Oleh: apit | Oktober 18, 2007

GESTOK 42 TAHUN*

Oleh : Asahan Aidit

02-Okt-2007, 11:15:47 WIB – [www.kabarindonesia .com]

– Musuh besar PKI menyelamatkan nama Suharto
– PKI menyelamatkan nama Presiden Soekarno
– Presiden Soekarno menyelamatkan nama beliau
– PKI hancur tak mampu menyelamatkan diri.

 

KabarIndonesia – Presiden Soekarno dalam pidatonya telah menyatakan keterlibatan PKI dalam peristiwa G30S dengan mengatakan bahwa pimpinan PKI telah keblinger. Dengan demikian semua musuh besar PKI telah dengan “syah” mencap PKI sebagai dalang G30S hingga saat ini. Sedangkan sebelumnya semua orang tahu bahwa hubungan PKI dengan Presiden Soekarno sangatlah baik. Tapi ketika terjadi musibah dan posisi Presiden Soekarno yang telah di bawah tekanan Suharto yang sangat kuat agaknya telah membuat Presiden Soekarno tidak bisa berbuat lain kecuali mungkin terpaksa menohok teman seiring dengan mengatakan bahwa pimpinan PKI telah keblinger. Pernyataan demikian adalah vonis yang sangat diharapkan oleh para musuh besar PKI yang sedang menuju perebutan kekuasaan negara secara total yang membutuhkan vonis dari seorang Presiden untuk menjatuhkan musuhnya hingga hancur lebur.

Kata-kata “keblinger” telah menjadi kunci penutup kesimpulan bahwa memang PKI-lah dalang dan semua biang keladi pemberontakan para perwira Angkatan Darat yang dikepalai Letnan Kolonel Untung yang kemudian telah membunuh 6 Jenderal dan seorang perwira tinggi lainnya. Dan ketika itu semua mulut PKI telah terkunci tapi masih berusaha menyelamatkan nama Presiden Soekarno dengan tidak memobilisasi gerakan bela diri dan lalu membiarkan dirinya dibantai dari semua Pimpinan tertinggi hingga seluruh anggotanya dan terjadilah drama dan tragedi kemanusiaan yang juga harus dialami rakyat Indonesia lainnya yang sama sekali tidak berdosa, tidak tahu menahu dalam ketidak berdayaan dan kebingungan diteror secara dahsyat oleh Suharto dengan aparat militernya yang kejam bersama elemen-elemen musuh-musuh PKI lainnya yang mereka mobilisasi dan kendalikan sepenuhnya.

Kekuasaan yang telah beralih ke tangan Suharto lalu mengeluarkan semua pernyataan, tuduhan, fitnahan, disertai menyebarkan cerita-cerita horror tentang kekejaman PKI dan Gerwani yang semua itu bertujuan menciptakan pendapat umum untuk menghacurkan PKI lebih lanjut hingga ke akar-akarnya. Dan lalu Suharto telah berhasil menekan Presiden Soekarno untuk menanda tangani Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) yang terkenal masih misterius itu di samping telah berhasil pula menekan Presiden Soekarno monohok teman seiringnya yang PKI itu dengan menyatakan bahwa Pimpinan PKI yang keblinger meskipun masih ada dua elemen lain selain PKI yaitu Nekolim dan unsur-unsur tidak baik di dalam negeri . Yang dimaksudkan Nekolim tentu saja peranan beberapa negara Adikuasa di dunia yang tidak disebutkan oleh Presiden Soekarno namun sudah bisa diterka seperti Amerika Serikat dengan CIA-nya, Sovyet Uni, RRT, Inggris dan sebagainya.

Penamaan Nekolim yang tak disebutkan kongkritnya itu sangat mungkin karena akibat tekanan Suharto dan juga oleh keseganan Presiden Soekarno sendiri untuk menyebut beberapa nama. Lalu elemen atau unsur-unsur di dalam negeri yang jelek yang disebutkan Presiden Soekarno secara umum-umum itu juga amat mudah diterka maksudnya yaitu tidak lain kalau bukan para Jenderal kanan yang mestinya disebut sebagai Dewan Jenderal yang juga turut dimisteriuskan itu. Tapi terhadap unsur pertama yang terlibat dalam peristiwa G30S disebutkan oleh Presiden Soekarno, jelas tanpa tedeng aling-aling: Pimpinan PKI yang keblinger.

Dan karena kata-kata itu telah keluar dari ucapan Presiden Soekarno sendiri maka imbasnya hingga kini seperti telah dipaku mati bahkan hingga pada banyak dalam kepala bekas-bekas angota PKI sendiri yang berkeyakinan bahwa PKI dan Ketua PKI-lah yang menjadi dalang G30S: mereka tidak mau membantah atau pasif membantah, atau masa bodoh, atau merasa jenuh dan bahkan menaruh dendam pada Partai sendiri dan para Pimpinan sendiri. Semua situasi demikianlah yang membuat PKI turut menghancurkan dirinya sendiri, turut melumpuhkan dirinya sendiri dan secara otomatis membenarkan semua fitnahan musuh terhadap diri mereka dan inilah drama dan tragedi kedua yang harus ditelan PKI setelah mereka berhasil dihancurkan oleh musuh-musuh besarnya.

Para peneliti peristiwa G30S:

Terutama para peneliti dari luar negeri telah cukup banyak menerbitkan buku sekitar peristiwa G30S. Tidak akan disebutkan satu persatu dan siapa-siapa saja penulisnya. Di sini akan hanya sebagai penekanan bahwa semua hasil penelitian itu apapun isi dan bagaimana pun dia tersaji tetaplah menjadi sebuah dokumen yang berguna sebagai bahan pertimbangan, penelitian selanjutnya. Tapi di seginya yang lain, peneliti bukanlah seorang politikus, bukan seorang yang terlibat langsung dalam masalah yang ditekuninya, melainkan seorang peneliti yang bersandar pada metode ilmiah, seorang ahli atau spesialis di bidangnya dan seharusnya dia tidak memihak dan selalu berusaha obyektif.

Namun dari seorang peneliti tidak akan lahir sebuah kebenaran terakhir. Tulisan mereka adalah bahan mati yang mungkin mengandung kebenaran atau juga kesalahan namun tetap saja bukan kebenaran atau kesalahan yang terakhir. Yang akan melahirkan kebenaran dan kesalahan terakhir adalah para politikus, para pelaku langsung maupun tidak langsung dalam suatu Partai Politik tertentu. Dalam pembelaan ataupun pengkritikan mereka terhadap masalah politik yang mereka hadapi, mereka bisa dan bahkan patut menggunakan bahan mati yang telah dihasilkan para peneliti spesialis di berbagai bidang untuk dihidupkan kembali sebagai bahan bukti yang lebih kuat atau lebih lemah dan dari merekalah akan lahir sebuah kebenaran terakhir atau kesalahan terakhir. Dengan demikian kebenaran adalah hasil perjuangan
dan bukan otomatis seperti yang sering diilusikan banyak orang. Dan bahkan yang disebut sebagai kebenaran atau kesalahan terahir adalah juga punya sifat relatif dan tidak mutlak. Tapi tanpa yang tidak mutlak itu, setidaknya manusia telah bisa punya patokan yang lebih panjang umurnya (juga relatif) yang lebih selamat dan lebih menguntungkan serta lebih obyektif (sekali lagi, juga relatif).

PKI nampaknya hingga kini belum punya orang yang akan melahirkan kebenaran tentang dirinya sendiri, orang yang akan membersihkan dirinya sendiri dari fitnah dan korban fitnah karena mereka masih punya mentalitas manusia yang dilumpuhkan yang masih berilusi mengharapkan amnesti, mengharapkan rekonsiliasi, mengharapkan reformasi dari musuh-musuh mereka, dan semua harapan orang lumpuh yang tergantung sepenuhnya pada maksud baik bekas-bekas musuhnya yang tak kunjung datang. Inilah sekali lagi yang dimaksudkan drama dan tragedi PKI yang sudah dikubur dan mengubur dirinya dengan membawa nama jelek, karena tidak mampu dan tidak mau membela dirinya oleh kelelahan luar biasa dan ketuaan dan tidak cukup kapasitas sekecil apapun untuk bangkit.

Tapi musuh-musuh besar PKI masih terus berusaha dengan gigih menyimpan misteri mereka dan terus menuduh bahwa: yang membunuh tujuh perwira tinggi Angkatan darat adalah PKI. Dalang G30S adalah PKI. dsb, dsb. Tapi bahwa Ketua PKI yang dibunuh atas perintah Suharto untuk menutup rapat misteri yang bisa membuka kedok Suharto tidak banyak dibicarakan orang, tidak menjadi penganalisaan yang serius meskipun dengan peristiwa dan perintah bunuh Suharto terhadap orang Pertama PKI ini sesungguhnya bisa menjadi kunci utama semua misteri sekitar G30S. Penganalisaan dari sebuah peristiwa sering-sering merupakan bukti yang lebih kuat daripada yang dianggap bukti-bukti itu sendiri yang tanpa dianalisa yang cuma bukti mati yang hanya menyesatkan kebenaran yang sesungguhnya.

Penganalisaan tentang perintah bunuh segera Ketua PKI bisa menjadi bukti kuat untuk menguak misteri yang dipendam Suharto untuk menutupi dirinya sendiri dengan menghindari untuk mengajukan Ketua PKI ke pengadilan dan mendengarkan keteranganan- keterangan dan pembelaannya. Hal itu tidak ingin dia lakukan karena itu akan menhancurkan dirinya sendiri. Mengapa penganalisaan yang begini penting, bahkan bisa disebut kardinal permasalahan sekitar peristiwa G30S bisa diabaikan orang begitu saja dan bahkan oleh PKI sendiri: cuma dibaca dan kadang-kadang mampir dalam pembicaraan dan lalu hilang lagi tanpa bekas. Bahkan di dalam buku dari kalangan sendiri, pimpinan PKI digambarkan sebagai tokoh otoriter, pembesar yang ingin disamakan dengan tokoh-tokoh dunia yang bernama jelek dengan langgam
dan tindakan kediktatoran mereka yang terkenal. Apa sudah sedemikian perbuatan orang Pertama PKI. Apakah ini sisa-sisa dendam “perjuangan intern” yang terpendam dan lalu meletus di saat-saat PKI sudah hancur lebur.

Dari kalangan pimpinan tertinggi PKI yang sudah sebagian besar meninggal maupun yang masih sebagian kecil masih hidup, tidak pernah muncul suara yang positif membela Ketua PKI mereka: tidak menyangkal tuduhan musuh, pasif tidak membela bahkan ada kecenderungan untuk memusatkan semua “kesalahan PKI” pada pimpinan utamanya sedangkan PKI secara keseluruhan tidak punya kesalahan dengan dalih mereka tidak tahu-menahu akan peristiwa G30S dan hanya Ketua PKI dan Syam yang tahu. Mereka agaknya yakin bahwa dengan dua orang saja, Ketua PKI dan Syam ingin merebut kekuasaan dan meninggalkan semua organ Partai lainnya, meninggalkan semua anggota PKI yang jutaan jumlahnya, meninggalkan garis politik damai secara mendadak dan memilih jalan coup dengan serta merta. Apakah semua itu bisa diterima
akal yang sehat?

Kalau musuh-musuh besar PKI berpikir demikian, itu masih bisa dimengerti karena memang demikian strartegi mereka: fitnah dan dusta. Tapi segerombolan Pimpinan PKI yang masih hidup dan kebingungan lantas menempuh jalan pintas yang singkat sambil mengiring pendapat umum bahwa yang bersalah adalah Pimpinan Pertama PKI . Kalau Presiden Soekarno menempuh jalan menohok teman seiring, maka segerombolan Pimpinan PKI yang masih hidup ketika itu menempuh jalan: tidur bersama dengan “musuh dalam selimut” lalu mencari kambing hitam yang adalah ketua Partai mereka sendiri. Membuat PKI terkubur lebih dalam dengan nama yang lebih jelek.

Tapi kalau berbicara soal kesalahan intern PKI itu harus dipisahkan dan jangan dikaitkan dengan pembunuhan massal terkejam yang dilakukan Suharto dalam sejarah kemanusiaan. Pembunuhan massal yang dilakukan oleh Suharto dengan rezimnya adalah perbuatan Suharto dengan rezim Orba serta militernya. Kesalahan intern PKI terbesar adalah karena berkorban dan mengorbankan diri sendiri demi menjaga nama baik Presiden Soekarno, mempercayainya secara mutlak bahwa Presiden Soekarno akan bisa menguasai keadaan yang sudah rusak penuh bahaya, tidak berani memobilisasi massa untuk bela diri dan terprovokasi dengan pernyataan dalam harian organ Partai “Harian Rakyat” yang cepat digunakan Suharto untuk melengkapi fitnah jahatnya. PKI telah salah dalam menilai situasi yang berobah secara mendadak dengan hanya mengandalkan pikiran: “Perjuangan progressif ” harus disokong dengan serta merta dan kalau ternyata salah akan diperbaiki di kemudian hari. Ideologi demikian telah lama bermukim dalam otak Pimpinan PKI. Spekulasi “revolusioner dan progressif” itu ternyata telah telah membunuh yang empunya filsafat demikian meskipun sama sekali bukan bukti yang bisa menuduh PKI sebagai dalang G30S. Tapi musuh besar PKI dan Suharto telah berhasil menjerumuskan PKI karena kesalahan spontan sebagai reaksi yang terlalu cepat dan salah tapi bukan karena memang dalang peristiwa G30S.

Di kalangan PKI dan pimpinannya sendiri tidak bisa memisahakan antara “perjuangan intern” atau kesalahan intern PKI dengan peristiwa pembunuhan massal yang dilakukan oleh Suharto. Rumah tangga PKI tidak membunuh seorang manusiapun dan pelaku pembunuhan adalah Suharto dengan segala bukti nyata yang tak mungkin dibantah. Tapi dalam kepala banyak orang PKI karena kesalahan dalam rumah tangga PKI itulah yang mengakibatkan atau yang menyulut Suharto membunuh jutaan orang tak berdosa termasuk PKI. Kesesatan berpikir yang naif yang tak terbayangkan tidak masuk akalnya itu justru hidup dalam pikiran segolongan orang-orang PKI sendiri. Kalau di luar PKI itu memang sudah dalam strategi Suharto: mengubur PKI hingga ke magma panas ribuan derajat Celsius. Sekarang semua sudah terlambat, PKI
sudah terkubur dalam dan hangus. Tapi kebenaran belum terungkap dari peristiwa G30S. Lalu siapa yang akan mengungkap kebenaran terakhir dan membuktikan kesalahan terakhir yang berbentuk dosa Suharto yang tak berampun itu. Mungkin perlu menancapkan sebuah palang di atas setiap kuburan PKI: “DICARI PEMBELA PKI YANG BERANI MENGATAKAN KEBENARAN DAN TAK GENTAR MENANGKIS FITNAHAN”

Asahan Aidit.
1Oktober 2007,

 

* Tulisan ini di muat dalam KABAR INDONESIA dalam keadaan belum terkoreksi dan belum selesai secara tuntas akibat kesalahan tehnis dari saya sendiri ( salah pencet dan lalu terkirim secara tak sengaja). Dalam Mailinglist yang sekarang sudah saya koreksi beberapa kesalahan ketik dan juga tambahan satu kalimat sebagai penutup tulisan itu.(aa)


Responses

  1. met kenal arek bondowoso . n beritanya bagus lo bisa detail surat super semar

  2. semoga ter ungkap kebenaran yang sejati dan melaknat yang bersalah, walaupun dalam nisannya. kalau perlu dikasih bendera diatas kuburanya kalau memeng kebenaran benar benar membuktikanya. dan disyahkan olen negara negara di dunia ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: