Oleh: apit | Juli 26, 2006

Surat Mahmoud Ahmadi Nejad Kepada George W. Bush

images.jpgDengan nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang

Tuan George W. Bush,  Presiden Amerika Serikat.

Sejak beberapa waktu saya sempat berpikir tentang cara menjustifikasi sejumlah kontradiksi yang tak dapat diperdebatkan dilontarkan dalam arena internasional dan diperbincangkan oleh kalangan publik, terutama kalangan politik dan akademi. Telah muncul banyak pertanyaan tentang hal ini yang tak terjawab. Karena itulah, saya memutuskan untuk menanyakan sebagian kontradiksi dan pertanyaan-pertanyaan itu. Semoga ada kesempatan untuk mengklarifikasinya.

Apakah mungkin seseorang yang mengaku sebagai pengikut, nabi agung,  Yesus (salam sejahtera atasnya), dan berpegang teguh pada hak-hak asasi manusia, menganggap Liberalisme sebagai model peradaban, menolak penyebaran senjata-senjata nuklir dan pembunuhan massal, dan pembasmian, dan belakangan berusaha membentuk satu masyarakat internasional yang satu dan universal—masyarakat yang diyakini akan dipimpin oleh Nabi Isa as dan orang-orang baik di seantero jagad, dan pada pada saat yang sama, beberapa negara menjadi sasaran agresi, nyawa-nyawa melayang, dan  kehormatan serta norma-norma mulia dilecehkan, dan dilakukan, misalnya, pembakaran dusun, kota atau karavan seluruhnya – hanya karena dugaan akan adanya sejumlah kriminal di dalamnya, atau  menguasai sebuah negara hanya karena diduga memiliki senjata pemusnah massal lalu membunuh sekitar seratus ribu penduduknya dan membumihanguskan sumber-sumber air, pertanian dan industrinya, serta menyebarkan sebuah armada militer yang terdiri dari sekitar 180.000 personil di sana, kesucian rumah-rumah dan harta benda warga diinjak-injak, dan mungkin, sebagai akibatnya, negeri tersebut dimundurkan lebih dari lima puluh tahun.

Berapa ongkosnya untuk semua ini? Ratusan milyar dolar dibelanjakan dari aset suatu negeri dan negeri-negeri lainnya; nyawa puluhan ribu pemuda dan pemudi—sebagai pasukan pendudukan—yang ditempatkan dengan cara yang buruk, dipisahkan dari  keluarga dan  orang-orang tercinta, membuat tangan mereka berlumuran dengan darah sesamanya, menekan mereka secara psikis dan moral sehingga sebagian dari mereka melakukan bunuh diri, sedangkan sebagian lain pulang ke kampung halaman dengan membawa depresi, letih, menjadi sarang aneka penyakit; sementara sebagian lain diserahkan kepada keluarga dalam bungkus keranda.

Dengan dalih palsu atas keberadaan senjata pemusnah missal (SPM), tragedi besar ini datang ditimpakan atas bangsa negara yang diduduki dan dialami oleh negara yang menduduki, lalu terbukti bahwa bahwa keberadaan senjata pemusnah massal hanyalah isapan jempol semata

Saddam memang seorang diktator dan krimninal. Tetapi tujuan yang diumumkan di balik perang tersebut bukanlah menggulingkannya, namun pelucutan SPM. Saddam tumbang dalam proses itu, dan itu membahagiakan bangsa-bangsa di kawasan ini, padahal diketahui bahwa ia menerima dukungan Barat selama perang yang dipaksakan atas Iran.

Tuan Presiden,

Anda mungkin tahu bahwa saya seorang dosen. Para mahasiswa saya bertanya, bagaimana mungkin tindakan ini direkonsiliasikan dengan nilai-nilai yang terurai pada bagian pertama surat ini dan kewajiban kepada tradisi Yesus Kristus (salam sejahtera atasnya), rasul pengampun dan kedamaian?

Ada tahanan-tahanan di Teluk Guantanamo yang belum diperiksa, tidak mempunyai perlindungan hukum, keluarga-keluarga mereka tidak bisa melihat mereka dan jelas-jelas ditahan di suatu negeri asing yang berada di luar negeri mereka sendiri. Tidak ada pengawasan internasional terhadap kondisi-kondisi dan nasib-nasib mereka. Tak seorang pun mengetahui apakah mereka itu tahanan, tawanan perang, tersangka, ataukah penjahat.

Para penyelidik Eropa telah mengkonfirmasi keberadaan penjara-penjara rahasia di Eropa juga. Saya tidak bisa menghubungkan penculikan terhadap seseorang—dan keberadaannya terjaga di penjara-penjara rahasia—dengan ketentuan-ketentuan dari sistem peradilan apa pun. Sebetulnya, saya gagal memahami bagaimana tindakan-tindakan seperti itu sesuai dengan nilai-nilai yang tergambar di permulaan surat ini, yaitu ajaran-ajaran Yesus Kristus (salam atasnya), hak asasi manusia, dan nilai-nilai liberal.

Para pemuda, mahasiswa-mahasiswa, dan orang-orang awam mempunyai banyak pertanyaan seputar fenomena Israel. Saya yakin bahwa Anda cukup akrab dengan sebagian mereka.

Sepanjang sejarah banyak negeri telah diduduki, tetapi saya kira pendirian suatu negeri baru dengan seorang orang-orang baru, merupakan suatu fenomena baru yang khusus di zaman kita.

Para mahasiswa mengatak bahwa  enam puluh tahun lalu, negeri seperti itu tidak ada. Mereka memperlihatkan dokumen-dokumen lama dan peta-peta tua seraya mengatakan bahwa sepanjang usaha yang telah kita lakukan, kita tidak mampu menemukan suatu negeri bernama Israel.

Saya meminta mereka untuk mempelajari sejarah Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Salah seorang mahasiswa mengatakan bahwa selama PD II, yang telah membinasakan lebih dari sepuluh juta orang, berita tentang perang, dengan cepat ditebarkan oleh pihak-pihak yang sedang berperang. Setiap pihak menggembar-gemborkan kemenangan dan mengumumkan kekalahan terkini pihak lain di medan tempur. Seusai perang, mereka mengklaim bahwa enam juta jiwa Yahudi telah dibunuh. Enam juta orang yang sesungguhnya terkait dengan sedikitnya dua juta keluarga.

Anggap saja bahwa peristiwa ini benar-benar terjadi. Tetapi logiskah mendirikan negara Israel di Timur Tengah sebagai ganti dari peristiwa di atas atau mendukung pembentukan negara tersebut? Bagaimana bisa peristiwa ini dirasionalisasikan atau diterangkan?

Tuan Presiden,

Saya yakin Anda mengetahui bagaimana—dan berapa biayanya—Israel didirikan:

– Ribuan orang terbunuh dalam proses.

– Jutaan orang  penduduk asli menjadi pengungsi.

– Ratusan ribu hektar tanah pertanian, perkebunan zaitun, dusun dihancurkan.

Tragedi ini tidak hanya terjadi di masa pendirian [negara Israel]; celakanya, tragedi pahit terus berkelanjutan selama enam puluh tahun hingga sekarang.

Sebuah rezim telah didirikan yang tidak menunjukkan welas pada anak-anak, menghancurkan rumah-rumah bersama penghuninya, mengumumkan terlebih dahulu daftarnya dan merencanakan membunuh tokoh-tokoh Palestina, dan menjebloskan ribuan warga Palestina ke penjara. Peristiwa tersebut sungguh unik—atau malah sangat jarang—dalam ingatan sekarang.

Pertanyaan besar lainnya  yang diajukan oleh orang-orang adalah “mengapa rezim ini didukung?” Apakah dukungan terhadap rezim ini sejalan dengan ajaran Yesus Kristus (salam atasnya) atau Musa (salam atasnya) atau nilai-nilai liberal? Atau, apakah kita benar-benar memahami bahwa membiarkan penduduk asli negeri-negeri ini—di dalam dan di luar Palestina—baik mereka itu Kristen, Muslim, ataupun Yahudi, untuk menentukan nasib mereka, bertentangan dengan prinsip demokrasi, hak asasi manusia dan ajaran para nabi? Jika tidak, mengapa ada di sana banyak oposisi pada suatu referendum?

Pemerintahan Palestina yang baru terpilih baru-baru mulai bekerja. Semua pengawas indepen telah menetapkan bahwa pemerintahan ini mewakili para pemilih. Tak dinyana, mereka telah menekan pemerintahan terpilih dan mendesaknya untuk mengakui rezim Israel, meninggalkan perjuangan dan mengikuti program-program pemerintahan yang sebelumnya.

Andaikan pemerintah Palestina sekarang melanjutkan garis di atas, akankah rakyat Palestina memilihnya? Sekali lagi, bisakah posisi yang diambil pemerintah Palestina seperti itu diharmoniskan dengan nilai-nilai yang digariskan sebelumnya? Orang-orang juga bertanya, “Mengapa semua resolusi DK PBB (UNSC) yang mengutuk Israel diveto?”

Tuan Presiden,

Sebagaimana Anda ketahui dengan baik, saya tinggal di antara orang-orang dan terus berkomunikasi dengan mereka—banyak orang dari kawasan Timur Tengah berusaha untuk menghubungi saya juga. Mereka pun tidak mempunyai kepercayaan terhadap kebijakan-kebijakan tidak ambigu ini. Ada bukti bahwa penduduk kawasan tersebut semakin marah terhadap dengan kebijakan-kebijakan tersebut.

Mengajukan banyak pertanyaan bukanlah tujuan saya, tetapi saya harus menyebutkan hal-hal lain juga.

Mengapa setiap pencapaian ilmiah dan teknologi yang diraih di Timur Tengah selalu diterjemahkan dan dilukiskan sebagai ancaman terhadap rezim Zionisme? Bukankah riset dan perkembangan ilmiah (scientific R&D) adalah salah satu hak dasar negara-negara?

Anda tahu sejarah. Kecuali Abad Pertengahan, di dalam poin lain, apakah dalam sejarah kemajuan teknologi dan ilmiah menjadi suatu kejahatan? Dapatkah kemungkinan prestasi ilmiah yang digunakan untuk tujuan militer menjadi cukup alasan untuk menentang sains dan teknologi? Jika perkiraan seperti itu benar, maka semua disiplin ilmu, mencakup ilmu fisika, ilmu kimia, matematika, kedokteran, rancang-bangun dan lain-lain harus ditentang.

Dusta-dusta disebutkan dalam masalah Irak. Apa hasilnya? Saya tidak ragu bahwa berbohong adalah perbuatan patut dicela dalam kebudayaan manapun, dan Anda tentu tidak mau dibohongi.

Tuan Presiden,

Bukankah bangsa Amerika Latin berhak mempertanyakan mengapa pemerintah-pemerintah  pilihan mereka  ditentang, sementara aksi kudeta para pemimpin didukung? Atau, mengapa mereka harus terus menerus diancam dan hidup dalam ketakutan?

Bangsa Afrika adalah bangsa pekerja keras, kreatif, dan berbakat. Mereka dapat memainkan peran yang berharga dan penting dalam menyediakan kebutuhan umat manusia dan menyumbangkan kemajuan spiritual dan material. Namun, kesulitan dan kemiskinan di sebagian besar Afrika mencegah kejadian ini. Tidakkah mereka berhak untuk menanyakan mengapa kekayaan mereka yang melimpah—termasuk mineral—sedang dirampas, padahal kenyataannya mereka lebih memerlukan ketimbang yang lain? Apakah tindakan-tindakan seperti itu senapas dengan ajaran Kristus dan nilai-nilai HAM?

Bangsa Iran yang beriman dan berani pun mempunyai banyak pertanyaan dan keluhan, termasuk: merebut kekuasaan 1953, menggulingkan pemerintah yang sah pada waktu itu, menentang Revolusi Islam, mengubah kedutaan yang menjadi sentra yang mendukung aktivitas kelompok anti-Republik Islam (ribuan halaman dokumen membenarkan klaim ini), mendukung Saddam dalam perang yang dipaksakan atas Iran, menembak jatuh pesawat sipil Iran, membekukan asset-aset bangsa Iran, meningkatkan ancaman, kejengkelan, dan kemarahan vis-à-vis kemajuan nuklir dan sain bangsa Iran (sesaat ketika semua bangsa Iran bergembira sekali dan merayakan kemajuan negeri mereka), dan banyak keluhan lain yang saya tidak akan sebutkan dalam surat ini.

Tuan Presiden,

Peristiwa 11 September adalah suatu kejadian yang menghebohkan. Pembunuhan warga tidak bersalah di belahan dunia mana pun adalah sesuatu mengerikan dan patut disayangkan. Pemerintah kami seketika mengumumkan kecaman terhadap para pelakunya dan menyampaikan duka cita dan simpati kepada keluarga yang kehilangan.

Setiap pemerintah berkewajiban untuk melindungi kehidupan, harta milik, dan kedudukan baik warganya. Tampaknya pemerintahan Anda menggunakan sistem keamanan, perlindungan, dan intelijen yang ekstensif—dan bahkan memburu lawannya ke luar negeri. Peristiwa 11 September bukanlah suatu operasi sederhana. Mungkinkah itu direncanakan dan dieksekusi tanpa koordinasi dengan pihak intelijen dan keamanan—atau infiltrasi ekstensif mereka? Tentu saja, ini hanyalah suatu terkaan cerdas. Mengapa berbagai aspek serangan itu dirahasiakan? Mengapa kita tidak diberitahu siapa yang merusak tanggung-jawab mereka? Dan, mengapa bukan pihak-pihak yang bertanggung jawab dan yang bersalah yang mesti diidentifikasi dan diajukan ke pengadilan?

Setiap pemerintah berkewajiban untuk memberikan rasa aman aman dan kedamaian pikiran bagi warganya. Selama beberapa tahun sekarang, warga negara Anda dan warga  negara tetangga Anda tidak mendapatkan kedamaian pikiran. Pasca 11 September, alih-alih menyembuhkan dan merawat luka-luka emosional dari para korban yang selamat dan orang-orang Amerika—yang telah sangat trauma oleh serangan-serangan tersebut—sejumlah media Barat malah memperburuk iklim ketakutan dan ketidakamanan, sebagian lagi terus menerus membicarakan kemungkinan serangan-serang teror baru sehingga membuat orang tetap dalam ketakutan. Itukah pelayanan kepada bangsa Amerika? Apakah mungkin mengkalkulasi kerusakan-kerusakan yang dimunculkan dari  ketakutan dan  rasa panik?

Warga Amerika terus hidup dalam kecemasan terhadap serangan-serangan baru yang bisa datang kapan saja dan di mana saja. Mereka merasa tidak aman di jalan-jalan, di tempat kerja dan di rumah mereka. Siapa yang bahagia dengan situasi ini? Mengapa media, alih-alih menyampaikan sesuatu yang menghadirkan rasa aman dan memberikan kedamaian hati, malah menciptakan rasa tidak aman?

Sebagian percaya bahwa propaganda membuka jalan—dan itu adalah pembenaran—untuk menyerang Afghanistan.  Kembali saya harus mengacu pada peran media.

Dalam etika dasar media, penyebaran informasi yang benar dan pelaporan yang jujur tentang suatu berita merupakan prinsip yang ditetapkan. Saya menyatakan penyesalan mendalam terhadap pengabaian yang ditunjukkan oleh media Barat tertentu atas prinsip-prinsip ini. Dalih palsu utama untuk menyerang Irak adalah keberadaan SPM. Hal ini diulang-ulang terus menerus—di hadapan publik agar dipercaya pada akhirnya—dan akhirnya dasar itu ditetapkan untuk menyerang Irak.

Apakah kebenaran tidak akan hilang dalam suatu iklim yang menyesatkan dan dibuat-buta? Jika kebenaran dibiarkan hilang, bagaimana mungkin itu diharmoniskan dengan nilai-nilai yang disebutkan sebelumnya? Apakah Tuhan juga tahu bahwa kebenaran itu hilang?

Tuan Presiden,

Di negara manapun di dunia, warga negaranya menyediakan biaya pemerintah agar pada gilirannya bisa melayani mereka. Pertanyaan yang mengemuka disini adalah “apa hasil ratusan milyar yang dihabiskan setiap tahun untuk membiayai invasi terhadap Irak bagi bangsa Irak?”

Sebagaimana Yang Mulia ketahui, di sejumlah negara bagian negeri Anda, orang-orang hidup dalam kemiskinan. Ribuan orang tidak punya tempat tinggal, dan pengangguran merupakan suatu masalah yang besar. Tentu saja, masalah ini ada—dalam suatu kadar yang lebih besar atau lebih sedikit—di negara-negara lain juga. Dengan kondisi-kondisi tersebut, dapatkah biaya besar invasi—yang dibayar dari kekayaan publik—diterangkan dan konsisten dengan prinsip-prinsip yang disebutkan di atas?

Apa yang telah dikatakan diatas merupakan sebagian keluhan warga dunia, di negeri kami dan di negeri Anda. Tetapi maksud utama saya—yang saya harapkan Anda akan setuju pada sebagiannya—adalah bahwa masa kekuasaan mereka hanyalah sesaat dan tidak akan berkuasa selamanya. Tetapi nama mereka akan terekam dalam pita sejarah dan, dalam jangka panjang maupun pendek, akan terus dinilai. Orang-orang akan meneliti kinerja kepresidenan kita. 

Apakah kita berusaha membawa kedamaian, keamanan, dan kesejahteraan untuk masyarakat ataukah membawa ketidakamanan dan pengangguran? Apakah kita bermaksud menegakkan keadilan, ataukah hanya mendukung kelompok-kelompok  kepentingan tertentu, dan dengan memaksa banyak orang untuk hidup dalam penderitaan dan kemiskinan—seraya menjadikan segelintir orang kaya dan berkuasa—kemudian memanipulasi persetujuan orang-orang dan Tuhan atas nama mereka? Apakah kita membela atau mengabaikan hak-hak orang tertindas? Apakah kita mempertahankan hak semua orang di dunia, ataukah memaksakan perang pada mereka, yang turut campur dalam urusan mereka, mendirikan penjara-penjara buruk dan menahan sebagian dari mereka? Apakah kita membawa keamanan dan kedamaian dunia, ataukah memunculkan hantu ancaman dan intimidasi? Apakah kita menceritakan kebenaran kepada bangsa kita dan bangsa lain di seluruh dunia, ataukah menyuguhkan versi sebaliknya? Apakah kita berpihak pada masyarakat tertindas, ataukah berpihak pada penjajah dan penindas? Apakah pemerintahan kita mulai mendorong perilaku rasional, logis, etis, damai, memenuhi kewajiban, berkeadilan, melayani manusia, makmur, maju serta menghormati martabat manusia, ataukah menggunakan kekuatan meriam, melakukan intimidasi, menciptakan ketidakamanan, melecehkan manusia, menghambat keunggulan dan kemajuan dari negara-negara lain, serta menginjak-injak hak-hak masyarakat?

Dan akhirnya, mereka akan menilai kita apakah kita tetap pada sumpah jabatan kita—untuk melayani orang-orang, yang merupakan tugas utama kita, dan tradisi para nabi– ataukah tidak?

Tuan,

Berapa lama dunia bisa bertoleransi dengan situasi ini? Kemanakah ambisi ini memimpin dunia?  Berapa lama lagi penduduk dunia harus membayar keputusan tidak benar para penguasa dari sejumlah penguasa?  Berapa banyak lagi hantu ketidakamanan akan—yang dimunculkan dari persediaan senjata pemusnah massal (SPM)—memburu warga dunia? Berapa banyak lagi darah orang-orang yang tidak bersalah, kaum wanita, dan anak-anak akan ditumpahkan di jalan-jalan? Berapa banyak lagi rumah-rumah penduduk dihancurkan? Apakah Anda puas dengan kondisi dunia yang sekarang ini? Apakah Anda menganggap kebijakan-kebijakan sekarang dapat diteruskan?

Jika milyaran dolar dibelanjakan untuk pada keamanan, serangan militer, dan mobilisasi pasukan—alih-alih dibelanjakan pada investasi dan bantuan untuk negara-negara miskin, promosi kesehatan, pembasmian berbagai penyakit, peningkatan dan pendidikan mental dan fisik, pemberian bantuan kepada korban bencana alam, produksi dan penyediaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan dan proyek pengembangan, penetapan perdamaian, memediasi negara-negara yang bertikai, dan meredakan api permusuhan rasial, kesukuan dan konflik-konflik lainnya—akan  jadi apakah dunia hari ini? Tidakkah pemerintahan Anda dan masyarakat Anda dapat dibenarkan berlaku sombong? Tidakkah posisi ekonomi dan politik administrasi Anda lebih kuat? Menyesal sekali saya harus mengatakan, apakah suatu kebencian global terus meningkat terhadap pemerintah Amerika?

Tuan Presiden,

Bukan maksud saya untuk menekan seseorang. Andaikan Nabi Ibrahim, Ishak, Ya’qub, Ismail, Yusuf, atau Yesus Kristus ada bersama kita hari ini, bagaimana mereka menilai perilaku seperti itu? Akankah kita diberi suatu peran untuk dimainkan di dunia yang dijanjikan, saat keadilan akan menjadi universal dan Yesus Kristus akan hadir? Akankah mereka menerima kita?

Pertanyaan pokok saya adalah sebagai berikut: Tidak adakah jalan yang lebih baik saling berinteraksi dengan warga dunia? Hari ini ada ratus juta orang Kristen, ratusan juta Muslim dan berjuta-juta orang yang mengikuti ajaran Musa. Semua agama Ilahi ini saling berbagi dan menghormati satu kata dan itu adalah “monoteisme” atau kepercayaan pada satu Tuhan dan tidak ada yang lain di dunia.

Al-Quran menekankan kata yang umum ini dan menyeru semua pengikut agama Ilahi dengan mengatakan, Katakanlah, “Wahai Ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah, “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”(QS.3:64)

 

Tuan Presiden,

Menurut ayat-ayat suci, kita semua telah diseru untuk:

–    Menyembah satu Tuhan dan mengikuti ajaran para nabi, 

–    Menyembah satu Tuhan yang di atas semua penguasa dunia dan dapat melakukan semua yang Dia kehendaki,

–    Tuhan yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, masa lalu dan masa depan, mengetahui apa yang melintas di hati para hamba-Nya dan mencatat perbuatan-perbuatan mereka.

–    Tuhan pemilik langit dan bumi dan semua alam semesta adalah kepunyaan-Nya

– Perencanaan pada alam semesta dilakukan dengan kekuasaan-Nya, dan menyampaikan kabar gembira dan ampunan atas dosa-dosa kepada para hamba-Nya

–    “Dia adalah sahabat orang-orang tertindas dan  musuh para penindas”, “Dia Maha Pengasih Maha Penyayang”, “Dia adalah penyembuh orang-orang mukmin dan memandu mereka kepada cahaya dari kegelapan” “Dia adalah saksi atas tindakan para hamba-Nya”, “Dia menyeru para hamba untuk beriman dan beramal baik, dan meminta mereka untuk terus tetap di jalan kebenaran dan kesabaran”, “Menyeru hamba-hamba-Nya untuk memperhatikan para nabi-Nya dan Dia adalah saksi atas perbuatan mereka” “Suatu akhir yang buruk bagi mereka yang telah memillih kehidupan dunia mendurhakai-Nya dan menindas hamba-hamba-Nya”, dan “Suatu akhir yang baik dan surga abadi kepunyaan hamba-hamba yang takut akan keagungan-Nya dan tidak mengikuti mereka hawa nafsu mereka sendiri.”

Kita percaya kembali kepada ajaran para nabi adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan. Saya telah diberitahu bahwa Yang Mulia mengikuti ajaran Yesus dan percaya pada janji-janji Tuhan berupa kekuasaan orang yang saleh di muka bumi.

Kita juga percaya bahwa Yesus Kristus adalah salah satu nabi besar dari Tuhan. Ia telah berulang-ulang dipuji di dalam al-Quran. Yesus telah dikutip di dalam al-Quran juga: Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.”  (QS.19:36). Ketaatan kepada Tuhan adalah kredo dari semua para utusan Ilahi.

Tuhan semua orang di Eropa, Asia, Afrika, Amerika, Pasifik dan belahan dunia lainnya adalah satu. Dia adalah Tuhan yang ingin membimbing dan memberi martabat kepada para hamba-Nya. Dia telah memberi kebesaran kepada manusia.

Kita membaca dalam Kitab Suci: “Allah Yang Mahakuas mengirim para nabi-Nya dengan mukjizat dan tanda-tanda yang nyata untuk membimbing manusia dan menunjukkan kepada mereka ayat-ayat suci tanda dan menyucikan mereka dari  dosa dan  kekotoram. Dan Dia mengirim Kitab dan timbangan (al-mizan) agar manusia menegakkan keadilan dan menghindari yang suka menentang”.

Semua ayat di atas dapat dilihat, dengan satu dan lain cara , di dalam Kitab Injil juga.

Para nabi sudah menjanjikan:

Akan datang suatu zaman ketika semua manusia akan berkumpul di depan pengadilan Tuhan, agar perbuatan mereka dihisab. Orang saleh akan dibawa ke surga dan orang yang buruk akan menemui perhitungan Tuhan. Saya percaya kita berdua mengimani hari tersebut. Namun, tidaklah mudah untuk mengkalkulasi perbuatan para penguasa, karena kita harus dapat mempertanggungjawabkan kepada banga kita dan yang lainnya yang tinggal yang secara langsung atau tidak langsung dipengaruh oleh tindakan kita.

Semua nabi berbicara tentang kedamaian dan ketenteraman untuk manusia—berdasarkan monoteisme, keadilan, dan penghargaan pada martabat manusia.

Apakah Anda tidak berpikir bahwa jika kita semua sampai pada kepercayaan akan dan menaati prinsip-prinsip ini, yakni, monoteisme, penyembahan Allah, keadilan, penghargaan pada martabat manusia, kepercayaan pada Hari Akhir, kita dapat mengatasi masalah-masalah dunia sekarang—yang merupakan hasil penentangan kepada Tuhan dan ajaran para nabi—dan meningkatkan pencapaian kita?

Apakah Anda tidak menganggap kepercayaan pada prinsip-prinsip ini, mendorong dan menjamin kedamaian, keadilan, dan persahabatan?

Apakah Anda tidak berpikir bahwa prinsip-prinsip tertulis atau tidak tertulis yang disebutkan di atas dihormati secara universal?

Apakah Anda tidak akan menerima seruan ini? Yakni, kembali kepada ajaran para nabi, monoteisme dan keadilan, memelihara martabat manusia dan ketaatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa dan para nabi-Nya?

Tuan Presiden,

Sejarah menunjukkan kepada kita bahwa pemerintahan kejam dan represif tidak akan bertahan. Tuhan telah mempercayakan nasib manusia kepada mereka. Tuhan tidak meninggalkan alam semesta dan umat manusia kepada sarana-sarana mereka sendiri. banyak orang. Berbagai hal yang terjadi bertentangan dengan harapan dan rencana pemerintah. Ini menunjukkan bahwa ada suatu kuasa yang lebih tinggi yang bekerja dan semua peristiwa ditentukan oleh-Nya.

Dapatkah orang menyangkal tanda-tanda perubahan di dunia hari ini? Apakah situasi dunia hari ini dapat diperbandingkan dengan tahun yang lalu? Perubahan terjadi begitu cepat dan bergerak dengan laju yang pesat.

Warga dunia tidak bahagia dengan status quo dan sedikit memperhatikan  janji dan komentar yang dibuat oleh sejumlah pemimpin dunia yang berpengaruh. Banyak orang di seluruh dunia merasakan tidak aman dan menentang penyebaran ketidakamanan dan peperangan dan tidak mengakui dan menerima kebijakan tidak meyakinkan.

Orang-orang memprotes atas peningkatan jurang yang menganga antara si kaya dan si miskin dan negara-negara kaya dan negara-negara miskin. Orang-orang dimuakkan dengan bertambahnya korupsi. Masyarakat di banyak negara marah terhadap serangan-serangan atas fondasi-fondasi kebudayaan mereka dan perpecahan keluarga. Mereka sama-sama ditakutkan dengan memudarnya rasa kasihan dan kepedulian. Masyarakat dunia tidak punya kepercayaan pada organisasi-organisasi intemasional, karena hak mereka tidak didukung oleh organisasi-organisasi ini.

Liberalisme dan demokrasi gaya Barat belum mampu membantu merealisasikan cita-cita umat manusia. Sekarang dua  konsep ini terbukti sudah gagal. Mereka yang berwawasan telah dengar suara-suara yang mengguncang dan kebangkrutan ideologi dan pemikiran dari sistem demokrasi liberal.

Kian hari kita melihat orang-orang di seluruh dunia bergerak menuju suatu titik fokus utama—yaitu Tuhan Yang Mahakuasa. Tak ayal lagi melalui keimanan pada Tuhan dan ajaran para nabi, orang-orang akan mengatasi masalah mereka. Pertanyaan saya untuk Anda: “Apakah kamu tidak ingin bergabung dengan mereka?”

Tuan Presiden,

Suka ataukah tidak, dunia sedang bergerak cepat ke arah keimanan pada Tuhan dan keadilan dan kehendak Tuhan akan mengatasi segala sesuatu.

Dan keselamatan bagi mereka yang mengikuti petunjuk

Mahmood Ahmadi-Nejad
Presiden Republik Islam Iran

*) Diterjemahkan secara  bebas oleh Arif Mulyadhi dan Muhsin Labib dari teks Inggris, Parsi dan Arab.


Responses

  1. Ahmadinejad seorang muslim yang berjuang di jalan Allah…
    dunia Islam perlu “mencetak” orang-orang seperti ini…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: