Oleh: apit | Juli 25, 2006

Awal Kejatuhan Israel dan AS

Oleh : Abdillah Toha

Tulisan ini akan memaparkan mengapa penulis percaya bahwa agresi brutal Israel atas Palestina dan Lebanon merupakan awal kejatuhan Israel dan pendukung utamanya Amerika Serikat (AS). Bagi AS,
setidaknya ini akan merupakan pelajaran terakhir tentang gagalnya politik luar negeri mereka yang didasarkan pada arogansi kekuasaan militer dan ekonomi dan unilateralis.

Pertama, Israel dan AS salah hitung tentang Hamas. Hamas bukanlah
Fatah yang banyak dijangkiti korupsi dan pengkhianat yang mudah
dibeli dengan uang. Hamas menang pemilu secara meyakinkan dan
legitimate karena ketulusan, kejujuran, dan terbukti ikhlas berniat
membebaskan Palestina dari kesengsaraan dan penindasan Israel.
Hamaslah yang berada di garis depan sejak awal intifadah.

Upaya mereka mencekik keuangan dan ekonomi Palestina dengan segala
cara tidak berhasil. Maka untuk menghapuskan Hamas dari peta
Palestina, Israel harus mengebom rata seluruh Palestina, bila perlu
dengan bom nuklir yang mereka miliki. Tapi, kecuali penguasa Tel Aviv
atau
Washington terjangkit penyakit gila, penggunaan senjata nuklir
hampir pasti tak akan terjadi, karena bisa menyulut perang dunia ketiga.

Berbeda dengan Fatah yang mengakui Israel, Hamas tidak. Setiap
perundingan hanya akan dilakukan bila semua opsi terbuka, tanpa
prakondisi harus mengakui Israel terlebih dahulu. Pengeboman membabi-
buta ke Gaza dan sekitarnya tak akan mematahkan perjuangan Hamas,
karena rakyat Palestina sudah terbiasa hidup sengsara sejak Israel ‘dicangkokkan’ di sana pada 1948. Hamas dan pendukungnya akan terus melawan sampai Israel kelelahan dan banyak jatuh korban di
pihak Israel.

Kedua, Israel dan AS lagi-lagi salah hitung tentang Hizbullah. Kali
ini lebih bodoh. Karena Hizbullahlah yang berhasil mengusir AS dari
Lebanon pada 26 Februari 1984, setelah serangan Hizbullah menewaskan
264 marinir AS dan puluhan staf kedutaan AS di sana. Hizbullah pula
yang membuat Israel kapok menetap di Lebanon Selatan dan minggat Mei 2000.

Goyah
Serangan-serangan balasan Hizbullah dengan rudal ke kota-kota Israel
telah mulai menggoyahkan Israel dan sekutunya, AS. Awalnya Bush
mendukung serangan Israel tanpa reserve. Belakangan Menlu AS,
Condoleezza Rice, mulai meminta Israel ‘menahan diri’ setelah melihat
makin banyak korban di pihak Israel.

Hizbullah adalah organisasi perlawanan yang didukung ratusan ribu
pengikut militan, fanatik, dan terorganisasi rapi. Mereka juga
memiliki persenjataan lumayan, di antaranya 100 ribu lebih roket
jarak dekat dan menengah yang bisa mencapai Tel Aviv yang berjarak
kurang lebih 80 mil (120 km) dari Beirut. Untuk menundukkan
Hizbullah, lagi-lagi Israel harus mengebom rata seluruh Lebanon. Atau
melakukan serangan darat dan menduduki Lebanon, seperti tahun 1990-
an. Kedua opsi ini jelas tidak visible. Pendudukan Lebanon
diperkirakan akan menimbulkan korban besar di pihak Israel.

Ketiga, serangan ke Gaza dan Lebanon ini bukanlah sesuatu yang tak
terduga. Semuanya sudah diskenariokan Israel dan AS
untuk ‘membersihkan’ kawasan itu dari pejuang-pejuang gigih Hamas dan
Hizbullah yang mereka juluki sebagai teroris.

Provokasi pertama tidak dilakukan Hamas, tapi oleh Israel. Itu
terjadi pada pagi 9 Juni, ketika dunia sedang memusatkan perhatian
pada pembukaan Piala Dunia di Berlin. Saat itu, kapal perang Israel
membunuh satu keluarga Palestina (keluarga Ghalia) di tepi Pantai
Gaza. Tujuh tewas: dua wanita, tiga anak-anak –satu berusia satu
tahun. Sebanyak 40 orang luka-luka, 13 di antaranya anak-anak.

Keempat, Israel dan AS telah berkali-kali membuat pernyataan bahwa
aksi Hizbullah didukung Iran dan Suriah. Pernyataan-pernyataan
tersebut bisa jadi dalih memperluas konflik, yang tujuan akhirnya
adalah melakukan serangan. Tapi opsi inipun sangat kecil
kemungkinannya, karena Israel dan AS sadar bahwa Iran punya
persenjataan yang cukup kuat, termasuk rudal-rudal jarak jauh yang
dapat meluluh-lantakkan Israel.

Kelima, dunia, termasuk dunia Barat, sudah mulai muak dengan
brutalitas Israel dan AS. Terbukti, dalam resolusi DK PBB yang
bermaksud menghentikan agresi Israel, hanya AS yang menolak dengan
veto. Sebagian besar mendukung dan sisanya –beberapa negara pengikut
buta AS seperti Inggris– abstain. Begitu pula dalam pertemuan puncak
G8 di Rusia, hampir semua negara mengecam Israel, kecuali AS.

Avonturisme
Israel dan AS di Timur tengah juga dianggap telah
mengancam kestabilan ekonomi dunia dengan melonjaknya harga minyak
mentah yang belakangan telah mendekati 80 dolar AS per barel.

Keenam, di AS saat ini banyak pihak mulai berani menyuarakan terang-
terangan ketidakberdayaan AS menghadapi tekanan dan pemerasan lobi

Israel. Belum lama ini tersebar luas tulisan panjang lebar dua
profesor dari Universitas Harvard dan Chicago, yang mengkritik keras
politik luar negeri AS yang dikendalikan oleh lobi Israel. AS disebut
lebih mementingkan melindungi kepentingan Israel daripada kepentingan
jangka panjang AS.

Gagal
Dalam tulisannya berjudul How To Lose The War On Terror, dua peneliti
AS meramalkan perang melawan terorisme akan gagal tanpa menyelesaikan
masalah Palestina dan menciptakan perdamaian abadi di Timur Tengah.
Perdamaian abadi di sana tak akan terjadi tanpa berdialog dan
mendengar langsung keluhan (grievances) Hamas dan Hizbullah yang
legitimate dan didukung konstituennya.

Ketujuh, AS dan sekutunya sudah sangat kelelahan di Afghanistan dan
(terutama) di Irak. Ratusan miliar dolar AS telah dikuras dari
anggaran belanja AS dan ribuan tentara mereka telah tewas tanpa
gambaran yang meyakinkan bahwa ‘misi’ mereka telah atau menuju
berhasil. Justru sebaliknya, belakangan ini korban-korban di kalangan
sipil Irak terus berjatuhan dan ‘demokrasi’ yang dijejalkan AS di sana sangat rapuh.

Posisi AS di Irak serba salah dan dilematis. Tetap bertahan salah dan
rakyat AS sudah tidak sabar. Sedangkan meninggalkan Irak dalam
keadaan sekarang berarti mengakui kekalahan. Kita memperkirakan,
apapun kondisi di Irak, AS tidak akan mampu bertahan lebih dari setahun lagi.

Kedelapan, kekuatan-kekuatan progresif di dunia mulai bermunculan
menentang secara terbuka hegemoni AS di dunia. Tidak di Asia dan
Afrika saja, tapi juga di Eropa dan Amerika Latin. Di Asia, Iran dan
Korea Utara terang-terangan menantang dan melawan tekanan AS. Cina
yang dianggap oleh AS sebagai potensi ancaman ekonomi dan militer
terbesar di Asia, tinggal menunggu saat yang tepat untuk unjuk gigi.

Di Eropa, Rusia telah mulai menunjukkan jati dirinya dengan tidak
selalu setuju dengan AS, walau saat ini masih menjaga keseimbangan
demi kepentingan ekonominya. Di Afrika, AS yang pernah terusir dari
Somalia dan gagal mengendalikan Sudan, akan berpikir dua tiga kali
sebelum mencoba berpetualang di sana.

Di Amerika Latin, di bawah pimpinan Presiden Hugo Chavez dari
Venezuela dan Fidel Castro dari Kuba, satu persatu hegemoni AS runtuh
di Bolivia, Chile, dan hampir saja di Meksiko yang kandidat
presidennya dari kelompok kiri sampai sekarang masih belum mengakui
kekalahan tipis dari lawan konservatifnya.

Akhirnya, bagaimana dengan posisi dan sikap Indonesia ke depan? Mudah-
mudahan kita tidak salah baca lagi tentang apa yang sedang terjadi
dalam geopolitik global sehingga kita akan ketinggalan kereta. Semoga.


Responses

  1. Saya terpanggil untuk turut mengutarakan pandangan saya selaku seorang muslim. Sesungguh setiap titisan darah dan keringat muslim yang telah tertumpah pastinya berlalu begitu sahaja. Jutaan muslim akan bangkit mempertahankan agama yang tercinta ini. Isreal dan semua sekutunya harus mengerti bahawa di sisi muslim yang mukmin, syahid adalah impian setiap mereka, lebih lazat dari cairan arak yang mereka teguk dan lebih hangat dari dakapan seorang wanita. Oleh itu umat yang bergelar mukmin perlu bangkit mempertahankan agama ini di atas muka bumi. Tentera Al-Mahdi perlu dipersiapkan dengan iman dan takwa yang sepenuhnya agar bisa menarik perhatian dan nusrah Allah.
    Allahuakhbar….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: