Oleh: apit | September 12, 2006

Refleksi Kenaikan BBM dan Maidaturrahman

By: Apit Kranji 

Lebaran di negri orang, ngga pernah ada dalam daftar keinginan gw, walau dalam mimpi. Tapi ternyata sekarang gw ngga lagi mimpi. Gw benar-benar lebaran di negeri orang, Coy! Sebenarnya gw dateng ke negeri Fir’aun ini tahun kemarin. Jadi, lebaran kali ini adalah lebaran kedua gw di negeri orang. Lagi-lagi tanpa cium mesra orangtua, baju baru, riuh kata maaf dan uluran tangan handai tolan, sanak famili dan sobat-sobat gw di tanah air. Ramadhan di Mesir cukup unik, bahkan kalo boleh sedikit sentimen, cuma di bulan Ramadhan gw merasakan kebaikan orang Mesir yang kongkrit, yaitu lewat maidaturrahman dan pembagian musa’adah [bantuan] entah berupa uang atau sembako. Bukan gw mata tho’aman, duitan atau menutup mata dengan kebaikan mereka yang lain. Tapi memang hanya itu kebaikan mereka yang terasa begitu dekat dan nyata. Sekali lagi lebih kongkrit! Kabar kenaikan BBM di tanah air yang kemudian diikuti SLT (Subsidi Langsung Tunai) berupa uang sebesar Rp.300.000 sebagai solusi, bikin gw nyesek! Membayangkan kekayaan tanah, laut, dan udara Indonesia yang begitu luar biasa, membuat gw berfikir apatis; alangkah sia-sianya Tuhan menganugerahkan itu semua untuk rakyat Indonesia! Hikss..Solusi fatamorgana SLT yang ditawarkan pemerintah Indonesia untuk rakyat miskin mengingatkan gw pada maidaturrahman ala mesir. Sebuah anugerah sosial yang begitu akrab dengan masyarakat Mesir, miskin atau pun kaya. Yang dimaksud budaya maidaturrahman di mesir adalah acara buka puasa bersama tiap hari selama Ramadhan di masjid-masjid atau tempat-tempat umum yang mudah dijangkau masyarakat. Buka puasa bersama ini biasanya didanai oleh muhsinin-muhsinin [Dermawan] Mesir. Jazakumullah khairaa. Karena an-sich dari masalah BBM adalah persoalan perut [baca: makan], maka solusinya harus tidak jauh-jauh dari urusan perut.  Orang yang berdalih menggunakan BBM untuk kerja [karena mobil atau motor butuh bensin] pun tujuan akhirnya pasti makan. Karena manusia nggak mungkin hidup tanpa makan. Urusan perut memang paling sensitif buat rakyat Indonesia. Bahkan konon, kalo orang Indonesia ke luar negeri pasti yang dicari lebih dulu adalah makan dan toilet. Makanya kadang ada orang yang beranggapan, “kalo ingin menguasai Indonesia, kuasailah perut rakyatnya”. Bertolak belakang memang dengan perkataannya sahabat Ali RA, “ orang yang kerjanya mikir perut mulu, maka harga dirinya sama dengan apa yang keluar dari perutnya” hii..sereem. Lanjut..Kenapa gw pilih maidaturrahman? Karena selain lebih menunjukkan sense of crisis pemerintah. maidaturrahman juga bisa menampilkan kedekatan pejabat dengan rakyatnya, si kaya dengan si miskin, dll. Lebih baik lagi kalo para beruang ikut nimbrung mensponsori jamuan berpahala ini. karena kasihan kalo hanya didanai oleh uang Negara. Kapan hutang Negara ini akan selesai kalo uangnya dibagikan hanya untuk menghantar nyawa rakyatnya? Hikkss..ikut berbela sungkawa buat saudara-saudaraku yang kembali keharibaan Tuhan saat mengantri mengambil uang SLT ini. Semoga kalian menemukan kebahagiaan di sisiNya. SLT terbukti melahirkan permasalahan baru yang lebih fatal! Selama ini buka bersama di Indonesia terkesan exclusive hanya milik pejabat, beruang, dan selebritis, Seandainya pun ada embel-embel “…bersama anak yatim, fakir-miskin, dll” di belakang kata Buka Bersama, kenyataannya toh tetap saja nampak exclusive, karena tidak semua anak yatim yang bisa ikut merasakan. Beda dengan maidaturrahman yang lebih menyeluruh dan menyentuh masyarakat akar rumput. Pelaksanaanya yang dipusatkan di masjid dan tempat-tempat umum menjadikannya mudah dijangkau. Karena gw yakin tiap daerah di Indonesia, desa maupun kota ada masjidnya. Bandingkan dengan buka bersama ala selebritis cs yang kadang dilakukan di café ini, di gedung itu. Bukan kurang bersyukur, tapi yang sering terjadi justru malah mempersulit orang yang mendapatkan undangannnya. Entah masalah pakaian yang pantaslah, transportasi lah, ngga tahu alamatnya lah, dll. Itu masih belum terbentur dengan jumlah angka yang dibatasi. Bagaimana dengan sahur???? Kalo dengan SLT khan kita ngga cuma bisa buka puasa, tapi juga sahur. Memang dana SLT bisa nanggung buka dan sahur kita sampe berapa hari? He2…Pembelaanya jadi lucu kalo dihadapkan dengan pertanyaan seperti itu. Karena memang kenyataanya jumlah dana SLT ngga seimbang dengan beban hidup kita sehari-hari. Maka itu tadi, kalo maidaturrahman ini disponsori juga oleh para beruang, maka semua pertanyaan tentang buka dan sahurnya selesai. Cuma masalah tekhnis saja, bagi tugas lah..buka bersama mungkin dengan uang dari pemerintah dan sahur dengan uang para beruang. Eih ma ba’da Ramadhan??? Nah ini dia, mungkin sekarang solusinya cuma satu, kebijakan kenaikan BBM harus dicancel! Kalo begitu kenapa ngga dari sebelum Ramadhan aja? He2..bener juga. Memang seharusnya ngga perlu ada kebijakan kenaikan BBM. Gw nggak pengen berfikir “kalo memang harus ada”,  karena berfikir seperti itu sama dengan berniat nyusahin rakyat. Sekarang ini lebih baik kita berfikir untuk lebih optimal dan maksimal mensyukuri karunia Tuhan yang begitu melimpah untuk anak negeri.  Bersyukur secara maksimal dalam artian nggak hanya teori atau berdo’a, tapi praktek alias usaha. Untuk kesejahteraan negeri ini, Syaratnya satu, semua pihak jangan hanya merasa bisa, tapi yang lebih penting lagi harus bisa merasa. Yang peka getho loch…Kita lihat setelah Iedul Fithri, ok! Kembali ke Mesir. Yang jelas maidaturrahman sangat bermanfaat buat gw. Selain bisa makan gratis, gw juga ngga perlu capek nyiapin makan untuk buka puasa. Dan sebenarnya, mereka muhsinin Mesir juga beruntung karena hadirnya gw dalam jamuan maidaturrahman, memberikan pahala buat mereka. Sebagaimana yang di sabdakan nabi kita yang diriwayatkan oleh At-Tirmidazi bahwa barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka dia mendapatkan pahala sebagaimana orang yang berpuasa itu. Hebatnya lagi tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa tersebut. Jadi pahalanya berdiri sendiri. Harapan gw untuk Indonesia kedepan bisa membudayakan maidaturrahman ini, tanpa mengaitkannya dengan kenaikan BBM. Gitu dulu deh..Sekarang gw lagi menghayati takbir yang saat ini kumandangnya mampu menguras airmata gw. Airmata untuk kerinduan pada orang tua dan keluarga, juga untuk Ramadhan kali ini yang lebih banyak sia-sianya daripada manfaatnya. Bukan ramadhannya yang salah, tapi gw-nya. Dan untuk derita sodara-sodara gw rakyat Indonesia di sana. Maaf kalo hanya do’a dan airmata ini yang bisa gw sajikan. Karena hanya inilah maidaturrahman yang gw punya..                


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: