Oleh: apit | Desember 29, 2007

Desember 1948/1949

Banyak peristiwa genting dan penting dalam sejarah modern Indonesia yang tidak akrab lagi dalam ingatan kolektif sebagian besar kita. Anak muda jangan ditanya lagi, kesadaran sejarah mereka sangat lemah. Tapi kita tidak boleh menyalahkan mereka, karena kita yang tua belum tentu juga peduli dengan kelampauan yang penting sekalipun.

Tidak usah kita menelusuri terlalu jauh ke zaman prasejarah yang tak henti-hentinya merangsang minat para arkeolog untuk mengkajinya. Dari era pasca-Proklamasi, yang belum teramat lama kita jalani, banyak sekali sinyal kearifan yang dapat kita petik dan pedomani. Perspektif ini hanya akan memusatkan perhatian pada tiga tanggal penting: 19, 22, dan 27 Desember 1948/1949.

19 Desember 1948. Ini adalah tanggal tertawannya Soekarno-Hatta dan pimpinan nasional yang lain setelah Belanda menjatuhkan bom brutal di Maguwo, Yogyakarta, sebagai permulaan agresi kolonialnya yang kedua. Dengan menangkap pemimpin puncak itu, Belanda mengira bahwa riwayat republik yang baru tiga tahun merdeka akan tamat dan revolusi kemerdekaan akan berantakan. Memangnya yang mau merdeka itu hanya pemimpin? Toh, pemimpin lain seperti Sjafruddin Prawiranegara dan Jenderal Soedirman tidak tinggal diam.

Belanda sengaja melupakan betapa gigihnya tokoh-tokoh pergerakan kebangsaan untuk memerdekakan Tanah Air, dan kemerdekaan itu harga mati bagi mereka. Bahwa kemerdekaan pasti datang sudah merupakan kredo di benak para pejuang itu. Pada 1928, Hatta telah meramalkannya. Begitu juga Bung Karno, tiga tahun setelah itu. Persiapan fisik jangan ditanya, sebab memang kosong. Aparat kolonial akan memangkasnya sebelum berkembang menjadi kuncup. Tapi semangat dan persiapan mental berlangsung sejak dasawarsa awal abad ke-20. Fakta ini yang sengaja diabaikan Belanda, sehingga Yogya dibom dan Soekarno-Hatta terpaksa menyerah.

Di sisi lain, ada Jenderal Soedirman, yang dengan paru-paru satu memilih perang gerilya ketimbang menyerah. Soedirman ingin semua kekuatan sama-sama terjun ke medan gerilya. Tapi, karena ada masalah teknis pengamanan, akhirnya Soekarno-Hatta harus mengangkat bendera putih sebagai tanda menyerah, sesuatu yang juga masuk akal sebenarnya. Kita mafhum, sekiranya Soekarno-Hatta turut ke hutan, bukankah pasukan kita yang belum terlalu terlatih itu akan lebih banyak dikerahkan untuk melindungi kedua pemimpin itu?

Sidang kabinet RIS yang dipimpin Hatta pada 19 Desember 1948 mengirimkan kawat kepada Sjafruddin Prawiranegara yang berada di Sumatera Barat dan kepada Dr. Soedarsono, duta besar kita di India. Keduanya diperintahkan mengambil tindakan darurat dalam upaya menyelamatkan negara yang akan dihancurkan Belanda.

22 Desember 1948. Sjafruddin dan teman-temannya membentuk PDRI di Desa Halaban dalam Kabupaten 50 Kota. Jika Sjafruddin gagal, Soedarsono harus membentuk pemerintah dalam pengasingan (government in exile). Demikian tegang dan kritikal situasi pada saat itu, tapi Sjafruddin berhasil dalam usahanya, sekalipun kawat mandat dari Yogya belum sampai. Pada 22 Desember ini pula Soekarno-Hatta dipindahkan dari tahanan Yogya ke Bangka dan Berastagi/Parapat, kemudian disatukan di Bangka.

PDRI sebagai Pemerintah RI yang sah melalui perjuangan gerilya selama tujuh bulan telah berhasil menyelamatkan kemerdekaan bangsa dengan semangat heroik yang supertinggi. Dalam tubuh PDRI tidak ada isu sipil-militer, karena dua kekuatan itu adalah satu dan padu. Sekalipun ada sedikit gesekan antara kelompok Bangka (Soekarno-Hatta dkk) dan PDRI, akhirnya pada 13 Juli 1949 Sjafruddin dengan jiwa besar menyerahkan kembali mandatnya kepada Presiden Soekarno di ibu kota negara Yogyakarta.

Sebuah tahap perjuangan yang genting telah dilalui dengan selamat. Semestinya Sjafruddin tidak hanya diakui sebagai Ketua PDRI, melainkan bahkan sebagai presiden merangkap perdana menteri darurat RI, karena memang selama tujuh bulan itu tidak ada kekuasaan lain yang sah kecuali PDRI. Soedirman sepenuhnya berada di belakang PDRI.

27 Desember 1949. Ini adalah babak diplomasi terakhir revolusi mempertahankan kemerdekaan berupa penyerahan kedaulatan dari Kerajaan Belanda kepada RIS, yang dilakukan di Amsterdam pada 27 Desember 1949 sebagai hasil Perjanjian KMB. Delegasi RIS dipimpin PM Hatta, Kerajaan Belanda oleh PM Drees. KMB dibuka di Den Haag pada 23 Agustus dan resmi berakhir pada 29 Oktober.

Di Istana Presiden, Jakarta, pada tanggal yang sama, juga diadakan upacara penyerahan kedaulatan. Pemerintah RIS diwakili Sri Sultan Hamengku Buwono IX, pihak Pemerintah Belanda oleh H.V.K. Lovink. Bersamaan dengan penyerahan kedaulatan ini, diturunkanlah bendera si tiga warna, Merah-Putih-Biru, untuk selama-lamanya, digantikan oleh sang saka Merah-Putih, mudah-mudahan juga untuk selama-lamanya.

Tuan Lovink, setelah peristiwa penyerahan itu, segera menuju ke Kemayoran untuk terbang ke negerinya, tentu dengan perasaan gundah. Pada akhirnya, kemerdekaan yang dirindukan sejak waktu yang panjang diakuilah sudah.Tahap berikutnya adalah kerja mengisi kemerdekaan yang agak terhuyung-huyung, bukan? Berkacalah ke masa lampau karena di situ ada kearifan, wahai anak bangsa!

Ahmad Syafii Maarif
Guru besar sejarah, pendiri Maarif Institute

Sumber: http://www.gatra.com/artikel.php?id=110552


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: