggris) terhadap hasil pemeriksaan kami,” ujarnya kepada media El Pais Spanyol April 2003.

Setahun kemudian dia membuat pernyataan bahwa mustahil AS menemukan WMD di Iraq, sebagaimana yang negeri itu tuduhkan. Menurutnya, intelijen AS telah membuat skandal besar yang menyebabkan tragedi berkepanjangan di Iraq. “Satu-satunya hal yang positif, adalah lenyapnya Saddam Hussein,” katanya.

SERGEI LAVROV, perwakilan Rusia di PBB

Dia menyebut ambisi AS menyerang Iraq adalah untuk menguasai kekayaan minyak di negeri 1001 malam itu. Lavrov adalah penentang keras Perang Iraq. “Rusia tidak pernah mempertimbangkan perang sebagai alat yang pantas untuk mengatasi isu di Iraq,” ujar Sergei Lavrov.

Bersama Prancis, Rusia menyebut aksi militer yang tidak beralasan itu mencederai hukum internasional dan piagam PBB. Sikap keras untuk memunculkan sentimen lama Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet (yang kini terwakili Rusia).

COLIN POWELL, Menlu Amerika Serikat

Inilah tokoh yang bisa jadi akan menyesal seumur hidup karena menyetujui invasi militer ke Iraq. Dengan dasar foto-foto satelit dan penyadapan pembicaraan antara para pejabat Iraq, dia menyimpulkan bahwa negeri itu memang sedang mengembangkan senjata pemusnah masal. “Banyak sumber yang mengatakan bahwa Iraq telah bergerak. Mereka menyembunyikan dokumen terkait WMD dari pemeriksaan tim inspektur PBB,” katanya di awal-awal perang.

Belakangan dia mengakui bahwa tidak semua informasi terkait WMD di Iraq, yang diperolehnya benar. Dia akhirnya memilih mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Menlu AS pertengahan 2004.

Setahun kemudian dia membuat pernyataan bernada penyesalan telah menyetujui dan mendukung Perang Iraq. Dia menyebut langkahnya itu sebagai noda dalam kehidupannya. “Itu akan menjadi bagian dari catatan (buruk) saya,” katanya.

GEORGE W BUSH, Presiden Amerika Serikat

Bush berdalih memiliki tiga alasan untuk menyerang Iraq. Pertama melucuti WMD, mengakhiri dukungan Saddam Hussein terhadap terorisme, dan membebaskan rakyat Iraq. Ketika alasan itu dikemas dalam perang antiterorisme setelah serangan 11 September 2001.

“Kami tidak akan menunggu apa yang akan dilakukan teroris atau negara teroris selanjutnya dengan senjata pemusnah masal,” ujarnya Maret 2003. Bush memang memasukkan Iraq sebagai negara pendukung terorisme internasional.

Bersama Menteri Pertahanannya Donald Rumsfeld, Bush yakin bisa dengan cepat menyelesaikan perang tersebut. Bahkan keduanya yakin akan selesai dalam waktu tidak lebih dari setengah tahun.

Ketika memasukkan tahun ketiga, dan Perang Iraq tidak juga menunjukkan tanda-tanda berhenti, makin banyak yang meragukan kepemimpinannya. Tidak sedikit yang membandingkan Perang Iraq dengan Perang Vietnam, yang mencoreng AS sebagai negeri adidaya di tahun 1970-an.

Telanjur basah, Bush mengirimkan pasukan tambahan ke Iraq sebanyak 20.000 personel. Meski begitu dia tetap yakin bahwa keputusannya menyerang Iraq adalah keputusan yang benar. “Keputusan ini adalah keputusan tepat pada awal pencalonan saya, menjadi keputusan yang tepat pada masa kepresidenan saya, dan akan menjadi keputusan yang tepat selamanya,” katanya mengabaikan fakta-fakta di lapangan.

TONY BLAIR, Perdana Menteri Inggris.

Mengekor dalih Bush, Blair menyebut Perang Iraq adalah cara tepat mengendalikan senjata pemusnah masal. Dia berhasil meyakinkan parlemen untuk mendukung invasi militer ke Iraq.

Di sisi lain, keputusannya itu merusak keutuhan kabinetnya. Itu ditandai dengan pengunduran tiga menteri penting dan strategis. Belakangan terbukti, data-data intelijen yang melandasi keputusan mendukung invasi itu ternyata cacat dan memiliki kesalahan yang tidak termaafkan.

Sampai dia menyelesaikan masa jabatannya sebagai Perdana Menteri Inggris, Blair bersikukuh pada keputusannya tersebut. Meski di dalam negeri, dia terus mendapat hujatan.

JOSE MARIA AZNAR, Perdana Menteri Spanyol

Spanyol, yang saat itu menjadi anggota tidak tetap DK-PBB langsung mengekor AS dengan mendukung invasi militer ke Iraq. “Tidak ada yang lebih berbahaya dari pemimpin politik yang membangun istana di awang-awang. Dan saya yakin pemimpin politik yang membangun harapan palsu dan tidak melihat dunia seperti keadaannya, justru akan menyusun kegagalannya,” ujar Aznar mengacuh pada Saddam Hussein.

Maret 2003, dia terlibat dalam pertemuan kunci untuk menyusun rencana invasi ke Iraq bersama Presiden Bush dan PM Blair di Azores. Dia mengabaikan protes besar-besar di dalam negerinya, yang menolak pengiriman pasukan Spanyol ke Iraq, Agustus 2003.

Ujungnya, dia kalah dalam pemilihan umum 2004. Tiga tahun kemudian, dia menyatakan baru menyadari kesalahannya. “Seluruh dunia berpikir, Iraq memiliki senjata pemusnah massal dan ternyata mereka tidak memiliki. Saya (baru) tahu sekarang. Waktu itu saya tidak tahu, karena memang tidak ada yang tahu,” katanya. (BBC/erm/ruk)


Responses

  1. kolektor manuskrip


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: