Oleh: apit | Februari 10, 2008

Religi Berbalut Tradisi Jawi


Soeharto Bersama Rombongan Naik Haji ke Arab Saudi (Dok. Setneg/50th Indonesia Merdeka)Beberapa detik sebelum H.M. Soeharto mengembuskan napas terakhir, terdengar suara lirih melafalkan surat Al-Ikhlas. Bibir Pak Harto yang kering itu mengucapkan surat pendek empat ayat Al-Quran yang berintikan tauhid. Bahwa Allah Maha Esa, tempat bergantung segala makhluk, tidak beranak dan diperanak, dan tiada yang setara dengan-Nya.

Keluarga dan perawat memang selalu memperdengarkan kalimat thayyibah, pujian Tuhan, salawat, dan penggalan surat pendek kitab suci ke telinga Pak Harto. Hal itu untuk mengiringi detik-detik sakaratul maut yang bisa hadir sewaktu-waktu. Profesor Quraish Shihab, pakar Al-Quran yang menjadi Menteri Agama pada kabinet terakhir Pak Harto, memberi kesaksian.

Selama menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan, Pak Harto semakin banyak berzikir. “Saya melihat sendiri, ketika beliau sadar, selalu berzikir,” kata Quraish Shihab kepada Gatra. Itu memang kebiasaan yang banyak mengisi waktunya pasca-lengser dari kursi presiden.

Bak nama surat terakhir yang dibaca Pak Harto, sejak mulai dirawat, 4 Januari lalu, menurut Quraish, anak Desa Kemusuk itu terlihat ikhlas bila setiap saat dipanggil Sang Pencipta. Sedari dini ia berpesan tentang mekanisme penguburannya. Bila wafat sebelum lohor, ia minta agar jenazahnya diterbangkan ke Astana Giribangun hari itu juga.

Jika berpulang setelah lohor, Pak Harto meminta jasadnya diinapkan dulu di kediaman Jalan Cendana, Jakarta Pusat. Meski kesadarannya pasang-surut, ketika terjaga Pak Harto selalu berusaha disiplin menunaikan salat awal waktu. Saat Menteri Meutia Hatta menjenguk, 6 Januari, Pak Harto bertanya pukul berapa. Setelah dijawab pukul 12.00, ia segera menunaikan salat lohor.

Mantan Mensesneg Moerdiono menyaksikan, ketika hendak menunaikan salat, Pak Harto, yang tak bisa bangun, minta tidurnya dimiringkan ke arah kiblat. Walau sudah dijelaskan tentang adanya dispensasi cara salat bagi orang sakit, ia tetap bersikeras ingin menghadap kiblat. Perjalanan spiritual pribadi Pak Harto di akhir usianya terkesan pararel dengan kebijakan publiknya pada dasawarsa terakhir berkuasa. Yakni makin dekat dan merangkul Islam.

Secara pribadi, awalnya Pak Harto terkesan penganut Kejawen dan secara politik dinilai negatif pada aspirasi Islam. Pada penghujung 1980-an, citra itu terkesan bergeser. Puncak perubahan sikap pribadinya ditandai dengan berangkat haji sekeluarga, Mei 1991. Sehingga keraguan sebagian kalangan akan keislaman keluarga Pak Harto tersanggah.

Sedangkan pergeseran kebijakan publik ditandai dengan terakomodasinya beberapa agenda Islam politik. Misalnya pengesahan Undang-Undang Peradilan Agama (1989), pembentukan ICMI (1990), dan pendirian Bank Muamalat (1991). Menurut kesaksian beberapa kalangan dekat dan pernyataan langsung Pak Harto, perjalanan religi itu memiliki konteks dan dinamika tersendiri.

Ini dibenarkan oleh Menteri Agama Maftuh Basyuni, yang pernah menjadi Kepala Biro Protokol Istana (1991-1994) dan Kepala Rumah Tangga Kepresidenan (1994-1998). “Pak Harto bukan Kejawen! Saya melihat dasar pemahaman agamanya sudah kuat dan tertanam lama,” kata Maftuh ketika menyaksikan cara salat Pak Harto pada awal 1990-an.

“Kalau orang Kejawen, salatnya masih kaku. Beliau ini sudah lemes,” Maftuh menambahkan. Mulai cara rukuknya, duduk di antara dua sujud, sampai bacaannya tampak sudah terlatih beribadah sejak kecil. “Bahkan beliau selalu salat ‘ala waqtiha, tepat waktu,” ia memaparkan.

Hanya saja, Maftuh memberi catatan, Pak Harto selalu menunaikan salat sendiri di ruang kerjanya. Tidak pernah mengajak, menegur, atau menanyakan stafnya sudah melaksanakan salat atau belum. “Beliau sepertinya melihat salat sebagai kewajiban pribadi. Urusan hamba dengan Tuhannya. Tak perlu demonstratif,” ujar Maftuh.

Maka, meski sudah lima bulan pulang dari berhaji, pada Mei 1991, Pak Harto tidak pernah terlihat mengikuti salat Jumat. Tiap Jumat, ia berkantor di kediaman Jalan Cendana. Ini kebiasaan yang sudah berlangsung tahunan. Sehingga Maftuh yang alumnus Universitas Madinah ini merasa tergerak untuk menawarkan agar Pak Harto mau Jumatan di istana.

“Kami merasa eman, salat beliau bagus, selalu awal waktu. Kami, para staf, sering kalah disiplin, tapi mengapa beliau tak terlihat Jumatan,” kata Maftuh. Bersama ajudan presiden, Kolonel Abdullah Siradj, Maftuh menghadap Pak Harto. Diawali dengan laporan dan pembicaraan ke sana kemari. Seperti biasa, Pak Harto menjadi pendengar yang baik.

Sampailah Maftuh pada pesan inti, “Bapak Presiden, kami, para staf rumah tangga istana, ingin sekali bisa Jumatan bersama Bapak. Sekaligus ngalap barokah.” Ternyata dengan enteng, tanpa berpikir panjang, Pak Harto mempersilakan untuk segera diatur. Mulai pekan kedua Oktober 1991, bila sedang di Jakarta, Pak Harto selalu Jumatan di masjid istana.

Tampilnya Pak Harto di pentas Jumatan itu menjadi bahan kajian tersendiri di mata para analis politik. Dan dinilai sebagai salah satu isyarat bahwa sang presiden kian Islami. Tapi Maftuh menilai, dari sisi pergolakan batin Pak Harto, sebenarnya ia sudah lama ingin berubah, hanya ragu-ragu.

Bukti lain yang membuat Maftuh yakin Pak Harto bukan penganut klenik adalah terkait ritus rutin pencucian benda pusaka Pak Harto tiap bulan Syuro. Sejak Sudjono Hoemardani, asisten pribadi Pak Harto, meninggal pada 1986, tak ada lagi praktek pencucian benda pusaka.

“Kok, sekarang pusaka tidak dicuci lagi, Pak?” tanya Maftuh. “Kalau kamu mau, ya, cuci saja,” jawab Pak Harto, ringan. Rupanya, upacara cuci pusaka selama ini hanyalah inisiatif Sudjono, dan Pak Harto mendiamkan. “Biar Sudjono senang saja, bikin senang orang kan berpahala,” ujar Pak Harto. Menurut Maftuh, yang kental nilai Kejawen sebenarnya Ibu Tien Soeharto. Misalnya, suka menabur bunga di pojok tertentu.

Adik tiri Pak Harto, Probosutedjo, menilai koleksi benda pusaka di rumah Pak Harto juga sekadar motif budaya. “Karena bentuknya indah, bukan karena mempercayai ada tuahnya. Pak Harto nggak percaya yang gitu-gituan,” kata Probo kepada Dwitri Waluyo dari Gatra.

Dalam otobiografinya, terbitan 1989, Pak Harto pernah menyangkal persepsi publik tentang Sudjono Hoemardani yang seolah guru kebatinan Pak Harto. “Sangkaan itu tidak benar,” katanya. Sudjono memang suka mendatangi Pak Harto, membawa buku berisi tulisan. Sudjono menganut kepercayaan tertentu dan sering menyampaikan saran.

“Saya terima saja sarannya untuk menyenangkan hatinya. Tidak saya telan begitu saja,” kata Pak Harto, mirip jawaban kepada Maftuh. “Saya analisis. Saya pertimbangkan apakah rasional atau tidak. Jika rasional, masuk akal, saya terima. Jika tidak, tentu tidak saya pakai.” Soal kebatinan, justru Sudjono banyak bertanya kepada Pak Harto.

Ia membedakan ilmu kebatinan dan klenik. Tujuan ilmu kebatinan, untuk mendekatkan batin kepada Tuhan. Yakni ilmu kasunyatan (falsafah hidup), ilmu sangkan paraning dumadi (asal dan tujuan penciptaan), dan ilmu kasampurnaning hurip (kesempurnaan hidup). “Itulah ilmu kebatinan yang sebenarnya. Orang kadang salah kaprah, mengira ilmu kebatinan itu ilmu klenik,” katanya.

Ilmu klenik, kata Pak Harto, adalah ilmu kanuragan. Ilmu untuk kesempurnaan hidup, tapi batinnya tidak didekatkan pada Tuhan. Hanya bersifat fisik, seperti biar kebal senjata dan punya kekuatan lebih. “Itu juga ilmu, tapi hanya untuk kekuatan badan. Bukan untuk kekuatan batin,” ujarnya.

Yang bisa berhubungan dengan Tuhan, kata Pak Harto, bukan fisik kita, melainkan batin kita. Kapan saja kita bisa mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam batin pun sudah cukup, karena Tuhan Mahatahu. “Tanpa perlu berteriak-teriak,” katanya. Ini tampaknya yang melatari pandangannya bahwa salat lebih sebagai urusan pribadi dengan Tuhan. Tak perlu demonstratif.

Jauh-dekatnya Tuhan, tulis Pak Harto, tergantung keyakinan kita. Tuhan jauh bagi orang yang tidak berusaha mendekat. Tuhan dekat bagi orang yang bersikeras mendekat. “Bukan Tuhan yang menjauhi, melainkan manusia sendiri,” ujarnya. Apa yang disebut ilmu kebatinan model ini mirip tradisi tasawuf dalam Islam.

Pada bagian lain otobiografinya, Pak Harto menjelaskan, ia pertama menyerap dasar-dasar kebatinan dari mubalig agama terkemuka di Wonogiri bernama Kiai Darjatmo, ketika ia baru di sekolah lanjutan rendah (schakel –tingkat SMP). Selain mubalig, Kiai Darjatmo dikenal sebagai tabib peramu obat tradisional dan peramal.

Di Wonogiri, Soeharto remaja tinggal di rumah kolega ayahnya, Pak Hardjo, pensiunan pegawai kereta api, pengikut Kiai Darjatmo. Pak Harto sering diajak mendengarkan tanya-jawab agama antara Pak Hardjo dan Kiai Darjatmo. “Saya bisa meresapkan filsafat hidup Kiai Darjatmo. Saya juga mendengarkan penjelasan isi Al-Quran. Saya mendapatkan pengertian apa itu samadi dan apa itu kebatinan,” kata Pak Harto.

Jadi, ilmu kebatinan yang ia anut berakar pada Islam. Di langgar Kiai Darjatmo, Pak Harto mengaku banyak belajar agama dan kepercayaan. Ia mendengarkan langsung nasihat-nasihat Kiai Darjatmo pada berbagai strata masyarakat: orang terpelajar, pedagang, pegawai, petani, sampai bakul (pedagang kecil).

Gara-gara ketentuan baru, murid harus pakai celana pendek dan sepatu, yang tak mampu ia beli, Pak Harto terpaksa meninggalkan schakel di Wonogiri dan kiai idolanya itu. Ia kembali ke Kemusuk, kampung kelahirannya di sebelah barat Yogyakarta. Ia meneruskan sekolah di schakel Muhammadiyah Yogyakarta, karena di sana tak wajib pakai celana dan sepatu. Pakai sarung pun boleh.

Sebelumnya, saat masih di sekolah rakyat (tingkat SD), Pak Harto sudah mengenyam dasar agama. Ia dititipkan pada keluarga Prawirowihardjo, pamannya (adik ipar ayah Soeharto). “Saya mendapat pendidikan agama yang cukup ketat, karena keluarga paman saya terbilang tebal ketaatannya pada agama,” tulisnya.

Sore hari ia belajar mengaji di langgar. “Sering semalam suntuk berada di langgar bersama teman sepengajian,” katanya. Ia bergabung dengan kepanduan milik Muhammadiyah, Hizbul Wathan (Partai Tanah Air). Sang paman banyak memberi latihan spiritual, seperti puasa tiap Senin dan Kamis dan tidur di tritisan (emperan rumah).

Semua anjuran itu dilaksanakan dengan tekun dan penuh keyakinan. “Saya ditempa mengerti filsafat hidup yang berlaku: agama dan tata cara hidup Jawa,” tutur Pak Harto. Dalam soal keimanan Pak Harto, rupanya Quraish Shihab sepakat dengan Maftuh Basyuni bahwa religiusitas Pak Harto belakangan ini adalah ekspresi pemahaman agamanya yang mendalam.

Bukan sekadar euforia karena baru kenal agama atau semata dorongan akomodasi politik. “Mungkin dasar agama saat sekolah di Muhammadiyah dulu baru optimal berpengaruh setelah beliau lengser,” kata Quraish. Penghayatan demikian justru efektif membantu ketegaran Pak Harto dalam menyikapi hujatan.

Ia sering mendiskusikan berbagai tema agama dengan Quraish, yang dipercaya mengelola Masjid At-Tiin, peninggalan Ibu Tien. Diskusi mulai tema kekhusyukan salat, tingkat ketakwaan, hingga zikir. Tiap hari, ia selalu bangun sebelum subuh untuk tahajud.

Sebagai pejabat publik, konteks politik yang berkembang ketika berkuasa tidak bisa diabaikan begitu saja pengaruhnya pada ekspresi religiusitas Pak Harto. Disertasi Bahtiar Effendy di Ohio State University (1994) dan tesis M. Syafii Anwar di Universitas Indonesia (1995), misalnya, juga membuktikan adanya argumen sosial politik yang kuat mempengaruhi sikap keagamaan Pak Harto yang berdimensi publik.

Pak Harto masih trauma pada isu Piagam Jakarta yang menuntut pemberlakuan syariat Islam bagi pemeluknya. Diakui dalam otobiografinya bahwa itu bisa mengancam NKRI. Ditambah bayangan aspirasi negara Islam yang dituntut DI/TII. Pada dua dekade pertama Orde Baru, orang Islam yang rajin beribadah mudah diidentikkan dengan eksponen Islam politik yang berideologi teokrasi. Bisa jadi, karena iklim itu pula, sewaktu menunaikan salat pun, Pak Harto masih “sembunyi-sembunyi”, walau sudah haji.

Namun dinamika politik berikutnya “memaksa” Pak Harto untuk mengakomodasi kekuatan politik Islam. Dan ia makin berani terbuka menampilkan kesalehan pribadinya sebagai muslim. Soal menguatnya religiusitas Pak Harto karena motif politik atau kesadaran yang tulus, Quraish Shihab berkomentar, “Ikhlas atau tidak, hanya Allah yang tahu. Kita hanya menilai di permukaan.”

Secara kasatmata, kata Quraish, Pak Harto telah banyak melaksanakan program yang bermuatan agama. Misalnya, pembangunan masjid Amal Bakti Muslim Pancasila yang sampai November 2007 tercatat 965 unit dari target 999 unit pada 2009. Masjid terakhir nanti direncanakan diresmikan langsung oleh Pak Harto.

Tapi Tuhan punya rencana lain. Pak Harto sudah dipanggil oleh sangkan paraning dumadi, tempat asal dan kembalinya manusia, yang ia pelajari sejak remaja dari Kiai Darjatmo. Terhadap orang yang sudah meninggal, Quraish mengutipkan hadis Nabi, “Selalu ingatlah kebaikan orang yang sudah mati!”

Asrori S. Karni
[Laporan Utama, Gatra Nomor 12 Beredar Kamis, 31 Januari 2008]


Responses

  1. > Artikel di blog ini sangat bagus dan berguna bagi para pembaca. Agar lebih populer, Anda bisa mempromosikan artikel Anda di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersediaa plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

    http://infogue.com
    http://infogue.com/seni_budaya/religi_berbalut_tradisi_jawi/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: