Oleh: apit | November 6, 2007

Dan Tuhan Merasa Bosan

By: elKaban13

Panggung kebobrokan Demokrasi

Semakin angkuh menelanjangi moral anak negeri

Yang kemudian ikhlas menanggalkan identitasnya sendiri

Iming-iming surga dunia via tol pasar bebas

Hanya menjamin nyawamu mampus sekali tebas

Apapula globalisasi yang menjanjikan kau bebas berbikini

Menjeratmu dalam kemelut hidup tak kenal kompromi

Di sini, hidup sebatas kekenyangan hari ini

Esok, biar nanti dipikirkan lagi

Pengakuan saudara hanya ketika lapar

Maka kamu adalah musuh, saat mulutku melebar

Menenggelamkan segenggam nasi

Ke dalam perut yang lama tak berpenghuni

Dengkur keras mereka di kursi empuk parlemen

Memaksa kami turun ke jalan; mengemis dan mengamen

Sebagian mereka sibuk mencari selangkangan gersang baru

Untuk dibuahi tanpa harus menjadi ibu

Sedang kami yang membanjiri jalan-jalan kota dengan keringat

Sambil teriak, “beli..beli…untuk kebahagiaan anak-anak kami yang sekarat”

Adalah sampah yang harus diabukan, sekarang juga

Karena kemacetan ribuan Marcedes lebih sedap di pandang mata

Apalagi tubuh dekil kami tak mengenal sabun.

Membuat matamu mendadak jadi rabun

Persetan ibukota yang menjanjikan nyawa baru

Walau untuk itu membuat celuritmu malu-malu mau

Mengalirkan darah saudaramu sendiri

Sesama anak proklamasi

Kemerdekaan terlalu lama dikhianati

Maka kau telah memilih Sengkuni

Untuk meledakkan kepalamu di kemudian hari

Saat mahkota berlabel wakil rakyat negeri neraka

Kau sematkan menghiasi pantat kepala mereka

Tungu anak cucumu mengerang!

Diringi paduan ha ha ha penuh girang

Plus lagu syukur a la pejabat anti-tengsin

“syukurin..syukurin…emang gue pikirin”

Lalu kau suarakan di sepanjang jalan:

Matii…matiiii…lawaannnnnnn….

Dan senyap, tenggelam dalam alunan nada senapan

Jalan terakhir kau coba mengiba pada Tuhan

“Kami butuh ratu Sima, supaya menikmati keadilan dan kesejahteraan.

Atau Sukarno, supaya terdengar sekali lagi proklamasi.

Boleh juga Habibie yang cerdasnya tak diakui di negeri sendiri

Atau minimal Suharto lah..yang menyengsarakan kami tak terasa”

Asal bukan mereka yang hanya pandai merasa bisa, tapi tak pandai bisa merasa

Asal bukan mereka yang menilai kesuksesan dengan menghitung jumlah kematian

Asal bukan mereka yang memonopoli pendidikan supaya korupsi ngga ketahuan

Asal bukan mereka yang memberangus suara-suara kritis demi tujuan-tujuan politis

Asal bukan mereka yang sok agamis, tapi akhlak toleransinya teramat kritis

Asal bukan mereka yang mejadikan duit, syarat lolos hukum dan audit

Asal bukan mereka yang menaikkan upeti, jalan pintas menuju mati

Begitulah Tuhan, kami hidup sekedar menampung aniaya

“Aku mulai bosan….”

Lho, Tuhan mau ke mana??????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: