Oleh: apit | September 14, 2006

Lenong Betawi

serta mengatur kehidupan dengan menyusun norma, etika, dan hukum yang menjadi acuan ketertiban. Beradab atau tidaknya sebuah bangsa bisa diukur dari sini, ketika kita membicarakan budaya  cakupannya sangat luas dimulai dari ilmu pengetahuan sampai kesenian yang merupakan simbol dari bentuk pengungkapan atau pesan, bila seorang melihat kesenian ada yang menganggap sebagai hiburan dan ada pula yang menjadikan sebagai instrumen untuk melakukan pencerahan pada masyarakat seperti penggunaan wayang oleh para wali untuk melakukan syi’ar.

Pada konteks mayarakat Betawi banyak melahirkan seni kerakyatan, memang kalau kita telusuri garis sejarah terciptanya tidak terlepas dari proses akulturasi seni yang datang dari luar, sebab secara geografis masyarakat Betawi sejak masa kolonial sampai sekarang menjadi pintu atau corong perdagangan yang akan masuk ke Nusantara sehingga realitas ini mempunyai peran untuk membentuk kesadaran mayarakat yang lebih terbuka terhadap budaya yang datang dari luar, sebab masyarakat yang berada pada jalur perdagangan lebih mudah terjadi penyerapan budaya yang prosesnya nanti akan terjadi proses pembentukan kesenian, ini terjadi pada masyarakat Indonesia secara umum khususnya Betawi.

Salah satu kesenian rakyat yang terjadi akulturasi adalah lenong, untuk saat ini kesenian lenong cukup populis dimata penduduk Jakarta karena sudah terjadi pempublikasian lewat media dan acara-acara pertunjukan dalam ruang lingkup kesejarahan masyarakat Cina mempunyai banyak konstribusi untuk lenong itu sendiri sehingga banyak pencorakan yang bersentuhan dengan ke Cina-an hal ini disebabkan  pada awal pertumbuhannya dibina dan dikembangkan oleh masyarakat Cina, walau pun demikian dapat diramu oleh masyarakat Betawi dan menjadikan sebuah kekayaan kebudayaan, jika kita telaah lebih dalam mengenai lenong maka kesenian ini bertujuan menggambarkan sebuah realitas sehari-hari kemasyarakatan, lenong merupakan pematerialan dari teater tutur gambang rancak menjadi teater peran sehingga terbentuklah lenong, dalam pertunjukan lenong diperlukan pendekoran panggung, pemakaian pakaian dan iringan musik sesuai dengan tema yang diangkat untuk mengawali pertunjukan biasanya dimulai dengan permainan musik gambang kromong untuk memanggil penonton supaya datang, atau dalam pembukaan dimainkan lagu angkat selamat sebagai tanda penghormatan, sementara dalam hal cara esktra dibawakan lagu-lagu khas Betawi seperti jali-jali, persi, stambul, center manis, seret balok, renggong manis dll.

Pada zaman dahulu lenong diperuntukkan untuk stratifikasi sosial tertentu yaitu raja dan bangsawan sehingga penyajiannya pun hanya bekutat pada lingkaran kaum tersebut sehingga timbul ungkapan “kaya raja lenong”untuk menunjukan orang yang bergaya feodal. Dalam perkembangan lenong itu sendiri terdapat beberapa macam jenis lenong sesuai dengan tema dan realitas yang mau diangkat diantaranya adalah : Lenong Dines, Wayang Senggol, Wayang Sumedar, Lenong Preman, dan Wayang Si Ronda.

 

 

a. Lenong Dines 

Pada bentuk penyajian lenong dines menampilkan, menggambarkan dan menceritakan kehidupan para raja dan kaum bangsawan. Oleh sebab itu dinamakan lenong dines, sesuai dengan alur ceritanya yang mengisahkan orang-orang dan tokoh-tokoh yang berkedudukan tinggi sesuai dengan stereotip kebangsawanan, maka perangkat lenong pun disinergiskan dengan pencitraan tersebut, dimulai dari pendekoran panggung serta  penggunaan pakaian yang menggunakan pakaian kerajaan dengan menggunakan bahasa “melayu tinggi” seperti kata-kata: Hamba, Kakanda, Adinda, Beliau, Syahdan, Berdatang Sembah, dsb. Oleh karena itu, sangat sulit dimengerti oleh para penonton bahkan pemain lenong itu sendiri disebabkan oleh penyajian yang sangat kaku sehingga sulit menampilkan guyonan yang diminati oleh khalayak banyak yang dampaknya mengalami kemorosotan peminat untuk menonton lenong.

Sekarang ini lenong dihadirkan kepada seluruh komponen mayarakat dengan tinjauan prospektif ekonomi, hingga saat ini rombongan lenong yang ada antara lain lenong dines pimpinan Rais di Cakung, pimpinan Samad Modo di Pekayon, pimpinan Tohir di Ceger dan pimpinan Mis Bulet Babelan.     

b. Wayang Senggol

Pada wayang senggol mempunyai perbedaan tersendri dengan wayang dines terlihat dari bentuk pembawaannya dengan menggunakan kain sebagai alat pengganti benda-benda pertunjukan seperti golok, gada, dll. Nantinya selendang tersebut hanya disegol-sengol saja dalam bentuk gerak-gerak tari yang luwes terutama pada pembawaan memperagakan perkelahian di atas pentas. Lakon-lakon yang dibawakan oleh wayang senggol terutama diambil dari cerita-cerita panji seperti “Candrakirana” Jaka Sembung, dll, perlengkapan panggungnya dengan saben yaitu penutup sebelah samping agar penonton tidak dapat melihat ke belakang panggung, layar-layar seperti ini disebut “kere”. Memang jika dilihat untuk saat ini wayang senggol pada tiga dasawarsa ini sudah hampir menghilang dan ada dibeberapa tempat yang masih tetap bertahan seperi wayang senggol pimpinan Seng Lun di Karang Anyar, di Krikut pimpinan Pak Utan, dan di Pasar Baru pimpinan Abdurahman.  

 

c. Wayang Sumedar 

Untuk wayang sumedar memiliki dekor layar berwarna polos yang dijadikan penghalang antara pentas dengan tempat duduk pemain di belakang panggung, dalam pergelaran wayang sumedar kadang kala disajikan cerita-cerita komedi kaum bangsawan seperti : Jula Jali Bintang Tiga, Saiful Muluk, dsb. Sebelum perang dunia kedua wayang sumedar masih terdapat di Kebun Jeruk pimpinan Ahmad Batarfi, pada dasawarsa ini sulit mengetahui secara lengkap jenis teater seperti ini.

 

 

d. Lenong Preman     

Sesuai dengan namanya, lenong ini menampilkan cerita tentang kehidupan sehari-hari  para jagoan jagoan, tuan tanah, drama rumah tangga, dll. Sesuai dengan ceritanya wayang preman menggunakn pakaian pentas pun seperti para jawara berbentuk celana dan baju potong koko serta pangsi, kaos oblong, ikat kepala yang istilah setempat diberi nama ”setangan” dan penggunaan bahasanya pun menggunakan bahasa sehari-hari Betawi, bagi pemain yang memiliki keterampilan silat biasanya acap kali melontarkan kata-kata yang humoris supaya mudah dicerna oleh penonton, untuk pendekoran panggung disesuaikan dengan alur cerita, lenong preman terdapat pada wilayah Kabupaten Bekasi, Tangerang, Bogor dan wilayah DKI Jakarta, diantara rombongan lenong antara lain: Gaya Baru di Gunung Sundar milik Liem Kim Song, di Teluk Gong milik Nion Hak San, Tiga Saudara di Mauk Tangerang milik Pak Ayon, Sinar Subur di Bojong Sari milik Asim. 

 e. Wayang Si Ronda 

Mengenai wayang si ronda ini ada sedikit berdebatan yaitu tentang awal terbentuknya. Ada yang menyatakan bahwa wanyang si ronda merupakan bentuk degradasi dari lenong preman akan tetapi pembuktiannya secara ilmiah tidak bisa diungkapkan, yang jelas kesenian ini mempunyai corak dalam pementasannya dengan bermain di atas tanah  serta menggunakan sebuah layar yang menjadi penghalang antar pentas dan bagian belakang panggung untuk mengganti pakaian, berias, dan tempat duduk pemain sambil menunggu maju ke atas panggung. Rombongan lenong jenis ini yang masih ada antara lain: Samad Modo, Amsar, Iman, dan Kami dengan penyebarannya pada wilayah pinggiran Kelapa Dua, Parung dan di Kresek Tangerang.  

Dengan menelusuri bentuk-bentuk kesenian lenong maka terbersit dihati dan pikiran kita bahwa dahulunya kesenian ini digunakan sebagai media untuk menggambarkan dan menyampaikan realitas masyarakat dengan misi melakukan pencerahan walaupun untuk sekarang hanya berfungsi sebagai hiburan akan tetapi jiwa dan semangatnya tidak pernah redup, maka tugas kita sekarang ini adalah menyesuaikan pada kondisi zaman sebagai instrumen caunter hegemoni Barat (RTR02)


Responses

  1. Tolong artikelnya diperbaiki, karena masih banyak ketikan yang salah. Terimakasih!

  2. alangkah lebih baik jika penulis lebih fokus terhadap sudut pandang penulis melihat kesenian tetaer lenong betawi itu sendiri. bukan hanya sekedar pendeskripsian saja. terimakasih sebelumnya🙂

  3. Tolong artikelnya diperbaiki, diperbanyak, dan diharapkan ulasan lebih mendalam.

  4. thanks berat buat yg nulis artikel ini.. saya udah nyari kmana2 tp, g ada yg bagus seperti ini. mungkin karena sangat sedikit orang yang mengerti dan peduli dengan seni betawi akhir2 ini.

    at least turut berduka cita atas meninggalnya bapak mantan presiden Soeharto. you will always in my heart..

  5. makasih sblumnya. tapi, kalo bisa djelasin juga fungsi, makna, dan peranan lenong. tararengkyu. hehe ^^

  6. Berguna bagt nih. Secara gue jadi astrada di drama lenong kelas gue buat festival. Tapi mohon lebih spesifik lagi, yaw! Misalnya fungsinya, dll. Tq very much, much, much!

  7. aku sukaini tetapi kalau bisa ada teks drama nyayaaaaaa🙂

  8. Lenong “GAYA BARU” alamat nya di gunung sindur bukan gunung sundar itu alamat yg lama klo sekarang alamat nya di daerah muncul serpong bsd .. Saya sebagai cucu pemimpin lenong GAYA BARU mngucapkan Trima kasih buat artikel nya wlpun ada bebrapa yg salah untuk penulisaan nya ..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: