Oleh: apit | Januari 28, 2008

Rekaman 12 Jam Terakhir sebelum Pak Harto Meninggal

Malam Hari Masih Makan Tiga Sendok Bubur
Sampai menjelang kepergiannya, tim dokter kepresidenan berupaya memberikan yang terbaik untuk menyelamatkan Soeharto. Inilah suasana masa-masa kritis pada 12 jam terakhir menuju pukul 13.10, saat penguasa Orde Baru itu mengembuskan napas terakhir.

T.M. BAYUAJI-NUANS S., Jakarta

Minggu (27/1), pukul 13.30, Kapolsek Kebayoran Baru Kompol AKBP Dicky Sondani tampak gelisah di depan lobi gedung Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Sesaat dia berkoordinasi dengan bawahannya. Setelah itu, perwira dengan satu melati di pundak tersebut memanggil para wartawan yang sudah 24 hari memantau perkembangan kesehatan Pak Harto di RSPP.

Hanya dalam hitungan detik, para wartawan pun mengerubungi Dicky. Setelah terdiam sesaat, Dicky mengumumkan berita duka tentang kondisi yang menggemparkan warga Indonesia. “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, telah berpulang ke Rahmatullah mantan presiden kedua kita, Bapak Haji Muhammad Soeharto,” ujar Dicky. Sejenak para wartawan terdiam mendengarkan berita duka itu.

“Almarhum meninggal pukul 13.10 tadi (kemarin, Red). Saat ini kami mengoordinasikan pemulangan jenazah menuju Cendana,” ujar Dicky segera mengakhiri pengumumannya.

Berita meninggalnya Soeharto yang disampaikan Kapolsek Kebayoran Baru itu merupakan klimaks dari jumpa pers tim dokter kepresidenan paginya. Saat itu tim dokter yang diketuai dr Mardjo Subiandono mengatakan, kondisi Soeharto kembali kritis.

Perkembangan yang tiba-tiba itu membuat kaget tim dokter. Sebab, pada Sabtu (26/1) kondisi Soeharto dikabarkan mengalami perbaikan cukup berarti. Tim dokter kepresidenan selama dua hari menyatakan Soeharto sudah stabil, meski masih terbaring di ruang ICU (Intensive Care Unit). “Fluktuasi keadaan beliau selama 24 jam ini sudah jauh berkurang. Beliau cukup stabil,” ujar dr Mardjo saat dihubungi Jawa Pos pada Sabtu pagi.

Bahkan, pada Sabtu pukul 23.00 WIB, anggota tim dokter kepresidenan dr Christian Johanes juga menyatakan Soeharto masih berada posisi stabil. Purnawirawan jenderal bintang lima itu memang sempat mengalami sedikit gangguan pencernaan pada pagi hari. Namun, kata Johanes, setelah itu Soeharto sudah mampu makan bubur yang disediakan tim dokter.

“Sebelum saya pulang tadi, beliau sempat makan bubur. Meski hanya 3 sendok, itu kemajuan,” katanya.

Apalagi, kata Johanes, pada malam itu sang “Bapak Pembangunan” sudah mampu bernapas 100 persen dengan usahanya sendiri. Alat ventilator pun sejak Kamis (17/1) telah dipindahkan dari mulut menuju leher dan hanya terpasang sebagai back up. “Ventilator itu hanya dipasang untuk memasok oksigen. Itu pun kemampuan suplainya (ventilator) juga sudah seperti orang sehat,” ujar Johanes.

Namun, selang beberapa jam kemudian kondisi Soeharto berubah memburuk. Menurut Mardjo, memasuki Minggu (27/1) pukul 01.00, ketegangan atas kondisi Soeharto dimulai. Tiba-tiba dia sesak napas yang diikuti turunnya tekanan darah. “Sesak napas itu terjadi mendadak. Napas beliau menjadi sangat pendek,” ujar Mardjo dalam jumpa pers rutin sekitar tiga jam sebelum meninggalnya Soeharto.

Mengetahui hal itu, tim dokter melakukan upaya bantuan pernapasan melalui ventilator. Untuk mengatasi penurunan kondisi yang drastis itu, tim dokter langsung memberikan supporting ventilator kepada Soeharto sebesar 100 persen.

“Ini karena seluruh organ beliau saat ini (kemarin) mengalami multiple organ failure. Hanya jantung yang masih berdenyut,” kata dr Djoko Rahardjo, anggota tim dokter kepresidenan lain, menambah pernyataan Mardjo.

Pada pukul 03.00 hingga pukul 07.00, kesadaran Soeharto terus merosot tajam. Indikator di CVVHD menunjukkan organ-organ Soeharto benar-benar tidak mampu lagi menerima segala upaya yang dilakukan tim dokter. Tercatat, pada Minggu pukul 07.00, tekanan darahnya hanya mencapai 60/30 mm Hg dan dinyatakan tidak sadarkan diri. “Kami masih mencoba memberikan transfusi darah demi memperbaiki tekanan darah. Kami terus berharap dalam harapan sekecil apa pun,” kata Mardjo.

Namun, usaha tim dokter merawat Soeharto yang sudah memasuki hari ke-24 itu harus berhadapan dengan kuasa Tuhan. Seusai acara jumpa pers yang berlangsung singkat itu, pukul 11.00 tim dokter melaporkan bahwa seluruh respons organ Soeharto pada jam itu negatif. Tim dokter merasa bahwa itulah saat-saat terakhir pria kelahiran Kemusuk, Jogja, tersebut. “Sama sekali tidak ada respons dari organ. Keadaan jantung sangat lemah pada jam itu,” kata dr Christian Johanes saat diwawancarai sebuah media televisi.

Mantan Menko Kesra dan Kepala BKKBN Haryono Suyono menyatakan, menjelang saat-saat akhir tersebut, tim dokter akhirnya memutuskan mengizinkan seluruh keluarga melihat Soeharto. Menurut Haryono, seluruh anak dan cucu Soeharto tampak memenuhi ruang ICU, memandang bapak dan eyang mereka untuk terakhir kali. “Sejak saya datang di atas, seluruh keluarga sudah berkumpul di ruang ICU,” kata Haryono ditemui usai keluar dari kamar perawatan di lantai 5 RSPP.

Menurut Haryono, seluruh keluarga menyatakan kerelaan atas kepergian Soeharto. Dia melihat sejumlah keluarga tak henti-hentinya membisikkan ayat-ayat suci Alquran di telinga Soeharto. “Keluarga sangat ikhlas atas kepergian beliau. Semuanya terlihat sangat tabah,” ujarnya.

Apakah Soeharto meninggal dengan tenang? Haryono dengan spontan menjawab bahwa beliau meninggal dengan sangat tenang. Tidak ada anggota keluarga, termasuk dirinya, yang melihat Soeharto tampak menderita menjelang saat-saat akhirnya. “Alhamdulillah, beliau sangat tenang. Saya juga sangat bersyukur karena itu,” kata Haryono sambil bergegas pergi.

Kondisi kritis menjelang ajal menjemput Soeharto itu juga dirasakan keluarga pasien lain di lantai 5. Menurut seorang wanita yang suaminya menjalani cuci darah, putra-putri Soeharto tampak lalu-lalang dari pintu pantry di ujung lorong tempat Soeharto dirawat. “Mulai tengah malam tadi saya lihat Mas Bambang (Bambang Trihatmodjo), Mas Ari (Ari Sigit) masuk dari pintu itu,” katanya sambil menunjuk pintu pantry.

Pukul 15.00 jenazah Soeharto dibawa pulang keluarga dengan ambulans RSPP langsung menuju kediaman di Cendana. Setelah ditinggal penghuninya, dua kamar yang disewa keluarga mantan presiden itu masih berantakan. Bahkan, di meja tempat membuat kopi di depan kamar presidential suite nomor 536 dan 534 ada gelas-gelas kopi yang masih bersisa.

Dua sekat kayu yang bertuliskan “Maaf pasien tidak boleh dijenguk” juga masih ada di dekat kamar perawatan Soeharto. Sampah plastik dan bunga-bunga mawar, sedap malam, maupun melati berserakan di depan dua kamar itu.

Ketika Jawa Pos melongok ke dalam kamar 536, sisa-sisa obat di botol maupun plastik serta alat-alat bantu pernapasan dan tiang penyangga infus juga masih ada. Ranjang yang sebelumnya ditempati orang kuat di era Orde Baru itu juga masih di tempatnya. Bantal dan guling ditumpuk sekenanya di sofa dekat tempat tidur berseprai biru tua. (el)

Sumber: http://www.jawapos.com/index.php?act=detail&id=9921


Responses

  1. oleh karena itu ingatlah bahwa semua kita pun akan menghadapNya bila Ia sudah memanggil…..

    Berbuatlah amal kebajikan sebanyak-banyaknya agar kita bisa menghadapNya dengan Iklas dan keluarga serta siapapun yang ditinggalkan di dunia fana ini mengenang kebajikan kita dan menjadi suri tauladan bagi semua


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: