Oleh: apit | September 22, 2006

Revolusi Iran dan Artikulasi Perlawanan terhadap Imprealisme

REVOLUSI ibarat sebilah pedang bermata ganda. Ia senantiasa mengundang simpati, dan juga ironi. Di satu sisi, ia dirindukan banyak orang lantaran menjanjikan sebuah perubahan tatanan yang radikal. Pada sisi lain, ia sangat ditakuti karena ongkosnya demikian mahal, selalu diikuti dengan aksi kerusuhan dan jatuhnya banyak korban. Revolusi seringkali juga memakan “anak-anak”-nya sendiri.

Demikianlah revolusi Islam di Iran pada 11 Februari 1979, atau 26 tahun lalu. Sebuah gerakan rakyat (popular movement) melawan rezim diktator Shah yang lalim dan menindas, pada akhirnya justru berubah menjadi sebuah pemerintahan diktator religius, di mana kekuasaan mutlak dipegang kelompok konservatif yakni di tangan para Mullah, (Suroosh Irfani, Iran’s Islamic Revolution: Popular Liberation or Religious Dictatorship?, 1983). Alan Woods mengkritik lebih keras bahwa revolusi Iran yang dipimpin Ayatullah Khomeini telah membawa negeri itu mundur kembali pada abad ke-6 (Zayar, The Iranian Revolution: Past, Present, and Future, 2000).

After every revolution, a group of opportunists stick themselves to the revolution. This causes the revolution to deviate from its path. However, this in itself is a factor in the evolution of the revolution and revolution becomes a continuous affair,” ujar Taleqani (B. Afrasiabi and S. Dehlan, Taleqani and History, 1980). Ayatullah Taleqani adalah salah seorang aktor penting dalam revolusi Iran, yang namanya justru lenyap ditelan oleh revolusi itu sendiri.

Revolusi 1979

Kendati dicibir banyak orang, revolusi 1979 juga dikagumi karena telah memberikan sumbangan berharga kepada sejarah dan peradaban. Pertama, revolusi Islam Iran menghadirkan agama sebagai basis teori emansipatoris alternatif — seperti halnya teologi pembebasan di Amerika Latin. Agama ternyata bisa menjadi ide besar motor perubahan, berbeda dengan gagasan kiri Marxist, world system theory dan dependency theory. Sumbangan ini tentu tidak bisa lepas dari kiprah aktor intelektual revolusi Iran, Ali Syari’ati.

Tesis Syari’ati yang paling monumental adalah bahwa kesadaran kolektif yang menjadi basis gerakan revolusioner tidak selalu berangkat dari kesadaran kelas — seperti konsep Marx — tetapi juga dari kesadaran agama yang radikal (Ali Rahnema, an Islamic Utopian: a Political Biography of Ali Shari’ati, 2000). Ia berhasil menggabungkan teori dialektika dengan teologi emansipatoris yang revolusioner.

Kala itu, tidak ada orang yang percaya bahwa agama dapat mengambil inisiatif terjadinya revolusi. Tak pernah ada orang yang percaya pada kekuatan tradisi atau semangat agama dari rakyat di negara-negara berkembang yang bisa dijadikan sebagai sentimen teologis terhadap anti-imperialisme.

Syari’ati berhasil menggunakan bahasa agama sebagai simbol perlawanan yang merupakan artikulasi kelas. Ia percaya bahwa kesadaran agama radikal yang dibentuk oleh proses sosial yang timpang merupakan evolusi historisitas itu sendiri.

Ia berhasil menemukan gagasan Syi’ah yang semula berwajah mesianik menjadi sangat revolusioner. Syari’ati berhasil melakukan sintesis antara sosialisme dan Syi’ah, untuk membangkitkan perlawanan terhadap rezim Pahlevi melalui slogan anti-imperialisme dan kapitalisme. Ia juga berhasil menemukan pandangan Syiah baru sebagai simbol revolusi yang mengekspresikan bangsa Iran yang merdeka, sekaligus mempunyai komitmen yang kuat dalam memperjuangkan keadilan sosial.

Revolusi 1979 merupakan koalisi luas, melibatkan berbagai basis sosial yang melingkupi sentimen-sentimen kelas dan subkultur dalam masyarakat seperti gerakan mahasiswa, aktivis gerilyawan bawah tanah, dan para mullah yang cemas dengan proses westernisasi. Revolusi ini juga disebut sebagai perjuangan kaum bazari yang dipimpin para mullah dan merupakan artikulasi keresahan orang-orang miskin, kelas menengah yang secara politik ditindas dan kelompok-kelompok minoritas di kalangan elite yang menginginkan perubahan karena mengalami dislokasi politik akibat tekanan rezim penguasa.

Kedua, “kemenangan” melawan hegemoni Barat dan kapitalisme global. Revolusi Iran bukanlah semata revolusi di dalam negeri saja (revolution within nation), namun juga sebuah artikulasi melawan imperialisme Barat dan kapitalisme global (revolution challenge global capitalism).

Keberhasilan revolusi 1979 merupakan fenomena spektakuler karena berhasil meruntuhkan Dinasti Pahlevi yang didukung negara adidaya Amerika Serikat. Bukan hanya Shah Iran yang terbirit-birit melarikan diri ke luar negeri, tetapi AS juga kehilangan muka alias dipermalukan.

Revolusi era globalisasi

Setiap tahunnya, berbagai nostalgia revolusi selalu diperingati, mulai dari Kuba, Meksiko, Rusia, Cina, Iran, dan negara-negara lainnya. Akankah revolusi terjadi lagi pada masa mendatang, khususnya di era globalisasi? Dengan agama atau ideologi lain sebagai motor penggeraknya?

Dalam buku The Future of Revolutions: Rethinking Radical Change in the Age of Globalization (2003), sejumlah pengamat revolusi seperti John Foran dkk membahas panjang lebar ihwal masa depan revolusi. Membincang soal revolusi pada masa mendatang adalah bergantung pada definisi yang digunakan.

Bagi kalangan konservatif, terutama penganut tesis berakhirnya sejarah (the end of history), revolution is over, revolusi sudah selesai dengan kemenangan kapitalisme. Tesis ini juga disemangati oleh Margaret Thatcher dengan jargon TINA (There is no alternative). Era globalisasi juga telah menyempitkan peran negara sehingga revolusi dalam arti perubahan radikal dalam sebuah negara dan struktur masyarakat dengan ongkosnya yang sangat mahal tampaknya mustahil akan terjadi kembali.

Bagi kelompok kedua, revolusi belumlah selesai selama keadilan dan distribusi sosial ekonomi masih timpang. Pada kenyataannya, era globalisasi justru kian melebarkan jurang antara kaya dan miskin, antara negara maju dan negara berkembang. Neoliberalisme dan kapitalisme kian eksploitatif dan menindas.

Menurut penulis, revolusi tidak akan terjadi selama keadilan sosial benar-benar dapat diwujudkan. Sebaliknya, jika keadilan, redistribusi ekonomi, sosial, dan politik seperti yang dijanjikan neoliberalisme dan kapitalisme hanya sebatas angan-angan, tentu akan mengundang perlawanan dari kelompok yang berjuang menuntut keadilan sosial.

Menurut Trotsky (1961), a revolution takes place only when there is no other way out. Revolusi akan terjadi tatkala ada kondisi objektif yang tak bisa diubah tanpa revolusi itu sendiri. Jika kesejahteraan dan kemakmuran yang dijanjikan kapitalisme dan neoliberalisme tak juga terwujudkan, revolusi akan terulang menjadi kenyataan yang tak terelakkan. Jadi, revolutions will continue to be with us. Revolusi belum selesai, Bung!

(Imam Cahyono, aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah/JIMM, peneliti al-Maun Foundation, Jakarta)***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: