Oleh: apit | Februari 7, 2008

Wudhukah kita?

Oleh: Shubhan Hafidz

Lebih tepat sebenarnya judul di atas ditujukan untuk diri saya sendiri. Yang sampai setua ini masih saja dibingungkan dengan format wudhu yang terbaik. Dulu, dengan alasan disiplin pesantren yang membuat kita harus melaksanakan segalanya serba cepat, memaksa saya meringkas wudhu dengan hanya membasuh muka, telapak tangan hingga siku, mengusap kepala, telinga, dan membasuh kaki. Kok telinga? Ketika itu saya menyadari bahwa yang saya lakukan adalah membasuh yang wajib, tapi saya lupa jika membasuh telinga adalah sunnah. Kemudian saya beralasan, lebih baik ada satu sunnah daripada tidak sama sekaliJ. Ternyata kebiasaan itu berlanjut sampai sekarang, walau saya sudah jauh dari disiplin pesantren. Beberapa hal ini lah yang membuat saya tertarik untuk “hanya” ingin meneropong wudhu dari sekian banyak pembahasan dalam bab thaharah. Mohon izin kortingnya dari teman-teman…

Thaharah dan Urgensinya

“Jika ingin pulang ke hatiku, maka bukalah dengan kuncinya” begitupun dengan shalat. Jika ingin melaksanakan shalat, kamu harus memiliki kuncinya yaitu thaharah [bersuci].

Nabi bersabda: مفتاح الصلاة الطهور

“Kunci shalat adalah bersuci (wudhu).” (HR Abu Daud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari hadits Abu Said, dan disahihkan al-Albaniy dalam Shahih al-Jami).

Dalam merumuskan terminologi Thaharah, Madzhab fiqih yang empat berbeda pendapat. Namu bisa kita simpulkan garis sepakat bahwa Syari’at telah menetapkan thaharah sebagai syarat sahnya shalat. Sedang secara etimologi, thaharah berarti bersih dan suci dari hal yang kotor dan menjijikan secara kasat mata [hissiyyah] atau tidak kasat mata [ma’nawiyyah]. Najis ma’nawiyyah bisa kita fahami dari firman Allah SWT yang menyebut kemusyrikan sebagai najis انما المشركون نجس [At-Taubah: 28]. Sedang yang dimaksud najis hissiyyah yaitu najis yang bisa dihilangkan dengan menggunakan media air seperti berwudhu, istinja, atau mandi besar.

Wudhu, apa dan bagaimana?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ْ

“Hai orang-orang yang beriman , apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki…”(Q.S Al-Maidah:6)

Ayat mulia ini yang mula-mula mewajibkan wudhu sebelum kita melaksanakan shalat. Kemudian didukung beberapa hadits Rasulullah semacam:

لا تقبل صلاة أحدكم إذا أحدث حتى يتوصأ

“Tidak diterima shalat salah seorang dari kalian jika berhadats sampai dia berwudhu.“ (Hadits riwayat al-Bukhariy dan Muslim dari hadits Abu Hurairah)

Secara terminologi, Wudhu adalah Penggunaan air untuk Membasuh beberapa bagian tubuh yang khusus [wajah, kepala, dll] dengan tata cara yang khusus pula.

Untuk melaksanakan ritual ini harus memenuhi beberapa syarat yang terbagi 3 macam:

1] Syarat Wajib: Syarat-syarat yang menjadikan seorang wajib berwudhu dan jika syarat-syarat ini atau sebagian hilang maka wudhu tidak wajib lagi. Diantaranya: Baligh dan telah masuk waktu shalat.

2] Syarat Sah: Syarat yang menjadikan wudhu seseorang tidak sah kecuali setelah menyempurnakan syarat-sayarat ini. Diantaranya: Air harus suci, orang yang berwudhu harus mumayyiz, tidak boleh ada pembatas yang menghalangi sampainya air ke bagian-bagian tubuh yang dibasuh, tidak adanya sesuatu hal yang menyebabkan batalnya wudhu.

Imam Syafi’i menambahkan 3 syarat sah wudhu: a] mengetahui tatacara berwudhu, b] Mampu membedakan mana bagian tubuh yang wajib dibasuh dan mana yang sunnah, c] Berniat, sejak awal ritual sampai selesainya wudhu.

3] Syarat Wajib dan Sah, diantaranya: 1] Berakal, 2] Sucinya wanita dari darah haid dan nifas, 3] Islam, 4] Baligh, dll

Karena Pensyariatan dalam Islam diturunkan melalui jalan dua wahyu, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka seyogyanya kita mengambil penjelasan dari Rasulullah tentang tata-cara peribadatan yang tidak dijelaskan secara gamblang dalam Al-Qur’an. Ada banyak riwayat yang menerangkan tata cara wudhu’ Rasulullah SAW, diantaranya riwayat hadits berikut ini:

Dari Humran ra bahwa Utsman ra meminta dibawakan seember air, kemudian beliau mencuci kedua tapak tangannya tiga kali, kemudian berkumur-kumur, kemudian memasukkan air ke hidung, kemudian mengeluarkannya. Lalu beliau membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh tangannya yang kanan hingga siku tiga kali, kemudian tangan yang kiri demikian juga, kemudian mengusap kepalanya, kemudian mencuci kaki kanannya hingga mata kaki tiga kali, kemudian kaki kiri sedemikian juga, kemudian beliau berkata, “Aku telah melihat Rasulullah SAW berwudhu sebagaimana wudhu’-ku ini. (HR Muttafaq ‘alaihi)

Hadits ini menjelaskan tata urutan wudhu’ Utsman bin Affan yang beliau menyebutnya “begitulah Rasulullah SAW berwudhu”. Namun hadits ini tidak merinci mana yang merupakan wajib dan sunnnah wudhu’.

Nah, Dalam merumuskan hal-hal yang wajib dalam berwudhu, ulama-ulama fiqh berbeda pendapat. Namu bisa dikatakan mereka bersepakat tentang kewajiban membasuh bagian-bagian yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an Al-Maidah: 6 yaitu membasuh wajah, membasuh kedua tangan sampai siku, mengusap kepala seluruhnya atau sebagian, membasuh kedua kaki hingga mata kaki. Adapun perbedaan pendapat mereka berkisar tentang batasan daerah yang dibasuh atau beberapa hukum yang berhubungan dengan ‘pendukung’ wudhu.

Misal 1: Madzhab Hambali dan Maliki berpendapat bahwa yang wajib itu mengusap kepala secara keseluruhan. Hanafi dan Syafi’i berpendapat bahwa yang wajib itu mengusap kepala sebagian, sedangkan mengusapnya keseluruhan hukumnya sunnah. Dan bagi madzhab Syafi’i mengusap sedikit saja termasuk yang sebagian itu. Sedang madzhab Hanafi menjelaskan yang dimaksud sebagian yaitu seperempat luas kepala sesuai dengan ukuran besar telapak tangan.

Misal 2: Madzhab Maliki dan Hanafi berpendapat tertib wudhu tidak wajib akan tetapi sunnah. Jadi boleh saja kita membasuh tangan sebelum membasuh wajah. Sedangkan Madzhab Syafii dan Hambali berpendapat bahwa tertib wudhu wajib, dll.

Perihal Wudhu yang Batal

Hal-hal yang membatalkan wudhu terbagi menjadi dua:

1] Jika ada yang keluar melalui dua jalur kemaluan [qubul dan dubur]. Ada 2 kategori:

a. Hal yang biasa terjadi, ada dua macam. Pertama, membatalkan wudhu namun tidak wajib mandi seperti: buang air kecil, buang air besar, keluar angin kentut, dll. Kedua, membatalkan wudhu dan wajib mandi seperti keluarnya air mani

b. Hal yang tidak biasa terjadi. Seperti keluarnya darah, nanah, batu ginjal yang mengendap disaluran kemih melalu dua kemaluan tadi

2] Selain yang keluar dari dua jalur kemaluan, dengan status sama “membatalkan Wudhu”. Ada 4 macam:

a. Hilangnya akal karena gila atau mabuk.

b. Menyentuh wanita dengan syahwat, begitupun amrodh [kinclong, badhie’, dll]. Jika tidak syahwat, maka tidak membatalkan wudhu. Sebagaimana disebutkan hadits yang diceritakan Aisyah radliyallahu’anha, “Nabi SAW shalat pada suatu malam sementara aku tidur melintang di depan beliau. Apabila beliau akan sujud, beliau menyentuh kakiku. Dan hal ini tidak membatalkan wudhu’ nabi SAW. [HR Bukhari]

c. Menyentuh kemaluan tanpa pembatas. Secara garis besar dalam masalah ini ada dua pendapat. Pertama, Madzhab Hanafi menyatakan menyentuh kemaluan dengan tangan telanjang tidak membatalkan wudhu dengan dalil Rasulullah pernah ditanya seseorang tentang menyentuh kemaluan saat shalat. Nabi menjawab : هل هو الا بضعة منك hadits ini d riwayatkan oleh seluruh Ashabus-Sunan kecuali Ibnu Majah. Pun Ibnu Hibban meriwayatkan dalam kitab shohih-nya. Dan At-Tirmidzi mengomentari hadits ini sebagai yang ter-ahsan dalam babnya. Kedua, menyentuh kemaluan adalah membatalkan wudhu. Pendapat ini diwakili 3 madzhab Syafi’i, Hanafi, Maliki dengan dukungan hadits: من مس ذكره فليتوضأ .

d. Sesuatu yang keluar dari anggota tubuh selain dua kemaluan. Seperti darah ketika terluka atau nanah.

Selain sebagai kunci-nya sholat. Dalam beberapa hadits juga diriwayatkan keutamaan wudhu sebagai alat yang mampu mengusir dosa dalam diri kita. Dengan catatan, jika kita terus berusaha menyempurnakannya. Sabda Rasulullah :

من توضأ فأحسن الوضوء، خرجت خطاياه من جسده حتى تخرج من تحت أظفره

“Barangsiapa berwudhu lalu membaguskannya, maka keluar dosa-dosanya dari jasadnya sampai keluar dari bawah kuku-kukunya.” (Hadits Riwayat Muslim). Semoga kita termasuk diantara mereka yang menyempurnakan wudhunya.

Referensi Utama:

Abdul Rahman bin Muhammad A’wadh AlJaziry, Al-Fiqhu ‘ala Al-Madzahib al-Arba’ah, Dar El-Haitsam press, Cairo


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: