Oleh: apit | September 15, 2007

Gempa Takkan Berakhir

 

 

Oleh: Dr Supriadi Rustad, MSi

 

LAGI, gempa besar berkekuatan 7,9 SR mengguncang bagian barat Sumatera, Rabu (12/9). Bencana demi bencana datang silih berganti seolah tiada henti. Benarkah gempa di Tanah Air ini takkan pernah berakhir? Mengapa?

Setelah rentetan gempa Aceh, akhir tahun 2004, kita semakin percaya gempa Bengkulu dan Padang, dua hari lalu itu, bukanlah gempa terakhir yang mengguncang negeri ini. Sekali pun kita tidak pernah berharap, namun masih akan banyak lagi gempa-gempa berikutnya yang akan terus terjadi di negeri ini.

Di Indonesia, jangan pernah bermimpi kita hidup bebas dari bencana alam. Bencana adalah keseharian dan bahkan kehidupan kita. Tanpa bencana tak akan pernah ada kata Indonesia. Takkan pernah lahir istilah nusantara dan tak akan pernah kita jejak bumi yang subur ini.

Batuan cangkang laut di Karangsambung (Kebumen) dan Bayat (Klaten) telah menjelaskan Pulau Jawa ini terbentuk dari pengangkatan dasar samudera. Nusantara mengandung makna negara busur kepulauan muda yang terbentuk oleh proses tumbukan antarlempeng bumi yaitu lempeng Hindia-Australia, Eurasia dan Pasifik.

Dalam perspektif ini, nusantara berarti negeri bencana. Lokasi rawan gempa di negeri ini sudah terpetakan dengan baik mulai dari Aceh, sepanjang sisi barat Sumatera, selatan Jawa menerus ke Laut Banda dan berbelok ke utara sampai Sulawesi, Maluku dan Papua.

Di daerah pertemuan antarlempeng ini, letusan gunung api dan gempa bumi menjadi “pemandangan sehari-hari”. Tak ada kekuasaan apa pun pada manusia untuk membendung atau bahkan meramal sekali pun atas terjadinya peristiwa tersebut.

Kawasan pertemuan lempeng yang sangat aktif bergerak dan saling bertumbukan. Prosesnya berjalan secara alamiah karena merupakan bagian dari peremajaan bumi. Tak ada pilihan lain bagi seluruh warga negera Indonesia kecuali paham dan akrab dengan berbagai peristiwa alam tersebut. Manusia harus menyesuaikan diri dengan alam, bukan sebaliknya.

Gempa yang terus terjadi seharusnya mampu membuat kita hidup semakin cerdas. Kondisi alam harus mampu menjadi wahana untuk mencerdaskan bangsa. Berbagai fenomena alam yang terjadi mengajarkan kepada kita tentang sasaran pembangunan jangka panjang di bidang sumber daya manusia, terwujudnya masyarakat sadar bahaya yang memiliki kompetensi berpikir, bersikap dan berketerampilan hidup di daerah bencana.

Kekayaan Vs Bencana

Secara geologis negara ini bagai satu mata uang logam yang memiliki dua sisi yang berbeda tampilannya yaitu angka dan burung garuda. Tampilan angka menunjuk pada seberapa besar bumi pertiwi telah memberikan rezeki dan kemakmuran, sedangkan tampilan burung garuda memberikan pesan-pesan filosofis tentang cara-cara berpikir, berperilaku dan bersikap membangun negara ini.

Antara kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan potensi bencana yang demikian besar tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Tanah yang subur, hasil tambang, gas dan minyak bumi yang melimpah menyatu padu dengan berbagai peristiwa alam longsor, banjir, gempa dan letusan gunung api dalam satu kepingan koin bernama Indonesia.

Pengelola negara harus menyadari dalam setiap kekayaan alam, selalu ada hak untuk mereka yang tidak beruntung terkena bencana alam. Ini adalah konsep utama manajemen bencana alam (disaster risk management) yang merupakan bagian tak terpisahkan dari konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Tujuan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia mengamanatkan setiap program pembangunan nasional untuk melindungi dan mencerdaskan bangsa harus dilaksanakan dengan prinsip yang berkeadilan.

Di saat ego sektoral dan kedaerahan bagai menemukan momentumnya di era otonomi daerah, kondisi geografis dan geologis nusantara harus menjadi rujukan utama di dalam menetapkan strategi pembangunan yang berkeadilan.

Zona rawan bencana yang tidak mengenal wilayah administratif menjadikan Indonesia terbagi-bagi menjadi daerah-daerah dengan tingkat kesenjangan sosial ekonomi yang rawan.

Provinsi Bengkulu yang miskin sumberdaya alam tetapi rawan bencana sungguh tidak beruntung dan kontras jika dibandingkan dengan propinsi Riau atau Kaltim yang kaya raya.

Dengan kondisi demikian ini, kerentanan sosial ekonomi suatu daerah akan sangat mudah berubah menjadi kerentanan nasional.

Konsep negara nusantara dengan segala dinamikanya telah mengajarkan strategi kebumian Indonesia harus mampu memadukan potensi sumberdaya alam dan bencana di dalam manajemen pembangunan nasional.

Perlu dipikirkan, misalnya, untuk setiap barel minyak yang dieksploitasi, disisihkan sekian persen sebagai dana untuk penyelenggaraan penanggulangan bencana alam.

Tanpa pikiran-pikiran kenusantaraan, mustahil negeri ini akan menjadi Indonesia sebagai negara yang dimimpikan oleh para pendahulu kita.(77)

— Dr Supriadi Rustad MSi, Laboratorium Geofisika, Jurusan Fisika, FMIPA Unnes.

Sumber: Suara Merdeka, Sabtu 15 September 2007


Responses

  1. Salam Hormat, Salam Senyum Kanggo Sedulur Kabeh
    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Perkenalkan, Saya H.M.Jamil,SQ,MPd ingin meminta dukungan Saudara dalam pemilihan Caleg DPR RI PPP 2009 Dapil Kebumen, Banjarnegara & Purbalingga.
    Semoga bermanfaat bagi kita semua.
    Salam Hangat buat Keluarga Anda
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: