Oleh: apit | Januari 5, 2008

Pendidikan dan karakter

Dear Ida,

Menarik sekali tulisan nya. Kebetulan kami (my husband & I) sepaham dengan cara berpikir penulis.

Anak pertama kami (15th) sejak kecil selalu duduk dalam top 5. Kegiatannya lebih focus ke pelajaran (kutu buku) dan sosialnya kurang. Kebanyakan orang tua “happy” sekali lihat anaknya selalu nangkring di top 5. Tidak demikian dengan kami (kata teman teman kita ini Ortu aneh).
Pada saat anak kami berumur 8 th kami memutuskan untuk mengirimnya ke boarding school di Phuket. tentu saja setelah melalui pertimbangan yg matang. Sekolah tersebut merupakan cabang atau satu group dari sekolah di UK yang cukup terkenal dengan metode bagus dan juga disiplin bagus (Dulwich International College). Anak kami tinggal di Surin house bersama sekitar 50 anak lainnya. Semester pertama perubahan mulai terlihat, anak kami mulai bergabung dengan club renang. Nilai akademik tetap menonjol dan tetap tidak bergeming dari top 5. semester berikutnya nilai akademik turun walaupun tetap dalam top 10 tetapi anak kami memimpin group renang dan keluar sebagai pemenang. Selama 3 th berada di boarding school, anak kami menempuh perjalanan pp Phuket-Jkt setiap 5 minggu (status UM) dan mulai terlihat keberanian dalam bersuara. Ketegasannya dalam memutuskan suatu pendapat di dapat dari kehidupan asrama yg notabene membutuhkan kerjasama yg baik dan juga berkat system di asrama tersebut yang mengajarkan agar setiap student dapat secara bergilir memikul tanggung jawab sebagai pemimpin.

Sejak th 2003 kami hijrah ke NZ dan system pendidikan disini yang lumayan unik membuat kami semakin betah. Anak pertama kami masuk di High school 2 th lalu dan karena nilai akademiknya yg tetap menonjol maka pihak sekolah memasukkan anak kami dalam kelas rangking 1. di High School terdapat sekitar 15 kelas untuk umur yg sama dan setiap kelas memiliki nilai akademik yg berbeda. artinya anak yg akademiknya kurang baik tidak akan dicampur dan diharuskan bersaing dengan anak yg akademiknya tinggi. Paham yang di anut adalah, setiap anak mempunyai keistimewaan masing masing dan anak yg matematiknya misalnya selalu merah tidak akan dipaksa bersaing dengan yg matematik nya 9. begitu juga untuk non akademik, yg hebat di sport tidak akan dipaksa menghafal rumus matematika justru di dorong untuk terus berpacu dengan sport dan ikut kompetisi national or international.

Minggu lalu anak kami baru saja menjalani interview yg di sebut “focus career and understanding our dream” setiap anak yg duduk di kelas 10 semester akhir disarankan untuk membuat appointment dengan “career centre” dan dibantu oleh mereka si anak dibimbing untuk memahami apa yang mereka inginkan dan apakah keinginan tersebut akan dapat dicapai atau “will be just a dream”. Interview ini tidak wajib dan tidak setiap anak menggunakan kesempatan tersebut. kembali kepada ortu dirumah ada yg cuek bebek ada yg care. (Kami termasuk yg care dan mendorong anak kami menggunakan fasilitas tersebut). Anak kami selalu memfocuskan impian menjadi pilot fighter (hhhmmmm….) setelah melalui discusi yg panjang antara kami (ortu), pihak sekolah (career centre dan class teacher) serta kemampuan si anak, akhirnya anak kami (semoga) dapat melihat bahwa memfocuskan diri menjadi seorang pilot fighter adalah langkah yg terlalu cepat dan kurang wise. Kemampuan akademik yg tinggi dan ditunjang kegemarannya akan technology (computer, robot etc) akan lebih bermanfaat jika anak kami memfocuskan diri menjadi seorang engineering dalam hal ini bergabung dengan airforce sebagai ground support dan memfocuskan diri untuk mempelajari serta menciptakan technology pesawat yang terbaru. Sebagai seorang yg menciptakan pesawat, otomatis kalau ingin menggeserkan career sebagai seorang pilot fighter tidak akan terlalu sulit. gak susah kan nyopirin produk sendiri (he he he…..)

Anak ke 2 kami sangat bertolak belakang dengan yg pertama. kemampuan akademik boleh dibilang “biasa” saja. tetapi kemampuan sosialnya sangat luar biasa. Jika ke 2 anak tersebut kami ajak ke suatu acara yg notabene tidak ada yg mereka kenal, dalam 5 menit anak ke 2 kami telah mendapatkan teman bermain dan pada saat acara selesai tidak akan heran jika anak ke 2 kami telah mengantongi nama & alamat beberapa kenalan baru. bagaimana dengan anak 1 kami? sampai acara selesai belum tentu anak 1 kami mengenal nama orang yg berdiri disebelahnya.

Jika anak pertama kami focus ke akademik dan “kuliah mendapat degree” adalah wajib (menurut dia lho..) lain halnya dengan anak ke 2 kami, sejak beberapa tahun terakhir urusan “kuliah” buat dia adalah membuang waktu dan dana. Jika kami mendiskusikan masalah sekolah setelah tamat SMA, (ini menyangkut budget dan persiapan dana bagi kami sebagai ortu) maka si kecil dengan tegasnya mengatakan bahwa dia tidak akan menghabiskan waktu dan dana duduk di university hanya untuk mendapat gelar. Si kecil merasa bahwa university bukanlah tempat ideal buat dia. Cita cita nya setelah tamat SMA dia akan merintis career sebagai singer atau bermain film dengan cara bergabung dengan agen atau sekolah acting atau singing. hhhmmmmm………

Anak ke 2 juga merasakan system sekolah yg bagus, beruntung bagi kami mempunyai kesempatan mengirim anak ke international school sejak mereka kecil. Di NZ anak ke 2 mulai dengan year 4. System disini setiap tahun anak akan pindah ke kelas berikutnya (tidak ada yang tidak naik kelas). Apakah setiap anak sama? Tidak. Dalam kelas anak saya (year 5), umur setiap anak setara tetapi kemampuan tiap anak berbeda dan dalam kelas terdapat kelompok yang dibedakan berdasarkan kemampuan individual dan setiap kelompok mempelajari materi yang berbeda. Bagaimana dengan “Rapor?” setiap awal tahun kami (ortu) diberi kesempatan untuk membuat temu janji dengan class teacher dan akan mendapat penjelasan sejauh apa kemampuan anak kita dan apakah target kita sebagai ortu dan target teacher itu seimbang? lalu si anak akan dipanggil dan kami, teacher + si anak akan duduk bersama dan mendiskusikan apa harapan si anak dan target apa yg akan dicapai? Disini antara ortu, guru & anak dapat menyeragamkan pendapat apa yang akan di dorong, difokuskan dalam 1 th kedepan. Akhir tahun kami kembali duduk bersama dan mendiskusikan sejauh apa target terpenuhi dan apakah target tersebut tidak menyimpang dari kemampuan si anak?
lalu apa yg tertulis dalam “rapor”? penjelasan sejauh apa tingkat akademik atau non akademik si anak. Contohnya anak kami yg walaupun tergolong “rata rata” ternyata kemampuan akademik nya setara dengan anak yg berumur 13th (anak ke 2 kami umurnya 10th), kemampuan non akademik dlm bidang sport setara dng umur 9th (terlalu kecil untuk umurnya) dan kemampuan seni menonjol dan dapat dikategorikan sebagai junior advance.

Intinya, kami menegaskan kepada anak anak, apapun career yang akan mereka tuju asal dilakukan dan dijalani dengan sungguh sungguh akan menjadi suatu career yang membanggakan. Plan the future sedini mungkin dan ingat kemampuan dan kondisi. Jangan mimpi kuliah di Oxford kalo otak nggak sanggup dan dana pas pas-an atau jangan mimpi jadi “Madonna” kalo nyanyi di kamar mandi aja nggak becus. dan yang penting jangan memilih career karena “si pujaan hati” ada disana atau karena career tersebut lagi ngetren. Lihat kemampuan, kesempatan dan focus.

take care,
Anna

On Sep 12, 2005, at 12:18 AM, Ida arimurti wrote:

Mendidik Manusia atau anjing ? - Ratna Megawangi

Perjalanan anak-anak kami masih panjang, sehingga kami belum tahu
apakah mereka berhasil nantinya. Namun paling tidak, kami telah
berusaha untuk mempersiapkan mereka untuk menjadi manusia yang
berpikir kritis dan mandiri, tidak mudah percaya dan diprovokasi,
bisa mencari informasi dan mengolahnya sendiri, sehingga nantinya
bisa mencari solusi terhadap berbagai masalah dalam hidupnya, serta
mudah beradaptasi dengan lingkungan yang cepat berubah.

Tentunya juga dengan membekali mereka tentang prinsip-prinsip nilai
dan etika. Terus terang, kami memang "melarang" anak-anak kami untuk
mendapatkan ranking, karena sistem ini akan membuat seseorang
terperangkap untuk mempertahankannya, sehingga mereka hanya mampu
berpikir dangkal, pragmatis, dan tidak kritis, akibat terbiasa
menghafal dan mengerjakan soal yang jawabannya sudah baku sesuai
dengan rumus.

Menurut Albert Einstein, dengan hanya mengajarkan anak menghafal
mata pelajaran, tidak ada bedanya dengan melatih seekor anjing.
Menurut Einstein, "With his specialized knowledge-more closely
resembles a well-trained dog than a harmoniously developed person."

(Ternyata benar, dengan cara mengulang berkali-kali, anak kami sudah
dapat melatih anjingnya yang berusia 4 bulan untuk duduk, loncat,
dan salaman). Bukan berarti metode menghafal dan drilling tidak
perlu (kognitif), tetapi dimensi lainnya juga harus dikembangkan
(sosial, emosi, motorik, spiritual, dan kreativitas), sehingga
seluruh dimensi manusia dapat berkembang secara seimbang (harmonis).

Namun, semua metode pelajaran di sekolah hanya diarahkan agar anak-
anak dapat menjawab ujian, yang bentuknya memang hafalan, sehingga
potensi-potensi lainnya tidak berkembang secara harmonis.

Albert Einstein sudah memberikan warning akan bahayanya sistem
pendidikan yang terlalu menjejalkan anak dengan banyak mata
pelajaran, yang menurutnya dapat membuat anak berpikir dangkal,
bukan seorang yang independent critical thinker (New York Times,October 5, 1952).

Menurutnya, "It is also vital to a valuable education that
independent critical thinking be developed in the young human being,
a development that is greatly jeopardized by overburdening him with
too much and with too varied subject (point system). Overburdening
necessarily leads to superficiality. Teaching should be such that
what is offered is perceived as a valuable gift and not as a hard duty."

Kalau kita melatih seseorang untuk mempunyai fisik kuat, baik dengan
olahraga atau berjalan kaki, maka dengan kekuatan fisiknya ia akan
fit bekerja di mana saja yang memerlukan kekuatan fisik. Begitu
pula, apabila kita mempersiapkan seorang anak untuk dapat berpikir
kritis, selalu ingin tahu, dan mampu mengolah informasi, maka ia
akan berhasil dalam pekerjaan apa saja yang memerlukan orang berpikir.

Apalagi di masa depan apabila semakin banyak orang yang mempunyai
akses terhadap internet (lima tahun yang lalu mungkin kita tidak
membayangkan kalau hand phone bisa dipakai secara massal sampai ke
desa-desa. Hal yang sama sangat mungkin terjadi dengan internet,
seperti yang sudah terjadi di Korea).

Artinya, tanpa menghafal pun, segala informasi dengan mudah dapat diakses.

Mungkin ilmu yang didapat di sekolah banyak yang tidak terpakai
dalam kehidupan anak kita nanti. Apalagi jaman akan terus berubah
dengan cepat, sehingga apa yang dipelajari sekarang ini, mungkin
saja tidak terpakai dalam kehidupannya di masa depan nanti. Padahal
sudah dipelajari dan dihafalkan mati-matian, sampai banyak yang
stres dan mengalami masalah kejiwaan.

Menurut Peter Senge, sekolah-sekolah yang mendidik siswanya untuk
patuh begitu saja kepada pihak otoritas dan mengikuti peraturan
tanpa mempertanyakannya - tidak bersikap kritis - akan gagal
menyiapkan para siswanya untuk menghadapi dunia tempat tinggal
mereka yang kerap berubah.

Jadi, kalau kita mau menyiapkan anak-anak kita untuk cakap hidup di
zamannya kelak, jangan biarkan mereka terperangkap dengan cara yang
hanya bisa berpikir sesuai dengan yang telah diprogram (hafalan dan
drilling), yaitu tidak kreatif, tidak kritis, tidak berani mengambil
risiko, tidak proaktif, dan apatis.

Kasihan mereka, karena mereka harus hidup di masa depan yang begitu
cepat berubah, sangat kompleks, serta penuh tantangan dan beban.
Seperti kata Einstein, mereka adalah manusia, bukan well-trained dog. *

Penulis adalah pemerhati masalah sosial pendidikan

Sumber: http://www.mail-archive.com/idakrisnashow@yahoogroups.com/msg01734.html

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: