Oleh: apit | September 16, 2007

Arsip Peristiwa Madiun 1948 [Tulisan Suripno]

Catatan:

Kutipan dari Penjelasan Suripno dengan tulisan tangan ketika meringkuk dalam tahanan Pemerintah Hatta, yang dimuat dalam dua terbitan Majalah Mutiara No. I/2, 15 Mei 1949 dan No. I/3, 1 Juni 1949.

Tentang Peranan Musso:

Pada bulan Maret 1948 buat pertama kali saja bertemu dengan sdr. Musso di Praha. Sdr. Musso minta pertolongan kepada saja untuk bisa pulang lagi. Ini saja sanggupi, karena saja pandang sdr. Musso sebagai salah satu pemimpin jang tua, besar dan berpengalaman. Kami achirnja berangkat tanggal 21 Djuni (kebetulan saja sebagai wakil Republik hendak memberi laporan tentang penukaran konsol dengan Rusia, kedjadian mana terdjadi pada tgl. 22 Mei) dan sampai di Djokja tgl. 11 Agustus 1948. Sdr. Musso di Praha seringkali membitjarakan soal2 politik di Indonesia dengan saja. Terutama sikap dan tindakan2 dari partai kami sendiri dan FDR dikupas dengan tjara jang sangat kritis. Djuga kelemahan di Indonesia jang terutama disebabkan karena tidak ada Front Nasional. Ketiga faktor2 internasional jang sangat baik bagi kita hingga tidak ada alasan untuk terus-menerus berkompromi dengan Belanda. Kesimpulan-kesimpulan ialah:

1. Supaja Renville tidak diakui. Segala perundingan diadakan atas dasar kemerdekaan dan kedaulatan penuh daripada Republik Indonesia. Segala tentera asing harus ditarik kembali. Negara Indonesia Serikat dibentuk, merdeka dan berdaulat penuh.
2. Menggalang persatuan nasional jang kuat dalam Front Nasional.
3. Supaja Pemerintah djangan memberi konsesi lebih djauh. Mengandjurkan pemerintah Front Nasional.
4. Mengadakan fusi antara P.K.I., P.B.I., Partai Sosialis menjadi P.K.I.

Sesudah kedatangan sdr. Musso di Indonesia, semua hal ini bisa diterima oleh partai kami dan didjadikan politiknja. Selama saja berkenalan dengan sdr. Musso di Praha dan di Indonesia, walaupun didalam pembitjaraan prive atau dalam organisasi, tidak pernah ada utjapan untuk mengadakan atau merentjanakan pemberontakan atau coup atau revolusi dengan kekuatan sendjata. Sepandjang pengetahuan saja pikiran sdr. Musso ialah untuk menjelamatkan revolusi dan republik kita, mengadakan persatuan dan menuntut supaja Pemerintah mendjalankan politik jang tegas dan tjotjok dengan sifat revolusi nasional kita. (Mutiara I/2, 15 Mei 1949, hlm 10)

Pandangan setjara kritis tentang Peristiwa Madiun:

Factor jang paling besar jang menjebabkan kekalahan kami, ialah bahwa sokongan dari rakjat djauh sangat kurang. Didaerah Madiun sokongan ada, malahan boleh dikatakan besar dibeberapa tempat, akan tetapi diluar Madiun sokongan ketjil sekali dan berapa kali rakjat didesa malahan disiapkan untuk menangkapi kami. Apakah ini berarti bahwa isi politik kami salah atau program kita salah? Tentu tidak! Kami masih jakin, bahwa politik kami benar dan program kami benar. Kesalahan ialah djustru kami tidak mendjalankan program dan politik kami dengan betul-betul. Seperti tersebut diatas peristiwa Madiun, peristiwa Solo dan sebagainja itu tidak masuk dalam rentjana atau program kami. Kami malahan sedang sibuk me-reorganiseer dan menjusun partai kami (fusie), kami juga sedang sibuk memberi penerangan dan pendjelasan kepada rakjat tentang politik dan program kami. Penerangan dan pendjelasan djauh dari pada selesai sehingga bahagian besar dari pada rakjat belum mengerti politik dan program kami. Djuga fusie djauh dari pada selesai, sehingga organisasi partai kami belum kuat, dan belum bersih. Didalam keadaan begitu terdjadilah peristiwa Madiun dengan akibat-akibat jang djelek buat kami. Timbul pertanjaan: apakah pada waktu itu djuga kedjadian di Madiun tidak bisa ditjegah? Pertanjaan ini sukar didjawabnja, sebab banjak factor-factor lain (sudah tersebut diatas) jang menentukan djuga sikap kami pada waktu itu. Suasana jang ada pada waktu itu achirnja menjebabkan kami memandang kedjadian itu sebagai suatu fait accompli, kami semua merasa terdesak, sehingga solidair dengan kawan-kawan dari Madiun. Lebih-lebih karena berita-berita jang kami dapat tentang tindakan-tindakan Siliwangi, Masjumi dan sebagainja sangat meluapkan perasaan kawan-kawan. (Kemudian terbukti, bahwa banjaklah berita-berita jang tidak benar atau sangat diperbesarkan) . Banjak lagi sebab-sebab jang mengakibatkankekalahan kami, misalnya:

1. Gagalnja rentjana fusie pada waktu jang telah ditetapkan.
2. Tidak digantinya orang-orang dalam pimpinan jang telah mendjalankan politik salah.
Dengan begitu kami menjediakan bahan agitasi untuk mentjurigai dan memukul partai kami.
3. Tempo jang begitu singkat belum tjukup untuk memberi penerangan dan propaganda tentang politik program kami, apalagi dikalangan rakjat, sedang dikalangan kader partai sendiri masih banjak jang belum mengetahui soal-soal tersebut.
4. Organisasi, pimpinan, kejakinan dan ideologie didalam Barisan Tentara Rakjat sangat kurang.
5. Excessen jang terdjadi sangat mendjauhkan kami dari simpati rakjat.
6. Overdracht jang kami hadapi.
Dan sebagainja.

Tetapi pelajaran jang sangat berharga, walaupun sangat pahit buat kami dan partai kami, ialah bahwa tak ada sokongan dari rakjat, karena kami menjimpang dari rentjana kami sendiri. Kalau kami dengan aman bisa mendjalankan rentjana kami, penerangan kepada rakjat, politik program dan sebagainja, kami jakin, bahwa politik kami akan diterima dan didjadikan politik Negara Kita dengan tiada terdjadi pertumpahan darah. (Mutiara, I/3, 1 Juni 1949, hlm 11)

Sumber : KITLV, Leiden – The Nederlands
Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Reuvensplaats 2, 2311 BE Leiden
Postbus 9515, 2300 RA Leiden
tel. +31 (0)71 527 2295, fax +31 (0)71-527 2638.
E-mail: kitlv@kitlv. nl


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: