Oleh: apit | Oktober 24, 2007

Malam Tanpa Rembulan

By: elKaban13

Rembulan terlalu cepat tinggalkan malam

Kita belum sempat bernafas

Menyaksikan kebringasan amuk alam

Jangan kau pungkiri segala kekacauan

Adalah buah rakus yang kau budayakan

Tsunami menjemput sendiri ajalmu

Lumpur menenggelamkan keringatmu

Peluh ayah dari bapak moyangmu,

Sepetak sawah yang kau harap menjamin

Kelangsungan hidup tujuh keturunanmu

Airmata bukan lagi syarat luluhkan hati

Karena kematianmu

Adalah berita paling ajaib berkurangnya angka pengangguran

Yang berarti kesuksesan pemerintah tak tahu diri

Atau berarti modal besar calonkan diri lagi

Atau berarti kembali menggali sebanyak-banyaknya

Liang lahad korban bunuh diri

Mereka iblis yang menduduki parlemen

Memandang nyawamu serupa anak kecil mengunyah permen

Jargon-jargon reformasi, pendidikan gratis, dan bangsa yang berwibawa

Adalah irama kentut dari neraka

Karena kabar dari tetangga melulu tentang perempuan kita

Disiksa, diperkosa, tidak diperlakukan sebagai manusia

Seringkali klimaksnya hanya muncrat di ujung pena media

Lelah menyerapah, kembali diam bersemedi

Pikirkan “apa” mengisi perut esok hari

Masih berharap miliki muka?

Rembulan terlalu cepat tinggalkan malam

Dan kita tak kan lama lagi bernafas


Responses

  1. bila pagimu berkesudahan
    maka malammu masih menjanjikan

    tapi umur hanyalah sekali
    dan hidup akan tetap abadi

    begitu nenek berpesan
    sebelum ia meninggal

    hiks…
    tangisku pecah

    Rob’ah, 24 Okt 2007


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: