Oleh: apit | September 12, 2006

Imtihan dan Identitas Kemahasiswaan Kita

By: Apit Kranji 

Fren, pernah ngga sih kamu merasa waktu yang kamu punya terbuang percuma? Hidup kamu serasa jalan di tempat. Karena yang kamu lakukan hari ini sama sia-sianya dengan yang kamu lakukan kemarin; main game, show-time seharian, dan chating! Weleh-weleh..Bolehlah tulisan ini dianggap curhat. Karena memang inilah “musibah” yang saat ini sedang dijalani penulis dengan penuh sukacita [walau hati ketar-ketir]. Musibah yang satu ini memang menyihir dan sangat mengasyikan. Padahal kalau dipikir-pikir, sebenarnya dia malah melenakan kita dari keharusan belajar [sebagai mahasiswa, bro! tho-li-bul-il-mi] dan kenyataan bahwa waktu semakin jauh melenggok meninggalkan kita. Dan kita, halooo….sekali lagi maseh asyik bercumbu dengan joystick dalam genggaman [baca: asyik nge-game]. Benarkah kita mahasiswa? Pertanyaan konyol yang sempat menggelitik idealisme penulis. Secara hitam-putih Azhar memang mengakui kita sebagai mahasiswanya. Namun apa coba, tanpa kita sadari, [bahkan dengan amat sadar] kita sering mencederai identitas kita sendiri sebagai mahasiswa. Hari-hari yang kita habiskan untuk chating, ngeces [istilah masisir untuk kebiasaan ngerumpi lewat telepon], ngegame, dll mengisyaratkan bahwa kita tidak loyal lagi dengan status “mahasiswa” yang kita sandang. Universitas pun hanya menjelma bank yang kita kunjungi tiap bulannya untuk mengambil duit gratis di kantor khozinah. Mahasiswa apa kita?! [sok mantap! hehe..]. Singkat kata singkat cerita, kabar ujian term-2 pun datang. Gubrakk!! Gedebuk..prangg..[maksudnya??] kita pun sibuk merangkai kembali puing-puing waktu yang telah terbuang. Kita mulai berjalan mundur kebelakang, meniti kembali lembar-lembar muqorror yang seharusnya sudah kita pelajari beberapa bulan yang lalu [hik..hik..seandainya rajin ikut muhadhoroh]. Telinga dan mata pun kita titipkan pada teman-teman yang up-date kuliah. Bahkan kalau perlu, kaki kita jalankan menuju kampus tercinta untuk sekedar mengetahui, “tahdid madah ‘anu’ sampe halaman berapa yah?”, atau “copy kholashoh donk”. Lalu kita ikuti tiap bimbingan muqorror sebagai jalan pintas mempersiapkan ujian [khan ngga perlu nunggu 80 copet]. Lembar demi lembar muqorror kita susuri dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya [red: dibaca dengan gaya bung karno] . poko’e saat itu, kita benar-benar berubah drastis 80 derajat, dari aktivis yang sekedar aktif membawa hardisk, menjadi aktivis yang getol membuka kitab hadits! ckk..ckk.. Kenapa 80 derajat? Karena kita belajarnya sambil nunggu downloadan selesai. He..he..nggak denk! Serius kok belajarnya [suerr dua minggu!]. Oh iya fren, Saat kita buka muqorror, sebenarnya secara tidak sadar kita sedang memasang kembali lencana kemahasiswaan kita. kok? Begini, Secara linguistis, saudara kembarnya mahasiswa adalah tholib atau bahkan bisa dibilang “sami mawon” karena pada hakekatnya keduanya bermakna sama yaitu seseorang yang menuntut ilmu. Nah, Idealnya seorang mahasiswa itu paling tidak dia komit dengan tugas yang tersirat dalam namanya, belajar. Begetho kawan-kawan..oke dech, karena sekarang lonceng datangnya ujian term-2 semakin nyaring terdengar, selain berdo’a supaya lulus, kita juga berharap moga moment ini akan semakin menyadarkan kita untuk lebih komit dan menghormati identitas plus tugas kita sebagai mahasiswa. Atau, mungkin kita sudah merasa cukup menjadi mahasiswa saat ujian saja??


Responses

  1. sok tauuu

  2. islam adalah agama ku
    indonesia adalah kebanggaan ku


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: