Oleh: apit | Februari 16, 2008

Fiksi Sejarah; Obat Dahaga Rumah Ketidakpastian

Deretan Novel Berbasis Sejarah; Bermanfaat untuk Membangun Kesadaran Sejarah (GATRA/Wisnu Prabowo)Lampu-lampu sudah dimatikan di MP Book Point, Jalan Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Kursi-kursi telah pula disingkirkan dari meja-meja Kafe Saqi, di halaman belakang toko buku itu. Namun, di bawah sebuah tenda remang di tepi kolam, lima orang sisa peserta diskusi buku In Cold Blood karya Truman Capote masih berbincang. Diskusi buku itu telah berlalu hampir setengah jam sehabis ditutup pukul 21.00, Rabu dua pekan lalu.

Gangsar “Kris” Sukrisno, sang sahibul hajat, lalu memperlihatkan sebuah buku bersampul tebal warna hijau pupus. Dari warna kertasnya yang kekuningan dan aromanya yang khas, buku itu tampak sudah berumur. “Sampeyan tahu Barli?” kata Chief Executive Officer Penerbit Bentang Pustaka itu tiba-tiba.

Yang ditanya seperti saling menunggu. “Almarhum pelukis terkenal dari Bandung itu, kan?” akhirnya salah seorang menjawab. Kris lantas membuka-buka halaman buku itu. “Percaya nggak, ilustrasi buku ini dibuat oleh Barli,” ujarnya.

Sebagaimana tertera pada halaman pertama, buku itu adalah roman sejarah zaman Kerajaan Pajajaran. Judulnya Puragabaya I: Pangeran Anggadipati. Penulisnya, Saini KM –kini lebih dikenal sebagai dedengkot Studi Teater Bandung. Buku itu diterbitkan oleh Penerbit Sanggabuana, Bandung, pada 1976.

“Penerbitnya nggak tahu masih ada apa nggak sekarang,” kata Kris. Malam itu, ia mengabari bahwa buku tua itu akan dipublikasi ulang. Selain Puragabaya I, ia pun melakukan republish novel Dyah Pitaloka, karangan Hermawan Aksan.

Tapi Kris mengganti subjudul buku yang dicetak perdana pada Desember 2005 itu. Semula novel itu bertajuk Dyah Pitaloka: Senja di Langit Majapahit. Kini judulnya menjadi Dyah Pitaloka: Korban Ambisi Politik Gajah Mada. Judul baru itu, menurut Kris, dibuat untuk menghadapi fiksi sejarah seri Gajah Mada, karangan Langit Kresna Hariadi.

Novel yang dimaksud Kris adalah seri Gajah Mada berjudul Perang Bubat. Kontroversi kedua novel itu adalah pertanyaan: siapa yang lebih dulu memulai peperangan. “Perang Bubat itu kan terjadi karena kesalahpahaman, multitafsir atas peristiwa sebenarnya,” tutur Hermawan, yang wartawan surat kabar Tribun Jabar.

Dalam novelnya, Hermawan menampilkan Dyah Pitaloka, putri Raja Linggabuana dari Kerajaan Sunda-Galuh (Pajajaran), sebagai sosok feminis pada masanya. Ia tak hanya rupawan, melainkan juga cendekia yang pandai berdebat. Lewat lukisan Ki Juru Lukis, kecantikannya sampai pada Raja Majapahit, Prabu Hayam Wuruk.

Singkat cerita, Hayam Wuruk ingin memperistri Dyah Pitaloka. Niat itu disambut baik oleh Pajajaran, yang bermaksud menyambung kembali silaturahmi kedua negeri, yang dianggap berasal dari leluhur yang sama. Meski tradisi calon pengantin perempuan mendatangi pengantin laki-laki tidak lazim, demi silaturahmi tadi, rombongan Dyah Pitaloka berangkat menemui Hayam Wuruk.

Rombongan ini berhenti di Tegal Bubat. Dalam versi Hermawan, Linggabuana ingin Hayam Wuruk menjemput calon istrinya. “Sudah merendahkan diri, masak nggak dijemput?” kata lelaki asal Brebes, Jawa Tengah, itu.

Tapi Hermawan tidak menempatkan Hayam Wuruk sebagai tokoh yang layak divonis bersalah. Biang keladinya justru ambisi Gajah Mada. Mahapatih Kerajaan Majapahit itu telanjur mengucapkan Sumpah Palapa, janji untuk tidak menikmati kemewahan sebelum menyatukan Nusantara.

Sedangkan Kerajaan Sunda-Galuh tak kunjung ditaklukkan. Demi ambisinya, Gajah Mada ingkar janji. Bagi dia, Dyah Pitaloka tak lebih dari upeti. Bukan lagi calon permaisuri Prabu Hayam Wuruk sebagaimana diperjanjikan. “Hayam Wuruk tidak berani menolak Gajah Mada,” Hermawan menambahkan.

Dalam Perang Bubat versi Langit, rombongan Prabu Linggabuana tersinggung dan angkat senjata. Peperangan yang menewaskan seluruh rombongan Pajajaran tak bisa dihindari. Itulah yang selalu menuai kritik setiap Langit mendiskusikan bukunya di Bandung.

Faktanya sendiri, menurut Hermawan, sulit diungkap. Sebab Perang Bubat bahkan tak tercantum dalam kitab Desawarnana (yang kemudian disebut Nagarakertagama), yang berkisah tentang perjalanan Prabu Hayam Wuruk. Teks itu juga berisi wilayah-wilayah yang menjadi daerah penaklukan Majapahit. Namun Sunda dan Madura tidak disebut-sebut di sana.

Sumber yang bisa dijadikan rujukan mengenai adanya perang tersebut justru terdapat dalam Kidung Sunda dan Kidung Sundayana yang berasal dari Bali. Hermawan juga merujuk pada naskah Wangsakerta yang berisi kisah kerajaan-kerajaan di Nusantara. Namun naskah yang ditemukan di Cirebon pada 1970 itu pun kontroversial karena dianggap aspal alias asli tapi palsu. Secara fisik maupun cara bertuturnya, naskah itu tidak seperti dibuat pada abad ke-17.

Sekalipun menuai kecaman di tatar Sunda, Langit mengaku tidak mau merujuk pada sumber yang meragukan. “Riset luuuar biasa minta ampun,” katanya, tegas. Ia bercermin pada kekeliruan yang dibuatnya dalam novel Gajah Mada 1. “Banyak salahnya,” lelaki kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur, 24 Februari 1959, itu sembari terkekeh. Penyebabnya, ketika menulis Gajah Mada 1, ia hanya mengandalkan ingatan tentang dongeng masa kecilnya.

Karena itu, kini Langit mengacu pada naskah-naskah yang sudah diolah oleh akademisi sejarah. “Sekelas profesor atau doktor,” ujarnya. Alasannya, kualitas tulisan mereka teruji secara ilmiah. Sedangkan Nagarakertagama, Pararaton (Kitab Raja-raja), dan beberapa kidung hanya merupakan sumber pelengkap.

Perang Bubat sendiri merupakan buku keempat dari lima novel seri Gajah Mada yang ditulis Langit. Sebenarnya judul asli novel jilid I yang semula tidak diniatkan berseri itu adalah Dwaja Bhayangkara. Itu pun pada mulanya sempat berulang kali ditolak penerbit. Akhirnya naskah itu tiba di tangan Penerbit Tiga Serangkai, Solo. Sehabis satu tahun ngendon di penerbit, buku itu keluar dengan judul Gajah Mada pada 2003.

Tiga bulan kemudian, Langit ditelepon. “Saya diminta melanjutkan karena best seller,” katanya, sumringah. Padahal, ketika itu ia sudah membukukan sejumlah roman bertema masa kini, baik yang ditulis atas nama sendiri maupun dengan nama samaran Amurwa Pradnya Sang Indraswari.

“Tetapi kena kutukan 3.000,” ujar Langit. Maksudnya, setelah dicetak 3.000 eksemplar, buku itu tidak pernah dicetak ulang.

Gajah Mada bernasib baik. Sukses novel pertamanya membiakkan kisah heroik itu menjadi pentalogi. Maka, lahirlah Gajah Mada: Antara Tahta dan Angkara, Gajah Mada: Hamukti Palapa, Gajah Mada: Perang Bubat, dan Gajah Mada: Madakaripura Hamukti Moksa. Meski tebal novelnya tak ada yang kurang dari 500 halaman, buku pertama dan kedua setidaknya telah dicetak ulang hingga lima kali.

Erfan Zaenuddin, dari bagian pemasaran Penerbit Tiga Serangkai, Solo, melihat kehadiran Langit dan Gajah Mada sebagai the right man at the right time. Meski ketika itu sejumlah penerbit menolak karya Langit, Tiga Serangkai melihatnya dari sisi yang berbeda. “Tidak begitu banyak yang menggarap genre ini,” katanya.

Beberapa nama yang pernah berjaya di jalur fiksi sejarah, seperti S.H. Mintarja, Asmaraman Sukowati Kho Ping Kho, Herman Pratikno, atau Widi Widajat, sudah tak terdengar lagi. Bahkan Arswendo Atmowiloto, yang menelurkan serial Panembahan Senopati pada pertengahan 1980-an, telah absen.

Menghilangnya para penulis kawakan dalam rentang waktu cukup panjang itu, menurut Erfan, membuat ruang genre fiksi sejarah menjadi kosong. Di sisi lain, pembaca masih membutuhkan karya-karya sekelas Api di Bukit Menoreh-nya S.H. Mintarja.

Langit, menurut Erfan, punya kemiripan gaya dengan S.H. Mintarja. Membaca karyanya seperti mendengarkan sandiwara radio di masa jayanya pada era 1980-an. “Gaya bertuturnya unik, bikin penasaran,” ujarnya. Kalau sudah ketinggalan sekali, pembaca seakan kehilangan satu mata rantai.

Selain itu, genre fiksi sejarah sejalan dengan visi pendidikan penerbitannya. “Pembaca bisa belajar sejarah tanpa membaca textbook,” Erfan menambahkan.

Dahaga pembaca akan genre fiksi sejarah juga dibuktikan ketika komunitas Balesastra Kecapi –dimotori budayawan Radhar Panca Dahana– menggelar survei tentang sastra dan perang, akhir tahun lalu. Jajak pendapat itu dilakukan dengan menyebar kuisioner pada 100 responden, yang terdiri dari mahasiswa dan profesional penyuka buku sastra.

Hasilnya, 36% responden menganggap perlu membaca karya sastra yang berkaitan dengan perang karena bermanfaat untuk membangun kesadaran sejarah. Selebihnya, membaca “sastra perang” dinilai bermanfaat untuk menambah pengetahuan/wawasan (24%), memahami konflik-konflik dalam perang (15%), mengisi waktu senggang (8%), memahami diri sendiri (8%), mematangkan batin/diri (6%), dan lain-lain (3%).

Lebih dari separuh responden pun menilai, sisi menarik dalam karya “sastra perang” adalah unsur sejarah yang terkandung di dalamnya (53%). Sisanya tertarik karena jalan cerita (15%), tokoh cerita (7%), pesan di balik cerita (18%), dan ketegangan cerita (7%).

Ini juga bisa dijawab dari pengalaman Senopati Pamungkas karya Arswendo Atmowiloto, yang pertama kali terbit pada 1986. Cerita silat dengan setting runtuhnya Singosari dan awal berdirinya Majapahit hingga pemerintahan Jayanagara itu, pada 2003, dicetak lagi dalam satu jilid dengan harga Rp 150.000. “Kini sudah cetakan kedua, masih stabil penjualannya setiap bulan,” kata ed

Sumber: http://www.gatra.com/artikel.php?id=112302


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: