Oleh: apit | November 8, 2006

Benua Atlantis itu (Ternyata) Indonesia

Oleh: Prof. Dr. H. PRIYATNA ABDURRASYID, Ph.D.

 

Source: http://www.pikiran- rakyat.com/ cetak/2006/ 102006/02/ 0902.htm

MUSIBAH alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami di Aceh hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan Atlantis?

Plato (427 – 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis. Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Konteks Indonesia

Bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960, mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara Indonesia dengan perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah nusantara. Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang. Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene) . Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/ Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.

Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu/teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera (ocean) secara menyeluruh.

Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan Stephen Hawking.

Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.” Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni:

pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia.

Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.

Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan lumpur
panas dari masa yang lampau.

Bahwa Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat mengatasinya. ***

Penulis, Direktur Kehormatan International Institute of Space Law
(IISL), Paris-Prancis

*** Sila lihat websitenya Prof. Aryso Santos
berikut:

http://www.atlan. org/articles/ checklist/

 


Responses

  1. Mmm.. mungkin tulisan ini dapat menjadi sebuah renungan bagi kita terhadap cara pengambilan sikap seorang muslim mengenai berbagai musibah yang bertubi-tubi menghantam Indonesia

    Musibah atau bencana sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Satu musibah mengiringi musibah lainnya. Ia ibarat sapuan-sapuan kuas warna-warni yang mengisi lukisan kehidupan kita. Musibah atau bencana tersebut bisa merupakan ujian/cobaan, peringatan ataupun hukuman kepada kita sebagaimana yang pernah terjadi pada kehidupan manusia sebelumnya. Kalau kita melihat ke kanan, ke kiri, atau bahkan kepada diri kita, warna-warni musibah itu terlihat nyata, berpadu dalam rangkaian episode kehidupan.

    Jika demikian, apa yang musti diperbuat ketika musibah menimpa? Akankah kita patang arang, putus harapan, dan kehilangan gairah hidup karena musibah yang datang silih berganti itu? Akankah dunia serasa kiamat? Akankah kita merasa bahwa perut bumi lebih baik daripada permukannya? Bagaimanapun, musibah memang menggoreskan duka. Namun, banyak alasan yang seharusnya membuat manusia untuk tidak larut dalam duka, dengan meratapi nasib atau memaki takdir yang menimpa.

    Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah milik Allah Ta’ala, Dzat yang memberikan kita kehidupan, telah menetapkan hidup kita di dunia tidaklah abadi dan sebagai ujian semata. Allah Ta’ala menyatakan dalam firman-Nya, artinya: “Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk mengujimu, siapakah di antara kamu semua yang paling baik amalnya Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS: Al-Mulk: 2)

    Tidak ada satu tempatpun di alam ini yang terlepas dari Kekuasaan dan Ketetapan Allah Ta’ala, sehingga Allah akan menimpakan berbagai cobaan kepada kita dalam bentuk yang bermacam-macam. Sebagaimana yang dinyatakan dalam firman Allah Ta’ala, artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan……….” (QS: Al-Baqoroh: 155)

    Oleh sebab itu marilah kita menyadari dua hal yaitu pertama bahwa segala bentuk musibah atau bencana yang terjadi adalah merupakan ketetapan Allah Ta’ala, yang bertujuan untuk menguji ataupun memperingatkan/menghukum kita atas amalan-amalan yang telah kita lakukan. Oleh sebab itu setiap individu kita haruslah melakukan intropeksi diri dan bersabar dalam menghadapinya. Allah berfirman, artinya: “…………..,Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ” Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (Sesungguhnya, kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali)”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Robb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS: Al-Baqoroh: 155-157)

    Dalam Al-Musnad, diriwayatkan dari beliau Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam yang bersabda: “Tidak seorang pun yang tertimpa musibah, lantas mengucapkan “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Allohumma’ jurni fi mushibati wa akhlif li khoiron minha (Sesungguhnya, kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali. Ya Allah berilah aku pahala dalam musibahku dan berilah pula aku pengganti yang lebih baik darinya)”, kecuali Allah pasti memberikan pahala kepadanya atas musibahnya itu dan memberinya pula pengganti yang lebih baik daripadanya ”

    Yang kedua yaitu menyadari bahwa kehidupan ini adalah milik Allah Ta’ala, dan pasti kembali kepada Allah Ta’ala. Kalimat tersebut mengandung prinsip-prinsip agung, jika seorang hamba benar-benar memahami prinsip-prinsip itu, ia akan terhibur dari musibah yang menimpanya.

    Prinsip pertama adalah, yakin bahwa seorang hamba berserta keluarga dan hartanya benar-benar merupakan milik Allah Ta’ala. Milik Allah itu telah diserahkan kepada hambanya sebagai pinjaman, maka jika Allah mengambil kembali pinjaman itu darinya, kedudukannya seperti pemberi pinjaman yang mengambil barang yang dipinjam. Keluarga dan hartanya itu selalu berada diantara dua ketiadaan, yaitu ketiadaan sebelumnya dan ketiadaan sesudahnya. Kepemilikan hamba terhadapnya hanyalah kesenangan yang dipinjamkan dalam jangka waktu sementara. Hamba bukanlah yang mengadakannya dari ketiadaan, sehingga tidak bisa menjadi pemiliknya secara hakiki. Hamba juga tidak bisa menjaganya dari berbagai bencana setelah ia ada. Juga tidak bisa mengekalkan keberadaannya. Jadi seorang hamba sama sekali tidak memiliki pengaruh terhadapnya dan tidak memiliki secara hakiki. Bahkan, hanya dapat mempergunakannya dalam batas wewenang tertentu yang terdapat perintah dan larangan dari Allah Ta’ala, bukan sesuka hatinya. Karena itu, seorang hamba tidak berhak melakukan tindakan terhadap pinjaman tersebut kecuali yang sesuai dengan perintah Allah Ta’ala Pemiliknya yang hakiki.

    Prinsip kedua adalah yakin bahwa tempat kembali seorang hamba adalah Allah Ta’ala, tuannya yang sejati. Ia pasti akan meninggalkan dunia di belakangnya dan menghadap kepada Robbnya seorang diri, sebagaimana ketika pertama kali ia diciptakan-Nya, tanpa ditemani oleh keluarga, teman, atau kerabat, melainkan hanya ditemani oleh tingkat ketauhidan, amal kebajikan dan amal kejahatan. Bila demikian asal muasal seorang hamba, apa yang ditinggalkannya dan akhir hidupnya, bagaimana ia bisa bergembira dengan sesuatu yang ada atau berduka atas sesuatu yang tiada?

    Prinsip ketiga adalah yakin bahwa apa pun yang telah ditakdirkan menimpa dirinya, tidak mungkin untuk dihindari, sebaliknya apapun yang telah ditakdirkan terluput darinya, tidak mungkin menimpanya. Allah berfirman: “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS: Al-Hadid: 22-23).

    Jadi seorang hamba haruslah bersabar dan menyerahkan diri kepada Allah Ta’ala dengan tetap berusaha dan semangat sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Wallahu ‘Alam.

    (Dikutip dan diolah dengan penyesuaian oleh http://www.mediamuslim.info dari: ‘Ilaaju Harril Mushiybati wa Huznihaa, karya Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah)

  2. wah…saya gak menyangka bahwa Indonesia adalah ex Benua Atlantis. sudah lama saya mencari artikel penelitian tentang benua atlantis. dengan artikel ini saya mendapat informasi yang sangat berharga dan sangat bagus untuk saya.
    karena selama saya belajar hukum laut internasional saya belum sempat bertanya tentang hal ini kepada dosen saya.

  3. Wah,… saya takjub sekali membaca artikel ini, mudah2an ini bisa saya jadikan bahan pemikiran, Dan…..saya tak peduli untuk memikirkannya walau saya hanya penjual kue keliling tapi ….. saya selalu berpikir tentang alam disekitar kita, Sungguh ! Allah Maha Besar !

  4. beneran tuuuuuuuuuuu apa gosip doangggggggggggg
    kalau benar!!!!!!!!!! kita ga usah malu sama orang barat karna kita dulu kita tinggal ditempat yang pernah menjadi pusat peradan dunia

  5. buseeeeet…….! gw banga banget jadi orang indonesia hidup indonesia


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: