Oleh: apit | Februari 2, 2008

Gilad Atzmon: Sayonara Zionisme

Bila mengunjungi website ini: http://www.gilad.co.uk, Anda akan tahu bahwa Gilad Atzmon adalah seorang pemusik jazz papan atas di London. Namanya mendunia sejak beberapa tahun terakhir. Tapi website ini tidak akan menjelaskan bahwa Atzmon telah lama larut dalam penderitaan Palestina, dan karena itu dengan kesadaran sendiri melalui telinga batin musik ia harus mengucapkan sayonara kepada zionisme, sebuah pilihan yang semula tidak mudah.

Sekarang, setelah melalui upaya keras, Atzmon telah mahir memainkan musik Arab yang sebelumnya terdengar sangat aneh di telinganya. Saya baru tahu pergumulan batin mantan zionis ini setelah membaca artikelnya yang sangat mengharukan dalam The Palestine Chronicle on-line, awal tahun 2008 ini: “On Music, War and Empathy”. Mengapa artikel ini perlu disimak? Karena ada sesuatu yang dalam di sana. Sebuah nilai kemanusiaan universal telah diungkapkannya dengan bahasa yang jujur, polos, sekalipun harus membongkar borok dan dosa pohon keluarga. Di antara kepolosan itu berbunyi:

“Saya besar di Israel dalam sebuah keluarga zionis agak sekuler. Nenek laki-laki saya adalah seorang veteren teroris karismatik puitik, mantan komandan sayap kanan organisasi teror Irgun. Saya mesti mengakui bahwa ia punya pengaruh dahsyat atas diri saya di masa-masa awal. Kebenciannya terhadap apa saja yang gagal untuk menjadi Yahudi merupakan sebuah inspirasi penting.

“Sebagai veteran teroris sayap kanan, selain bangga sebagai seorang dari suku Yahudi, ia sangat maklum bahwa paham kesukuan tidak akan pernah damai dengan humanisme dan universalisme… bangsa Arab pada umumnya dan Palestina khususnya harus dihadapi tanpa takut dan dengan kekerasan. Sambil mengutip lagu Betar, ia berulang kali mengatakan: ‘Dalam darah dan keringat, kita akan membangun ras kita’… kami memandang dunia melalui teropong rasis dan syofinis.”

Itulah lingkungan psiko-kultural yang membentuk Atzmon, sampai pada suatu hari ia menyatakan talak tiga atas semua kepalsuan itu.

Pernyataan yang tidak kurang beraninya adalah manakala Atzmon rindu pulang kampung, yang teringat bukan Tel Aviv, Haifa, atau Yerusalem, melainkan Palestina yang teraniaya. Sebelum terjadi titik kisar dalam perjalanan batinnya, Atzmon tidak pernah merasa tertarik oleh seruan azan di masjid di bukit-bukit. Nyanyian Ummi Kaltsum, Farid el-Atrash, Abdel Hakim Hafez, yang sering didengarnya, tidak punya pengaruh apa-apa terhadap dirinya.

Tapi, setelah melewati tahun demi tahun, terjadilah perubahan fundamental dalam dirinya, lalu sampai pada pengakuan ini: “Saya mulai menyadari bahwa saya sebenarnya hidup di bumi orang lain. Saya mulai berpendirian bahwa fakta yang menghancurkan yang terjadi tahun 1948, pada saat rakyat Palestina tidak rela pergi, tapi yang sebenarnya berlaku adalah pembersihan etnis secara brutal oleh nenek saya dan teman-temannya. Saya mulai menyadari bahwa pembersihan etnis tidak pernah berhenti di Israel, hanya bentuk dan formatnya yang berbeda.”

Atzmon memberikan contoh paling gamblang tentang Law of Return (Undang-Undang Pulang Kampung) yang sepenuhnya berorientasi rasial. Dalam undang-undang ini, orang Yahudi yang sudah menghilang selama dua ribu tahun boleh saja pulang ke Israel, sedangkan rakyat Palestina yang baru dua tahun pergi tidak boleh lagi pulang ke desanya. Atzmon tidak bisa menerima semuanya ini. Apalagi, ia menyadari bahwa kaum zionis tidak punya hak tinggal di tanah Palestina.

Itulah sebabnya, Atzmon mengasingkan diri secara sukarela untuk tinggal di Eropa, mengembara dalam dunia musik yang telah mengajarkannya kearifan spiritual: “Doktrin keangkuhan ras Yahudi adalah sebuah kepalsuan.” Atzmon banyak belajar pada musik jazz pemusik kulit hitam Amerika. Ternyata di sana terdapat keindahan, kahalusan, kebenaran, dan kemanusiaan universal. Supremasi rasial yang selama ini menipu Atzmon telah dihalaunya dengan penuh keyakinan dan kesadaran, dan tentu dengan segala risiko.

Atzmon, dalam usianya sekarang 45 tahun, sering ditanya oleh media Arab: “Gilad, bagaimana sampai Anda mengamati banyak hal yang gagal dilihat oleh orang Israel?” Jawaban Atzmon adalah seperti berikut: “Memang tidak banyak orang Israel menafsirkan kegagalan etis Israel sebagai sebuah simptom yang melekat (inherent). Selama bertahun-tahun, saya tidak punya jawaban untuk ditawarkan. Tapi baru-baru ini saya menyadari bahwa itu semua mesti terkait dengan saksofon (musik) saya. Musiklah yang telah menentukan pandangan-pandangan saya mengenai konflik Israel-Palestina dan yang telah membentuk kritik saya terhadap jati diri Yahudi.”

Itulah Gilad Atzmon, sahabat kita, yang kini tampil menjadi juru bicara penderitaan rakyat Palestina. Mungkin intensitasnya melebihi kebanyakan orang Arab, bukan?

Ahmad Syafii Maarif
Guru besar Sejarah, pendiri Maarif Institute
[Perspektif, Gatra Nomor 9 Beredar Kamis, 10 Januari 2008]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: