Oleh: apit | September 15, 2006

Tragedi 14 Mei 1998

Oleh: Rosihan Anwar*

 

BERKAITAN dengan Hari Pers Nasional 9 Februari 2003, saya sampaikan pengalaman sejumlah wartawan Indonesia tanggal 14 Mei 1998 yang disebut dalam sejarah sebagai Jakarta s infamous May riots.

Lima tahun lalu, sejumlah wartawan tergesa-gesa balik dari Solo ke Jakarta, menumpang kereta api Argo Lawu, Kamis pagi 14 Mei 1998. Mereka baru satu hari menghadiri lokakarya pers, dan mengeluarkan Dekla rasi Wartawan yang dirumuskan Tribuana Said. Deklarasi itu menyatakan, kemerdekaan pers berdasar hak asasi manusia harus ditegakkan. Ketika para wartawan berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, 12 Mei me nuju Solo, tak kurang 6.000 mahasiswa berdemonstrasi menuntut turunnya Presiden Soeharto. Mereka adalah wartawan senior: Djafar Assegaff, RH Siregar, Samuel Pardede, Sinansari Ecip, Tarman Azzam, Au gust Parengkuan, dan saya sendiri. Ikut rombongan, Rani D Sutrisno, pengelola cafe Club 45, Jalan Merde ka Timur 17. Seraya Argo Lawu melaju, mereka ingat demo mahasiswa Universitas Trisakti Selasa 12 Mei. Pukul 17.45 empat mahasiswa tewas tertembak peluru tajam aparat. Keempat mahasiswa itu Hendriawan Sei (20), Elang Mulya (19), Hafidin Royan (21), Hery Hartanto (21) dinamakan: Pahlawan Reformasi. Saat dimakamkan 13 Mei, beberapa tokoh yang mendukung aksi mahasiswa seperti Amien Rais, Emil Salim, Bu yung Nasution, datang di kampus menyampaikan belasungkawa. Mereka juga ingat pertemuan Presiden Soeharto dengan masyarakat Indonesia di Kairo malam 12 Mei. Soeharto berkata “Jika rakyat tidak lagi percaya pada saya, tidak apa-apa, ya sudah. Saya tidak akan berkuasa terus dengan kekuatan senjata. Bukan seperti itu. Saya akan menjadi pandito, mendekatkan diri kepada Tuhan”. Harian Kompas lalu mem beritakan: Soeharto Siap Mengundurkan Diri.

Berpacu dalam Argo Lawu!

Kereta api melaju. Cirebon sudah lewat. Wartawan yang punya HP memonitor perkembangan Jakarta. Siregar dan saya tak punya HP, jadi menerima informasi dari tangan kedua. Beritanya: di Jakarta, dari pagi pukul 09.00 terjadi kebakaran, dimulai kobaran asap di Grogol. Toko-toko di daerah Kota milik Tionghoa dibakar dan isinya digedor. Jalan Kapten Tendean dan Jalan Warung Buncit penuh penjarah. Swalayan Gol den Truly jadi sasaran. Huru-hara merebak di DKI Jakarta. Argo Lawu berjalan pelan saat memasuki Beka si. Toko Swalayan Yogya yang letaknya dekat rel kereta api mengepulkan asap. Rakyat yang menjarah menggotong kulkas, pesawat televisi, mebel, dan barang lain. Saya tak melihat aparat keamanan. Tiada Polri dan TNI. Apakah Pangdam Jaya Mayjen Syafrie Syamsuddin lalai melakukan tugasnya? Jendela Argo Lawu dilempari batu. Karena kacanya tebal, hanya timbul keretakan. Plaza Central Klender terbakar. Suasa na mencekam amat terasa. Para wartawan di Argo Lawu lewat HP sibuk cari informasi. Di stasiun mana yang aman turun? Jatinegara atau Gambir? Selagi kereta api masih bergerak, sebelum sampai di Jatinegara Djafar Assegaff telah meloncat ke bawah. Ia dijemput keluarganya. Tarman Azzam berbuat yang sama, me loncat di Jatinegara. Tetapi Siregar, Sinansari, August Parengkuan dan saya terus ke Gambir. Siregar dan Sinansari pulang bersama dalam bus. August dan saya menitipkan koper di Cafe Club 45, lalu berjalan kaki pulang. Rani D Sutrisno pengelola kafe juga berjalan kaki menuju Kemang. Cucu saya, Dhira beserta temannya Ame telah menunggu dekat Patung Tani, Menteng, tetapi karena saya mengambil jalan lain, kami tidak saling jumpa. Dhira khawatir karena ia melihat rakyat menjarah toko Hero, mengangkat barang jara han dengan trolley dan Opa tak kunjung muncul. Padahal saya dan August berjalan pelan menyusuri rel kereta api Gambir-Cikini. Kami berpapasan dengan pemuda pemudi yang baru menyaksikan huru-hara. Me reka mengenali saya, berhenti sebentar, bercerita tentang apa yang mereka lihat. Hal itu terjadi beberapa kali. August heran karena banyak orang menyapa saya. Kami selamat sampai Jalan Surabaya 13. Saya ucapkan terima kasih kepada August yang setia menjaga saya. Ia lalu naik motor ojek menuju redaksi Kompas. Selama hari-hari berikut saya memantau perkembangan. Saya telepon teman-teman yang punya inside information, saya ikuti berita media cetak dan elektronik, dalam dan luar negeri. Memang, saya tak punya koran lagi, karena harian Pedoman dilarang terbit oleh Soeharto tahun 1974, tetapi naluri wartawan belum padam. Maka, saya berusaha berada on top of the news. Saya merasa bangsa Indonesia sedang menghadapi suatu perubahan dalam sejarahnya. Apakah yang terjadi selanjutnya? Beberapa catatan selayang pandang menyusul.

PRESIDEN Soeharto kembali dari konferensi G-15 di Kairo, Jumat pagi 15 Mei. Dari Bandara Halim Perdana kusuma ia dikawal konvoi puluhan kendaraan. Di tengah jalan dia melihat puing-puing kehancuran gedung akibat huru-hara 14 Mei. Dia belum punya gambaran tentang kasus-kasus perkosaan terhadap perempuan keturunan Tionghoa. Setibanya di Cendana dia bicara dengan Jenderal Wiranto, lalu dengan keempat Menko. Ia instruksikan harga BBM (bahan bakar minyak) segera diturunkan untuk meredakan gelombang demo.

Hari Jumat itu Soeharto tahu para pemimpin NU telah mengeluarkan keterangan pers yang memuji Presiden karena bersedia melepas jabatan. Hari itu Soeharto tahu, tiga grup Golkar yakni Kosgoro, KNPI, dan sejumlah veteran tiada lagi mendukungnya.

Hari Sabtu 16 Mei Soeharto menerima delegasi para rektor universitas seluruh Indonesia di Istana. Delegasi dipimpin Rektor UI Asman Boedisantoso yang memberitahukan, tawaran Presiden untuk mundur mendapat sambutan baik di kalangan mahasiswa. Soeharto menerima tamu berikut, Ketua MPR/DPR Harmoko yang disertai empat wakil ketua: Abdul Gafur, Syarwan Hamid, Ismail Hasan Metareum, Fatima Achmad. Harmoko minta Soeharto mengundurkan diri. Soeharto terkejut melihat sikap Harmoko. Ia telah membesarkan Harmoko, kini Harmoko membelot. Sebenarnya Harmoko melakukan patricide. Dalam drama Yunani klasik orang membunuh bapaknya dulu sebelum naik berkuasa. Itulah patricide atau “bunuh ba pak”. Harmoko telah mengerjakannya tahun 1973 saat di Kongres Tretes, dia mengambil alih pimpinan PWI sebagai langkah pertama perjalanan kariernya menjadi Menteri Penerangan, Ketua Umum Golkar, dan Ketua MPR/DPR. Pelaku baru muncul di pentas yaitu tokoh Islam Prof Nurcholish Madjid. Tanggal 14 Mei dia diundang Kaster ABRI Susilo Bambang Yudhoyono untuk membicarakan situasi. Buntut pertemuan itu, Nurcholish mengadakan konferensi pers tanggal 16 Mei, menyerukan Soeharto supaya diadakan pemilu untuk membentuk DPR/MPR baru. Para wartawan yang biasa meliput di Mabes ABRI mendapat siaran pers yang sumbernya tak jelas; isinya menyatakan, ABRI mendukung pandangan NU. Panglima Kostrad Letjen Prabowo menyampaikan pendapatnya kepada Soeharto bahwa press release itu berarti ABRI minta Presi den turun. Soeharto menanyakan kepada KSAD Subagyo apakah hal itu benar? Subagyo membantah. Wiranto juga menyatakan sikap serupa. Rupanya ABRI belum mau menyatakan secara terbuka kepada siapa dia berpihak.

Hari Minggu 17 Mei, sebuah delegasi mahasiswa menemui Harmoko di Gedung MPR/DPR, mereka menuntut agar Soeharto turun. Harmoko lalu mengadakan konferensi pers bersama para deputinya. Pimpinan DPR itu mengimbau Soeharto bertindak arif dan melakukan hal yang benar yakni berhenti.

Hari Senin 18 Mei, penonton televisi melihat Jenderal Wiranto mengatakan bahwa statement Harmoko itu pendapat pribadi, bukan institusi, tak punya dasar hukum. Hari Senin itu Nurcholish Madjid diundang ke Cendana. Soeharto setuju dengan usul Nurcholish untuk mengadakan pemilu. Tapi, usul itu telah dikejar kejadian-kejadian yang berlangsung cepat.

Hari Selasa 19 Mei pukul 09.00 malam, sembilan pemimpin golongan Islam diundang ke Cendana bertemu Soeharto yang mengungkapkan rencana membentuk Komite Reformasi dan Kabinet Reformasi. Para pemimpin Islam tak mau ikut. Hari Selasa paginya Ginanjar Kartasasmita bersama para menteri ekonomi bertemu di Gedung Bappenas. Ke-14 menteri, di antaranya Akbar Tandjung, membuat memo, berisi pernyataan menarik diri dari kabinet. Ginanjar cs diketahui berpihak kepada Wapres BJ Habibie.
AMIEN Rais membatalkan rencananya menggelar demo satu juta orang di Lapangan Monas hari Rabu tanggal 20 Mei. Tempat itu telah dijaga ketat oleh ABRI. Rabu Sore Harmoko menyampaikan ultimatum ketiga kalinya, kalau Soeharto tidak turun, ia akan menggelar Sidang Istimewa MPR yang bisa memecat Presiden. Dari Amerika ada berita bahwa Menlu Madeleine Albright dalam pidato di Virginia menyerukan, Presiden Soeharto supaya turun. Memo Ginanjar cs yang disimpan oleh Sekneg Saadilah diperlihatkan kepada Soeharto. Presiden kaget sekali.

Pukul 09.00 malam, Saadilah dan Yusril Ihza Mahendra, penulis pidato Presiden yang bekerja di Sekretariat Negara, melaporkan bahwa dari 45 orang yang mereka hubungi untuk duduk dalam Komite Reformasi hanya tiga orang yang bersedia. “Ya sudah, kalau begitu saya mengundurkan diri,” kata Soeharto.

Pukul 11.00 malam, Soeharto memanggil Saadilah, Mahendra, dan Wiranto untuk menyampaikan keputusannya untuk lengser dan menyerahkan kekuasaan kepada Habibie.

Hari Kamis 21 Mei sekitar pukul 06.00 pagi telepon saya berdering. Rani D Sutrisno memberitahukan “Soeharto sudah turun, Om”. Lalu menyusul telepon dari teman saya Soedarpo Sastrosatomo “it’s all over”. Saya tonton televisi. Adegan yang ditayangkan ialah penyerahan kekuasaan dari Presiden Soeharto kepada Wakil Presiden BJ Habibie di Istana Negara, disaksikan oleh Ketua Mahkamah Agung Sarwata. Habi bie diambil sumpahnya. Wiranto tampil di depan mikrofon, berjanji bahwa ABRI menjamin keselamatan dan kehormatan mantan Presiden, termasuk Soeharto dan keluarganya. Di layar TV tampak Soeharto bersama putrinya Tutut meninggalkan istana.

Tamatlah riwayat orang yang secara otoriter-diktatorial feodalistik Jawa memerintah Indonesia 32 tahun. Seminggu setelah huru-hara 14 Mei 1998, Soeharto lengser akibat perlawanan mahasiswa dan rakyat yang muak dengan penguasa korup, munafik, serta arogan.

*Rosihan Anwar, wartawan senior, tinggal di Jakarta.


Responses

  1. Disini ada cerita
    Tentang kita yang mau berbagi cinta
    Dengan sesama manusia
    Disini ada cerita
    Tantang kita yang menderita
    Karena cinta pada manusia
    Disini ada cerita
    http://www.pena-98.com
    http://www.adiannapitupulu.blogspot.com

  2. thnaks mas sekjen infonya. saya link ya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: