Oleh: apit | September 14, 2006

Sejarah Salah Kaprah

Dalam sebuah keluarga bernama teater rakyat Betawi, lenong dan topeng betawi ibarat saudara kandung. Wajah mereka mirip, membuat banyak orang salah terka. Bertahun-tahun, H. Bokir, Nasir T(openg) atau Mpok Nori dianggap sebagai pentolan lenong. “Itu salah kaprah. Mereka sebenarnya orang topeng,” ucap S.M Ardan. Penontonnya seperti tak memperhatikan, dari papan namanya saja jelas terbaca, kumpulan mereka bernama “Topeng Betawi Setia Warga”. Sama sekali terbebas dari embel-embel lenong.

Mengapa lenong dan topeng bisa membingungkan banyak orang? Ternyata kisahnya berawal dari proyek revitalisasi TIM tahun 1970-an. Saat itu, untuk meramaikan panggung, para punggawa TIM mengundang “bintang-bintang” berbagai grup topeng betawi sebagai pemain tamu. Nah, begitu lenong meledak, Bokir dan kawan-kawan langsung lekat dengan cap sebagai pentolan lenong. Padahal, dua teater rakyat ini banyak bedanya. Lenong wajib diiringi gambang kromong dengan rebab cina, sedangkan topeng diiringi gamelan dan rebab sunda. Lagu-lagu yang dibawakan pun lain. Kalau lenong mengakrabi tembang-tembang Betawi dan Cina seperti Jali-Jali, Cente Manis, Si Pat Mo atau Sam Yi Lok, topeng banyak mengangkat lagu Sunda. Begitu pula dramaturginya. Pertunjukan lenong dibuka dengan acara nyanyi bersama disertai gerak maju mundur para pemainnya. Tapi topeng, diawali tarian yang biasanya dibawakan seorang penari wanita dan seorang pe-bodor laki-laki. Belum lagi soal cerita, yang satu mengisahkan kepahlawanan, satunya lebih banyak soal kehidupan sehari-hari.

Tapi yang paling membedakan, menurut S.M Ardan, adalah sejarahnya. Konon, lenong pertama kali muncul dan berkembang dalam masyarakat Betawi Tengah, sementara topeng lahir di kalangan masyarakat Betawi Pinggir (perbatasan dengan Jawa Barat). Ini berpengaruh ke soal bahasa yang digunakan. Misalnya, “Di tengah, masyarakatnya biasa ngomong Gue sih ogah, tapi di pinggir, kalimat yang sama diucapkan Gua mah embung!” Beda, kan? Belakangan, makin parah saja. Tak cuma topeng, tapi hampir semua sandiwara dialek Betawi disebut lenong. Sebuah salah kaprah yang harus diluruskan. Iye enggak, Bang! [Muhammad Sulhi]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: