Oleh: apit | Februari 29, 2008

Korvet TNI-AL; Sinyal Siaga Badik Hasanuddin

KRI Hasanuddin (GATRA/G.A. Guritno)Lepasnya Pulau Sipadan-Ligitan dari pangkuan Ibu Pertiwi adalah sebuah tragedi. Setelah bertahun-tahun terjadi baku klaim, akhirnya Pengadilan Internasional di Den Haag, Belanda, memutuskan kedua pulau itu sebagai milik Malaysia, pada 2003. Sampai di situ, urusannya beres. Tapi, bagaimana dengan hak atas perairan di sekitarnya? Itu yang masih menjadi sengketa.

Maklum, di perairan itu terkandung minyak dan gas. Militer Malaysia secara provokatif melakukan patroli, termasuk di kawasan Ambalat, perairan yang selama ini diklaim sebagai milik Indonesia. Nyaris saja terjadi insiden. Mengapa mereka begitu provokatif? Mereka mengetahui, kekuatan laut Indonesia tidak seberapa.

Situasi buruk itu dijawab dengan pengadaan kapal-kapal perang baru di jajaran TNI Angkatan Laut (AL). Kini TNI-AL menambah armada lautnya dengan empat unit kapal korvet baru kelas SIGMA (ship integrated geometrical modularity approach). Yang pertama, KRI Diponegoro-365, diluncurkan dari pabrik Schelde Naval Shipbuilding (SNS) di Vlissingen, Belanda, pada 3 Juli lalu. Serah terima KRI ini pada waktu itu diteken oleh Kepala Staf TNI-AL Laksamana Slamet Soebijanto dan Admiral J.W. Kelder dari Angkatan Laut Kerajaan Belanda.

Pembelian empat korvet itu dilakukan secara bertahap. Januari 2004, Indonesia memesan dua unit ke Vlissingen. Mei 2005, dua unit lainnya dipesan, meski dokumen kontraknya baru diteken pada Januari 2006. Pilihan TNI-AL jatuh pada jenis korvet, kapal perang ukuran kecil, karena pengoperasiannya lebih fleksibel dan bisa diproduksi dalam waktu relatif cepat.

Ketika baru dilantik sebagai Kepala Staf TNI-AL, menggantikan pejabat lama Laksamana Slamet Soebijanto, Laksamana Sumardjono menyatakan bahwa untuk melindungi wilayah perairan RI, idealnya TNI-AL memiliki kurang lebih 270 KRI. Namun, karena keterbatasan anggaran, pilihannya jatuh pada korvet kelas SIGMA.

Menurut pihak pabrikan, Schelde, konsep SIGMA memungkinkan pemakai menyesuaikan desain kapal dengan kebutuhan operasionalnya. Ia bisa menjalankan tugas patroli pantai, korvet, dan frigat ringan. Desainnya bisa disepadankan dengan karakteristik operasi dan daya gempurnya, selain lebih murah.

Schelde menyatakan, sebagian besar biaya tidak dialokasikan untuk tampilan luar, tidak pada struktur kerangka, dek dalam, dan kompartemen, melainkan lebih pada pengaturan internal dan kepadatan perlengkapan. Nah, pada SIGMA, kekurangan itu diimbangi dengan fleksibilitas perlengkapan, kemudahan mendapat suku cadang, dan kepraktisan dalam pemeliharaan, tanpa mengurangi kemampuan operasionalnya.

Di antara seluruh angkatan laut dunia, TNI-AL adalah pemilik pertama kelas SIGMA. Setelah menempuh perjalanan selama 40 hari, KRI Diponegoro-365 merapat di Dermaga 115 Tanjung Priok, Jakarta, 31 Agustus lalu. Menyusul kemudian pesanan kedua, KRI Hasanuddin-366, tiba dari “negeri kincir angin” itu di Pelabuhan Belawan, Medan, pada 23 Januari lalu.

KRI Hasanuddin-366 selanjutnya menemani kakaknya, KRI Diponegoro-365, memperkuat Komando Armada RI Kawasan Timur yang berpangkalan di kota Surabaya. Dalam perjalanannya ke Surabaya, 31 Januari pekan lalu, TNI-AL mengajak sejumlah wartawan, termasuk Gatra, untuk bergabung dan melihat dari dekat kemampuan yang dimiliki kapat terbaru TNI-AL itu.

Bertolak dari Dermaga Tanjung Priok tepat pukul 15.00 WIB, molor lima jam dari rencana, kapal pun dipacu kencang 24 knot. Bahkan beberapa kali melakukan manuver dalam kecepatan 27 knot, sekitar 45 kilometer per jam, kurang 1 knot dari kemampuan kecepatan maksimumnya.

Uji coba kecepatan itu berkat “pesanan” mantan petinggi TNI-AL bintang empat Arief Kusharyadi dan bintang dua Ardius Zainuddin, serta Kepala Pelaksana Harian Badan Koordinasi Keamanan Laut, Laksamana Madya Djoko Sumaryono, yang ikut dalam pelayaran tadi. Bagi pelaut sejati, konon, merasakan deburan ombak dan empasan angin laut di atas kapal perang menjadi semacam candu yang tidak bisa hilang dari tubuh.

Wartawan juga diajak menjelajahi beberapa ruang, dari palka, ruang mesin, ruang kesehatan, sampai ruang kendali operasi. Di ruang kendali operasi yang terbilang rahasia inilah kami melihat kemampuan yang dimiliki KRI Hasanuddin. Komandan Satuan Tugas Penyebarangan KRI Hasanuddin-366, I Gusti Kompiang Aribawa, menyatakan bahwa rakyat perlu mengetahui kemampuan kapal ini karena korvet ini sesungguhnya milik rakyat.

“Yang tak bisa dibocorkan ialah operasional pemakaian dan strategi tempurnya,” kata I Gusti Kompiang. Di ruang kendali operasi, tampak beberapa layar monitor. Sebuah layar dengan bantuan kamera optikal mampu menangkap objek kapal dari jarak 2 meter sampai 10 kilometer. Menurut Mayor Dwi Cahyo, Kepala Departemen (Kadep) Elektro, kapal ini memiliki kemampuan peralatan anti-serangan udara, anti-kapal atas air, dan anti-kapal selam. “Oleh sebab itu, secara prinsip memiliki kemampuan untuk melacak dan mengenali objek di udara, di atas permukaan laut, dan di dasar laut,” katanya.

Untuk pengindraan jarak jauh, Mayor Salim, Kadep Navigasi, menyatakan bahwa kapal itu dilengkapi sistem sensor dan radar dengan kemampuan akurasi lacak yang tinggi. “Kapal lain yang berjarak 16 kilometer dan pesawat udara bejarak 105 kilometer bisa diidentifikasi,” ujarnya. Untuk objek kapal, misalnya, Mayor Salim mengatakan bahwa posisi, jarak, kecepatan, arah kapal, dan status kapal bisa diidentifikasi dengan cepat. Dalam kondisi tempur, peralatan perang dapat melakukan tugas secara otomatis, karena dilengkapi sensor senjata pengarah alokasi objek dan melakukan penguncian objek.

Kalau kapal generasi terdahulu masih anolog, empat KRI terbaru itu sudah memakai sistem kontrol senjata elektronik terintegrasi digital. Sistem ini terhubung dengan beberapa jenis senjata yang dibawa, seperti rudal anti-kapal permukaan Exocet MM 40 dan rudal anti-udara Tetral. Sedangkan meriam utamanya adalah Oto Melara Super-Rapid 76 mm, dengan kemampuan tembak 130 butir peluru per menit.

KRI Hasanuddin juga memiliki tiga peluncur torpedo anti-kapal selam, masing-masing di kiri dan kanan geladak kapal. Kapal kelas SIGMA ini pun dilengkapi dua sekoci cepat dan mampu membawa serta mengisi bahan bakar helikopter dengan berat maksimal 5 ton di dek belakang. Untuk saat ini, rudal Exocet dan torpedo belum terpasang. Namun, paling lambat tahun 2009, semua kapal SIGMA akan dipersenjatai secara lengkap seiring dengan kehadiran dua kapal SIGMA berikutnya, KRI Sultan Iskandar Muda-367 dan KRI Frans Kaisiepo-368.

Laksamana Madya Djoko Sumaryono menyatakan, kehadiran korvet kelas SIGMA terbaru itu jelas akan menambah kemampuan patroli TNI-AL. Laut tidak bisa dikuasai sepenuhnya, tapi dapat dikendalikan secara terbatas. Ancaman di laut pun makin beragam, dari soal kedaulatan sampai kejahatan ekonomi. “Tentu KRI-KRI baru ini bisa memberi sinyal kepada negara lain bahwa kita mampu di laut,” katanya.

Secara terpisah, di depan perwira pertama yang membawa KRI Hasanuddin dari Vlissingen ke Surabaya, Djoko mengharapkan agar amanat pertahanan rakyat kepada TNI-AL dijawab dengan penguasaan dan updating teknologi secara terus-menerus. Suatu saat, Djoko menambahkan, jika sudah lengkap, kapal-kapal baru itu akan mampu menjadi alat pertahanan yang mumpuni. Betul, Komandan, jangan sampai Ambalat mengulang kasus Sipadan-Ligitan!

G.A. Guritno
[Nasional, Gatra Nomor 13 Beredar Kamis, 7 Februari 2008]


Responses

  1. sekedar curhat…bukannya dari awal pembelian kapal SIGMA dari MENEER belanda ini bermasalah yak? pertama galangan pembuat kapal ini sudah hampir bangkrut dan berkat orderan dari kitalah mereka bisa survive (dewa penolong kah ? mmmm…berbau uang komisi untuk beberapa makelar alutsista dengan jumlah HEPENG yang tidak sedikit neeh keknye ),spec kapal tidak sesuai dengan keinginan dan kebutuhan TNI-AL,persenjataan minim atau sengaja dikurangi.. bayangin missile pods untuk exocetnye kosong ! ,SAM nye cuman MISTRAL ! ampuun bebi…dan yang lebih heboh +/-2 trilyun uang rakyat digunakan untuk beli kapal ini (2 biji apa satu yak lupa gw)..hal ini bukan yang pertama kali loh sudah banyak kasus MAKELAR dan uang komisi gelap telah terjadi….contoh lagi tahun 2008 skandal pembelian sistem SHORAD TD-2000 buatan RRC +/-300 juta dollar cuman dapet 2 unit gokilll abisss!!! perlu akuntanbilitas dan pertanggung jawaban dalam hal pembelian ALUTSISTA jangan sampai TNI+rakyat (gw bayar PAJAK masalahnya) yang dirugikan dan untuk anggota HEWAN di senayan weiii jangan sering MOLOR,studi banding ama makan duit rakyat !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: