Oleh: apit | Februari 2, 2008

Sumur Pak Harto

“Kehadiran seorang figur dominan dalam situasi kritis dan momen historis yang menentukan,” tulis Lloyd George, “bisa mengubah jalannya peristiwa selama bertahun-tahun, bahkan beberapa generasi mendatang.”

Dengan kejatuhan atau kematianya, pengaruh pemimpin besar tidak serta-merta sirna. Ada gading yang ditinggalkannya: karisma. Ibarat sumur yang mengalirkan energi (kebaikan atau keburukan), karisma tak pernah habis karena diberikan. Ia boleh tertimbun (sementara waktu) oleh gelegak sosial atau histeria massa. Tapi, dalam reformasi yang tak kunjung menemukan orde sosial baru, disertai hilangnya kepercayaan pada janji perubahan, orang mencari juru selamat. Mereka menggali kembali sumur karisma.

Transisi menuju demokrasi adalah fase tergenting dan frustating di ruang tunggu sejarah. Ketika “yang lama” mulai pudar, sedangkan “yang baru” tidak kunjung lahir, publik terombang-ambing di dalam limbo: tertarik ke orbit nostalgia (merayakan masa lalu) atau merentas visi masa depan (konsolidasi demokrasi).

Dalam kegalauan inilah berjangkit virus kekecewaan publik dalam bentuk apatisme dan pesimisme. Hal ini menyusul ketakpastian jagat politik, lambannya pemulihan ekonomi, rapuhnya kepastian hukum, konflik etno-religius, anarkisme massa, manuver avonturir kaum “ronin”, perpecahan pemimpin politik, berjangkitnya neo-KKN, serta melemahnya legitimasi dan efektivitas pemerintahan baru.

Diperlukan kepemimpinan otoritatif untuk memulihkan keyakinan dan kepercayaan publik. Dalam kasus Indonesia, demokratisasi berkembang memenuhi nubuat sinis dari Thomas Carlyle, “Democracy, which means despair of finding any heroes to govern you.” Para pelopor reformasi gagal menjadi pahlawan perubahan karena hasrat kemapanan yang terlampau cepat. Nyaris memenuhi gambaran Hannah Arendt, “Seorang revolusioner (baca: reformer) yang paling radikal pun segera menjadi konservatif setelah revolusi berakhir.”

Konservatisasi kaum reformis mudah terjerat jejaring status quo, membuat batas antara masa lalu dan masa depan jadi kabur. Kepercayaan luntur, pahlawan pudar, dan keyakinan lenyap. Orang kembali berpaling ke sumur karisma. Para pemimpin dengan defisit legitimasi dan reputasi mencoba meraih poin dengan berasosiasi dan berempati pada “pemimpin besar”.

Para elite berebut air berkah dari sumur karisma. Tidak peduli lagi bahwa sumur itu (dilu) mengandung benih “toksid” (racun) kekuasaan, yang dulu ingin mereka bersihkan. Mereka menikmati “Soehartoksikasi”.

Gejala trance ini mendapat peneguhannya dari liputan media pers. Dalam defisit pengaruh, mereka mengalami dahaga atas status, sedangkan kekuatan magis media menganugerahkan status pada seseorang. Ini yang membuat politik pemberitaan terpusat pada drama sakitnya sang pemimpin besar. Intensifikasi terpaan media membuat para pencari status berlomba menjenguk dan mengomentasi Pak Harto.

Dalam setting media, fenomena sakitnya Pak Harto lantas menyediakan arena bagi pertunjukan drama absurd kehidupan. Pesakitan jadi penggugat, penggugat menjadi pemaaf, yang minta dimaafkan tak sudi memaafkan, yang cari jalan tengah memilih jalan tak ada ujung. Semuanya melakoni dunia nyata sebagai panggung sandiwara.

Di dalam panggung sandiwara ini, begitu tipis realitas kebaikan yang disimpan di album memorabilia. Begitu banyak ketakadilan yang dipetieskan di gudang oblivia. Akibatnya, sikap kejiwaan bangsa cenderung meragukan kebenaran dan merayakan ambiguitas.

Padahal, seperti kata Mary Zurbuchen, “Negara-negara yang pernah mengalami represi dan kekerasan dalam skala besar akan mengalami kesulitan untuk mengonsolidasikan penataan pemerintahan baru, kecuali mereka mampu mengambil sikap yang jelas dalam menyelesaian masa lalu.”

Dalam kaitan dengan masa lalu, Barenboim (ahli rekonsiliasi) mengingatkan, “Certain matters require the generosity of forgetfulness, and others demand the honesty of remembrance.” Ada hal-hal yang perlu kelapangan untuk melupakan, dan ada hal-hal yang perlu kejujuran untuk mengingat.

Apa pun penilaian orang atas perilaku dan kebijakan Pak Harto, ia telah memberi andil besar dalam mempengaruhi dan merefleksikan wajah kita sebagai bangsa. Dalam ungkapan bombastis Vatikiotis, “Suharto has done more to shape Indonesian society than any other figures in the country’s history.” Namun perlu segera ditambahkan bahwa Soeharto pun barangkali telah berbuat lebih dalam mewariskan tindak kekerasan, korupsi, dan anti-intelektualisme dibandingkan dengan pemimpin lainnya.

Jejak-jejak kebaikannya tak boleh diruntuhkan dan dilupakan. Harus ada kejujuran untuk menghargainya. Terhadap jejak-jejak keburukannya harus ada keberanian untuk menghapusnya, dengan membiarkan kebenaran menyatakan diri.

Setiap lompatan besar dalam politik indonesia selalu tertawan oleh masa lalu. kebiasaan kita untuk melupakan masa lalu dengan mengulanginya, bukan dengan melampauinya, membuat perilaku politik Indonesia tak pernah melampaui fase kekanak-kanakannya (regressive politics).

Keburukan masa lalu bukan untuk ditutupi, melainkan perlu diungkap, didamaikan, dan dilampaui!

Yudi Latif
Doktor Sosiologi Politik, Direktur Eksekutif Reform Institute
[Perspektif, Gatra Nomor 11 Beredar Kamis, 24 Januari 2008]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: