<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>b@Ra hAti3 &#187; TongIlmu</title>
	<atom:link href="http://apit.wordpress.com/category/tongilmu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://apit.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 21 Nov 2008 15:23:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='apit.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/c500cc26cbbef379c51fa0b619dc5aaa?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>b@Ra hAti3 &#187; TongIlmu</title>
		<link>http://apit.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://apit.wordpress.com/osd.xml" title="b@Ra hAti3" />
		<item>
		<title>Orangtua Harus Pahami Kecerdasan Anak</title>
		<link>http://apit.wordpress.com/2008/05/20/orangtua-harus-pahami-kecerdasan-anak/</link>
		<comments>http://apit.wordpress.com/2008/05/20/orangtua-harus-pahami-kecerdasan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 May 2008 11:59:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>apit</dc:creator>
				<category><![CDATA[TongIlmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apit.wordpress.com/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[Selasa, 20 Mei 2008 &#124; 17:08 WIB
LAMONGAN, SELASA &#8211; Realisasi pendidikan sangat penting membentuk sikap mental dan kecerdasan anak. Penting pula bagi orangtua mengetahui dan memahami potensi dan kecerdasan anak sejak dini sehingga dapat mengarahkannya secara tepat karena anak merupakan ti tipan Tuhan dan generasi penerus bangsa. Hal itu disampaikan Kepala Bidang Kewanitaan Dewan Pimpinan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apit.wordpress.com&blog=315807&post=289&subd=apit&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="tanggal">Selasa, 20 Mei 2008 | 17:08 WIB</div>
<p><strong>LAMONGAN, SELASA</strong> &#8211; Realisasi pendidikan sangat penting membentuk sikap mental dan kecerdasan anak. Penting pula bagi orangtua mengetahui dan memahami potensi dan kecerdasan anak sejak dini sehingga dapat mengarahkannya secara tepat karena anak merupakan ti tipan Tuhan dan generasi penerus bangsa. Hal itu disampaikan Kepala Bidang Kewanitaan Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera Lamongan, Amin Umamah pada seminar <em><em>Parenting Skill</em></em> yang bertujuan memberikan alternatif pendidikan anak secara Islami Mingg u (20/5) di Lamongan.</p>
<p>Dengan memberikan informasi cara mendidik anak secara baik serta berakhlak kegiatan ini dimaksudkan mendorong potensi orangtua membentuk generasi berkualitas. &#8220;Ini juga untuk membekali orangtua dengan kepekaan terhadap potensi yang dimiliki anak-anaknya,&#8221; katanya<span id="more-289"></span><!--more--></p>
<p>Menurut Ketua Bidang Pendidikan DPD PKS Lamongan, Ridwan, orangtua perlu mengenali potensi anak. Anak-anak memiliki potensi majemuk seperti potensi linguistik, potensi logika matematika, visual spasial, musikal, bodi kinestetik, interpersonal, intraperson al, dan potensi natural.</p>
<p>Potensi linguistik dapat dilihat apabila anak-anak memiliki ciri-ciri cenderung bekerja dan berpikir teratur, bertindak sistematis, dan memiliki daya ingat tajam. Potensi logika matematika terlihat apabila anak suka berpikir abstrak dan deduktif. Potensi visual spasial terlihat apabila anak lebih suka berpikir dengan ilustrasi dan gambar, memadukan seni dengan pelajaran lain.</p>
<p>Potensi musikal terlihat apabila anak sensitif terhadap nada dan irama. Potensi bodi kinestetik pada anak terlihat dengan ciri-ciri daya kontrol tubuh sangat menonjol, suka mengutak-atik sesuatu. Sedangkan ciri anak memiliki potensi interpersonal bila memiliki kemampuan negosiasi tinggi, mahir berinteraksi dengan orang lain.</p>
<p>&#8220;Adapun potensi intra personal terlihat apabila anak memiliki kesadaran terhadap diri, lebih suka menghindari konflik, sedang potensi natural dapat terlihat apabila anak menyukai kegiatan di alam, dan mempersepsi keindahan spontan,&#8221; kata Ridwan.</p>
<p>Ketua Bidang Kesejahteraan DPD PKS Lamongan Hasyim menambahkan kecerdasan dapat dikembangkan sampai pada tingkat penguasaan memadai. &#8220;Kecerdasan-kecerdasan tersebut umumnya bekerja bersama dengan cara yang kompleks,&#8221; katanya.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/apit.wordpress.com/289/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/apit.wordpress.com/289/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/apit.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/apit.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/apit.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/apit.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/apit.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/apit.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/apit.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/apit.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/apit.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/apit.wordpress.com/289/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apit.wordpress.com&blog=315807&post=289&subd=apit&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apit.wordpress.com/2008/05/20/orangtua-harus-pahami-kecerdasan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1774b48d11f4128c1a85c7ae4f271293?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">apit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lelaki Takut Komitmen?</title>
		<link>http://apit.wordpress.com/2008/04/19/lelaki-takut-komitmen/</link>
		<comments>http://apit.wordpress.com/2008/04/19/lelaki-takut-komitmen/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Apr 2008 07:28:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>apit</dc:creator>
				<category><![CDATA[TongIlmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apit.wordpress.com/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[



Getty Images



  
&#60;!&#8211;Print Email &#8211;&#62;


Jumat, 18 April 2008 &#124; 10:11 WIB
Ketika bicara komitmen, lelaki dan perempuan kerap berseberangan. Bagaimana sesungguhnya cara mereka memandang sebuah hubungan?
1. Komitmen = Mimpi Buruk
David Copelan dan Ron Luis dalam How to Succeed with Woman mengungkap hal-hal yang membuat lelaki gerah mendengar kata komitmen. Di antaranya kehilangan kesempatan berkencan dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apit.wordpress.com&blog=315807&post=249&subd=apit&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="judulisiberita" style="margin:5px 0;"></div>
<div style="width:300px;float:left;margin-right:10px;">
<div style="width:298px;padding:0 0 5px;">
<div id="loadarea" style="margin-bottom:5px;width:298px;"><img src="http://www.kompas.com/photo/2008/04/18/101144p.jpg" border="0" alt="" width="298" /></div>
<div id="boxpoto" style="margin-bottom:0;text-align:right;font-family:arial;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:9px;line-height:normal;color:#666666;"><a href="http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/04/18/10115799/lelaki.takut.komitmen.#">Getty Images</a></div>
</div>
<p><!--- video --></p>
<div style="border-top:1px solid #eeeeee;border-bottom:1px solid #eeeeee;margin-bottom:20px;height:25px;padding:10px 0;">
<div class="artikelkiriman"><a href="http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/04/18/10115799/lelaki.takut.komitmen.#"> <img src="http://www.kompas.com/photo/logo/logo_chic.gif" border="0" alt="" /> </a></div>
<div class="artikeltools">&lt;!&#8211;<a href="#"><img src="images/icon_print.gif" alt="" />Print</a> <a href="#"><img src="images/icon_email.gif" alt="" />Email</a> &#8211;&gt;</div>
</div>
</div>
<div class="tanggal">Jumat, 18 April 2008 | 10:11 WIB</div>
<p>Ketika bicara komitmen, lelaki dan perempuan kerap berseberangan. Bagaimana sesungguhnya cara mereka memandang sebuah hubungan?</p>
<p><strong>1. Komitmen = Mimpi Buruk</strong><br />
David Copelan dan Ron Luis dalam <em>How to Succeed with Woman</em> mengungkap hal-hal yang membuat lelaki gerah mendengar kata komitmen. Di antaranya kehilangan kesempatan berkencan dengan perempuan cantik lain dan harus pulang cepat dari kantor karena wajib menjemput Anda.</p>
<p><strong>2. Cinta Bukan Utama</strong><br />
Apakah alasan mayoritas lelaki menikah? Cinta? Ah, lupakan saja. Heater Formaini, penulis buku <em>Men the Darker Continet</em> menyebut bahwa mayoritas lelaki menikah untuk menikmati ketentraman dalam hidupnya dan memiliki hidup yang seimbang. Setelah letih bekerja seharian mereka mengharapkan secangkir pengertian dan segelas kehangatan.<span id="more-249"></span></p>
<p><strong>3. Istri Potensial = Ibu yang Seksi</strong><br />
Anda sering dibanding-bandingkan dengan ibunya? Wajar. Karena figur ibu adalah cinta pertama mereka. Lewat sosok ibu, lelaki berkenalan dengan hakikat pentingnya rumah tangga. Pantaslah jika banyak lelaki menyebutkan bahwa istri potensial mereka adalah figur ibunya dalam sosok yang masih muda dan seksi.</p>
<p><strong>4. Berorientasi Keluarga</strong><br />
Sosok ayah ideal ternyata dimiliki oleh laki-laki zaman sekarang. Menurut Patrick Morley, penulis <em>What Husbands Wish Their Wives Know About Men</em>, ayah zaman sekarang sesuai dengan era keterbukaan. Mereka cenderung lebih dengan keluarga, gemar memberikan pelukan dan meluangkan waktu dengan anak-anaknya.</p>
<p><strong>5. Beda Prioritas</strong><br />
Laki-laki dan perempuan mempunyai cara pandang berbeda dalam melihat suatu hubungan. John Gray, PhD, penulis <em>Making Peace with the Opposite Sex</em> mengatakan bahwa perempuan memprioritaskan hubungan, sehingga ia terlalu <em>concern </em>terhadap <em>day by day </em>hubungan tersebut terjalin. Sedangkan lelaki lebih memprioritaskan konteks kesuksesan sebuah tujuan. Bagi mereka, yang penting adalah tujuan akhirnya, sehingga dia tidak mempedulikan hal-hal yang bersifat &#8220;remeh-temeh&#8221; seperti bagaimana menjaga hubungan agar tetap hangat.</p>
<p><strong>6. Maju Mundur</strong><br />
Kenapa lelaki terkesan maju-mundur terhadap suatu hubungan? Menurut John Gray karena ia menyalahartikan jalan pikiran dan perasaan perempuan yang jadi kekasihnya. Lelaki secara keliru menganggap bahwa karena pikiran tentang rumah mewah dan kolam renang membuat Anda  bahagia, maka ia berpikir harus memberikan semua itu jika ingin membahagiakan Anda. Pada tahap inilah ia mulai berpikir bahwa Anda bukanlah orang yang tepat untuknya.</p>
<p>Sumber: http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/04/18/10115799/lelaki.takut.komitmen.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/apit.wordpress.com/249/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/apit.wordpress.com/249/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/apit.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/apit.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/apit.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/apit.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/apit.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/apit.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/apit.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/apit.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/apit.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/apit.wordpress.com/249/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apit.wordpress.com&blog=315807&post=249&subd=apit&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apit.wordpress.com/2008/04/19/lelaki-takut-komitmen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1774b48d11f4128c1a85c7ae4f271293?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">apit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.kompas.com/photo/2008/04/18/101144p.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.kompas.com/photo/logo/logo_chic.gif" medium="image" />

		<media:content url="images/icon_print.gif" medium="image" />

		<media:content url="images/icon_email.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Menyibak Kabut Pernikahan Nabi-Aisyah</title>
		<link>http://apit.wordpress.com/2008/04/15/menyibak-kabut-pernikahan-nabi-aisyah/</link>
		<comments>http://apit.wordpress.com/2008/04/15/menyibak-kabut-pernikahan-nabi-aisyah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 08:10:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>apit</dc:creator>
				<category><![CDATA[TongIlmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apit.wordpress.com/?p=248</guid>
		<description><![CDATA[The Ancient Myth Exposed
By T.O. Shanavas , di Michigan.
C 2001 Minaret
from The Minaret Source: http://www.iiie. net/
Diterjemahkan oleh : cahyo_prihartono
Seorang teman kristen suatu kali bertanya ke saya, &#8221; Akankah anda menikahkan saudara perempuanmu yang berumur 7 tahun dengan seorang tua berumur 50 tahun?&#8221; Saya terdiam. Dia melanjutkan, &#8221; Jika anda tidak akan melakukannya, bagaimana bisa anda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apit.wordpress.com&blog=315807&post=248&subd=apit&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:left;" dir="rtl" align="right"><span dir="ltr">The Ancient Myth Exposed<br />
By T.O. Shanavas , di Michigan.<br />
C 2001 Minaret<br />
from The Minaret Source: <a href="http://www.iiie.net/" target="_blank">http://www.iiie. net/</a></span></p>
<p>Diterjemahkan oleh : cahyo_prihartono</p>
<p>Seorang teman kristen suatu kali bertanya ke saya, &#8221; Akankah anda menikahkan saudara perempuanmu yang berumur 7 tahun dengan seorang tua berumur 50 tahun?&#8221; Saya terdiam. Dia melanjutkan, &#8221; Jika anda tidak akan melakukannya, bagaimana bisa anda menyetujui pernikahan gadis polosberumur 7 tahun, Aisyah, dengan Nabi anda?&#8221; Saya katakan padanya,&#8221; Saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan anda pada saat ini.&#8221; Teman saya tersenyum dan meninggalkan saya dengan guncangan dalam batin saya akan agama saya. Kebanyakan muslim menjawab bahwa pernikahan seperti itu diterima masyarakat pada saat itu. Jika tidak, Orang-orang akan merasa keberatan dengan pernikahan Nabi saw dengan Aisyah.<span id="more-248"></span><br />
<span dir="ltr"><br />
Bagaimanapun, penjelasan seperti ini akan mudah menipu bagi orang-orang yang naif dalam mempercayainya. Tetapi, saya tidak cukup puas dengan penjelasan seperti itu.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;" dir="rtl" align="right"><span dir="ltr">Nabi merupakan manusia tauladan, Semua tindakannya paling patut dicontoh sehingga kita, Muslim dapat meneladaninya. Bagaimaanpun, kebanyakan orang di Islamic Center of Toledo, termasuk saya, Tidak akan<br />
berpikir untuk menunangkan saudara perempuan kita yang berumur 7 tahun dengan seorang laki-laki berumur 50 tahun. Jika orang tua setuju dengan pernikahan seperti itu, kebanyakan orang, walaupun tidak semuanya, akan memandang rendah thd orang tua dan suami tua tersebut. Tahun 1923, pencatat pernikahan di Mesir diberi intruksi untuk menolak pendaftaran dan menolak mengeluarkan surat nikah bagi calon suami<br />
berumur dibawah 18 tahun , dan calon isteri dibawah 16 tahun. Tahun 1931, Sidang dalam oraganisasi- oraganisi hukum dan syariah menetapkan untuk tidak merespon pernikahan bagi pasangan dengan umur diatas (Women in Muslim Family Law, John Esposito, 1982). Ini memperlihatkan bahwa walaupun di negara Mesir yang mayoritas Muslim pernikahan usia anak-anak adalah tidak dapat diterima.</span></p>
<p>Jadi, Saya percaya, tanpa bukti yang solidpun selain perhormatan saya thd Nabi, bahwa cerita pernikahan gadis brumur 7 tahun dengan Nabi berumur 50 tahun adalah mitos semata. Bagaimanapun perjalanan panjang saya dalam menyelelidiki kebenaran atas hal ini membuktikan intuisi saya benar adanya. Nabi memang seorang yang gentleman. Dan dia tidak menikahi gadis polos berumur 7 atau 9 tahun. Umur Aisyah telah dicatat secara salah dalam literatur hadist. Lebih jauh, Saya pikir bahwa cerita yang menyebutkan hal ini sangatlah tidak bisa dipercaya. Beberapa hadist (tradisi Nabi) yang menceritakan mengenai umur Aisyah<br />
pada saat pernikahannya dengan Nabi, hadist-hadist tsb sangat bermasalah. Saya akan menyajikan beberapa bukti melawan khayalan yang diceritakan Hisyanm ibnu `Urwah dan untuk membersihkan nama Nabi dari<br />
sebutan seorang tua yang tidak bertanggung jawab yang menikahi gadis polos berumur 7 tahun.</p>
<p>BUKTI #1: PENGUJIAN THD SUMBER</p>
<p>Sebagaian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercetak di hadist yang semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisham ibn `Urwah, yang mencatat atas otoritas dari Bapaknya,Yang mana seharusnya minimal 2<br />
atau 3 orang harus mencatat hadist serupa juga. Adalah aneh bahwa tak ada seorangpun yang di Medinah, dimana Hisham ibn `Urwah tinggal, sampai usia 71 tahun baru menceritakan hal ini, disamping kenyataan<br />
adanya banyak murid-murid di Medinah termasuk yang kesohor Malik ibn Anas, tidak menceritakan hal ini. Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq, dimana Hisham tinggal disana dan pindah dari Medinah<br />
ke Iraq pada usia tua.</p>
<p>Tehzibu&#8217;l-Tehzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi catatan para periwayat hadist, menurut Yaqub ibn Shaibah mencatat : &#8221; Hisham sangat bisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah pindah ke Iraq &#8221; (Tehzi&#8217;bu&#8217;l- tehzi&#8217;b, Ibn Hajar Al- `asqala&#8217;ni, Dar Ihya al-turath<br />
al-Islami, 15th century. Vol 11, p.50). Dalam pernyataan lebih lanjut bahwa Malik ibn Anas menolak riwayat<br />
Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq: &#8221; Saya pernah dikasih tahu bahwa Malik menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq&#8221; (Tehzi&#8217;b u&#8217;l-tehzi&#8217;b, IbnHajar Al- `asqala&#8217;ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, Vol.11, p. 50).</p>
<p>Mizanu&#8217;l-ai` tidal, buku lain yang berisi uraian riwayat hidup pada periwayat hadist Nabi saw mencatat: &#8220;Ketika masa tua, ingatan Hisham mengalami kemunduran yang mencolok&#8221; (Mizanu&#8217;l-ai` tidal, Al-Zahbi,<br />
Al-Maktabatu&#8217; l-athriyyah, Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, p. 301).</p>
<p><strong> KESIMPULAN: </strong>berdasarkan referensi ini, Ingatan Hisham sangatlah jelek dan riwayatnya setelah pindha ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya, sehingga riwayatnya mengenai umur pernikahan Aisyah adalah tidak kredi bel.</p>
<p><strong> KRONOLOGI:</strong> Adalah vital untuk mencatat dan mengingat tanggal penting dalam sejarah Islam:<br />
pra-610 M: Jahiliya (pra-Islamic era) sebelum turun wahyu<br />
610 M: turun wahyu pertama AbuBakr menerima Islam<br />
613 M: Nabi Muhammad mulai mengajar ke Masyarakat<br />
615 M: Hijrah ke Abyssinia.<br />
616 M: Umar bin al Khattab menerima Islam.<br />
620 M: dikatakan Nabi meminang Aisyah<br />
622 M: Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Medina<br />
623/624 M: dikatakan Nabi saw berumah tangga dengan Aisyah</p>
<p>BUKTI #2: MEMINANG</p>
<p>Menurut Tabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad), Aisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun. Tetapi, di bagian lain, Al-Tabari mengatakan: &#8220;Semua anak Abu Bakr (4 orang) dilahirkan pada masa jahiliyah dari 2 isterinya &#8221; (Tarikhu&#8217;l-umam wa&#8217;l-mamlu&#8217;k, Al-Tabari (died 922), Vol. 4,p. 50, Arabic, Dara&#8217;l-fikr, Beirut, 1979). Jika Aisyah dipinang 620M (Aisyah umur 7 tahun) dan berumah tangga tahun 623/624 M (usia 9 tahun), ini mengindikasikan bahwa Aisyah dilahirkan pada 613 M. Sehingga berdasarkan tulisan Al- Tabari, Aisyah seharusnya dilahirkan pada 613M, Yaitu 3 tahun sesudah masa jahiliyah usai (610 M). Tabari juga menyatakan bahwa Aisyah dilahirkan pada saat jahiliyah. Jika Aisyah dilahirkan pada era Jahiliyah, seharusnya minimal Aisyah berumur 14 tahun ketika dinikah. Tetapi intinya Tabari mengalami kontradiksi dalam periwayatannya.</p>
<p><strong> KESIMPULAN:</strong> Al-Tabari tak reliable mengenai umur Aisyah ketika menikah.</p>
<p><strong> BUKTI # 3</strong>: Umur Aisyah jika dihubungkan dengan umur Fatimah</p>
<p>Menurut Ibn Hajar, &#8220;Fatima dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi saw berusia 35 tahun&#8230; Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah &#8221; (Al-isabah fi tamyizi&#8217;l-sahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol. 4, p. 377, Maktabatu&#8217;l- Riyadh al-haditha, al-Riyadh,1978) .</p>
<p>Jika Statement Ibn Hajar adalah factual, berarti Aisyah dilahirkan ketika Nabi berusia 40 tahun. Jika Aisyah dinikahi Nabi pada saat usia Nabi 52 tahun, maka usia Aisyah ketika menikah adalah 12 tahun.</p>
<p><strong> KESIMPULAN:</strong> Ibn Hajar, Tabari, Ibn Hisham, dan Ibn Humbal kontradiksi satu sama lain. Tetapi tampak nyata bahwa riwayat Aisyah menikah usia 7 tahun adalah mitos tak berdasar.</p>
<p><strong> BUKTI #4: </strong>Umur Aisyah dihitung dari umur Asma&#8217;</p>
<p>Menurut Abda&#8217;l-Rahman ibn abi zanna&#8217;d: &#8220;Asma lebih tua 10 tahun dibanding Aisyah (Siyar A`la&#8217;ma&#8217;l-nubala&#8217; , Al-Zahabi, Vol. 2, p. 289, Arabic, Mu&#8217;assasatu&#8217; l-risalah, Beirut, 1992). Menurut Ibn Kathir: &#8220;Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah]&#8221; (Al-Bidayah wa&#8217;l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 371,Dar al-fikr al-`arabi, Al-jizah, 1933). Menurut Ibn Kathir: &#8220;Asma melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5 hari kemudian Asma meninggal. Menurut iwayat lainya, dia meninggal 10 atau 20 hari kemudian, atau bebrapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 hari kemudian. Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada waktu Asma Meninggal, dia berusia 100 tahun&#8221; (Al-Bidayah wa&#8217;l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-fikr al-`arabi, Al- jizah, 1933)</p>
<p>Menurut Ibn Hajar Al-Asqalani: &#8220;Asma hidup sampai 100 tahun dan meninggal pada 73 or 74 H.&#8221; (Taqribu&#8217;l-tehzib, Ibn Hajar Al-Asqalani, p. 654, Arabic, Bab fi&#8217;l-nisa&#8217;, al-harfu&#8217;l-alif, Lucknow).</p>
<p>Menurut sebagaian besar ahli sejarah, Asma, Saudara tertua dari Aisyah berselisuh usia 10 tahun. Jika Asma wafat pada usia 100 tahun dia tahun 73 H, Asma seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (622M).<br />
Jika Asma berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah berumah tangga), Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, Aisyah, berusia 17 atau 18 tahun ketika hijrah pada taun dimana Aisyah berumah tangga.</p>
<p>Berdasarkan Hajar, Ibn Katir, and Abda&#8217;l-Rahman ibn abi zanna&#8217;d, usia Aisyah ketika beliau berumah tangga dengan Rasulullah adalah 19 atau 20 tahun.</p>
<p>Dalam bukti # 3, Ibn Hajar memperkirakan usia Aisyah 12 tahun dan dalam bukti #4 Ibn Hajar mengkontradiksi dirinya sendiri dengan pernyataannya usia Aisyah 17 atau 18 tahun. Jadi mana usia yang benar ? 12 atau 18..?</p>
<p><strong> kesimpulan: </strong>Ibn Hajar tidak valid dalam periwayatan usia Aisyah.</p>
<p><strong> BUKTI #5:</strong> Perang BADAR dan UHUD</p>
<p>Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr dijabarkan dalam hadist Muslim, (Kitabu&#8217;l-jihad wa&#8217;l-siyar, Bab karahiyati&#8217;l- isti`anah fi&#8217;l-ghazwi bikafir). Aisyah, ketika menceritakan salah satu moment penting dalam perjalanan selama perang Badar, mengatakan: &#8220;ketika kita mencapai Shajarah&#8221;. Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar. Sebuah riwayat mengenai pastisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu&#8217;l-jihad wa&#8217;l-siyar, Bab Ghazwi&#8217;l-nisa&#8217; wa qitalihinnama` a&#8217;lrijal) : &#8220;Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, Orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. [pada hari itu,] Saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan<br />
sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb].&#8221; Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut berada dalam perang Uhud and Badr.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu&#8217;l-maghazi, Bab Ghazwati&#8217;l-khandaq wa hiya&#8217;l-ahza&#8217; b): &#8220;Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengijinkan dirinya berpastisispasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu<br />
Umar berusia 14 tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi mengijinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tsb.&#8221;</p>
<p>Berdasarkan riwayat diatas, (a) anak-anak berusia dibawah 15 years akan dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perangm, dan (b) Aisyah ikut dalam perang badar dan Uhud</p>
<p><strong> KESIMPULAN:</strong> Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud jelas mengindikasikan bahwa beliau tidak berusia 9 tahun ketika itu, tetapi minimal berusia 15 tahun. Disamping itu, wanita-wanita yang ikut menemani para pria dalam perang sudah seharusnya berfungsi untuk membantu, bukan untuk menambah beban bagi mereka. Ini merupakan bukti lain dari kontradiksi usia pernikahan Aisyah.</p>
<p><strong> BUKTI #6:</strong> Surat al-Qamar (Bulan)</p>
<p>Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatat mengatakan hal ini: &#8220;Saya seorang gadis muda(jariyah dalam<br />
bahasa arab)&#8221; ketika Surah Al-Qamar diturunkan(Sahih Bukhari, kitabu&#8217;l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa&#8217;l-sa`atu adha&#8217; wa amarr). Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum<br />
hijriyah(The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surat tsb diturunkan pada tahun 614 M. jika Aisyah memulai berumahtangga dengan Rasulullah pada usia 9 di tahun 623 M or 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir (sibyah in Arabic) pada saat Surah Al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat diatas, secara aktual tampak bahwaAisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang baru lahir ketika pewahyuan<br />
Al-Qamar. Jariyah berarti gadis muda yang masih suka bermain (Lane&#8217;s Arabic English Lexicon). Jadi, Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi), jadi telah berusia 6-13 tahun pada saat turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karean itu sudah pasti berusia 14-21 tahun ketika dinikah Nabi.</p>
<p><strong> Kesimpulan:</strong> riwayat ini juga mengkontra riwayat pernikahan Aisyah yang berusia 9 tahun.</p>
<p><strong> BUKTI #7:</strong> Terminologi bahasa Arab</p>
<p>Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertama Rasulullah, Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepada nya ttg pilihan yang ada<br />
di pikiran Khaulah. Khaulah berkata: &#8220;Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita yang pernah menikah (thayyib)&#8221;. Ketika Nabi bertanya ttg identitas gadis tsb (bikr), Khaulah menyebutkan nama<br />
Aisyah.</p>
<p>Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata bikr dalam bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun. Kata yang tepat untuk gadis belia yangmasih suka bermain-main adalah, seperti dinyatakan dimuka, adalah jariyah. Bikr disisi lain, digunakan untuk seorang wanita yang belum menikah serta belum punya pertautan pengalaman dengan pernikahan, sebagaiaman kita pahami dalam bahasa Inggris &#8220;virgin&#8221;. Oleh karean itu, tampak jelas bahwa gadis belia 9 tahun bukanlah &#8220;wanita&#8221; (bikr) (Musnad Ahmad ibn Hanbal, Vol. 6, p. .210,Arabic, Dar Ihya al-turath al-`arabi, Beirut).</p>
<p><strong> Kesimpulan:</strong> Arti literal dari kata, bikr (gadis), dalam hadist diatas adalah &#8220;wanita dewasa yang belum punya pengalaman sexual dalam pernikahan.&#8221; Oleh karean itu, Aisyah adalah seorang wanita dewasa pada<br />
waktu menikahnya.</p>
<p><strong> BUKTI #8.</strong> Text Qur&#8217;an</p>
<p>Seluruh muslim setuju bahwa Quran adalah buku petunjuk. Jadi, kita perlu mencari petunjuk dari Qur&#8217;an untuk membersihkan kabut kebingungan yang diciptakan oleh para periwayat pada periode klasik Islam mengenaiusia Aisyah dan pernikahannya. Apakah Quran mengijinkan atau melarang pernikahan dari gadis belia berusia 7 tahun?</p>
<p>Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti itu. Ada sebuah ayat , yang bagaimanapun, yang menuntun muslim dalam mendidik dan memperlakukan anak yatim. Petunjuk Qur&#8217;an mengenai perlakuan anak Yatim juga valid doaplikasikan ada anak kita sendiri sendiri. Ayat tsb mengatakan : Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (Qs. 4:5) Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai<br />
memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. ?? (Qs. 4:6)</p>
<p>Dalam hal seorang anak yang ditingal orang tuanya, Seorang muslim diperintahkan untuk (a) memberi makan mereka, (b) memberi pakaian, (c) mendidik mereka, dan (d) menguji mereka thd kedewasaan &#8220;sampai usia menikah&#8221; sebelum mempercayakan mereka dalam pengelolaan keuangan.</p>
<p>Disini, ayat Qur&#8217;an menyatakan ttg butuhnya bukti yang teliti terhadap tingkat kedewasaan intelektual dan fisik melalui hasil test yang objektif sebelum memasuki usia nikah dan untuk mempercayakan pengelolaan harta-harta kepada mereka.</p>
<p>Dalam ayat yang sangat jelas diatas, tidak ada seorangpun dari muslim yang bertanggungjawab akan melakukan pengalihan pengelolaan keuangan pada seorang gadis belia berusia 7 tahun. Jika kita tidak bisa<br />
mempercayai gadis belia berusia 7 tahun dalam pengelolaan keuangan, Gadis tsb secara tidak memenuhi syarat secara intelektual maupun fisik untuk menikah. Ibn Hambal (Musnad Ahmad ibn Hambal, vol.6, p. 33 and 99) menyatakan bahwa Aisyah yang berusia 9 tahun lebih tertarik untuk bermain dengan mainannya daripada mengambi tugas sebagai isteri. Oleh karean itu sangatlah sulit untuk mempercayai, bahwa AbuBakar,seorang tokoh muslim, akan menunangkan anaknya yang masih belia berusia 7 taun dengan Nabi yang berusia 50 tahun.. Sama sulitnya untuk membayangkan bahwa Nabi menikahi seorang gadis belia berusia 7 tahun.</p>
<p>Sebuah tugas penting lain dalam menjaga anak adalah mendidiknya. Marilah kita memunculkan sebuah pertanyaan,&#8221; berapa banyak di antara kita yang percaya bahwa kita dapat mendidik anak kita dengan hasil<br />
memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 atau 9 tahun?&#8221; Jawabannya adalah Nol besar. Logika kita berkata, adalah tidak mungkin tugas mendidik anak kita dengan memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 tahun, lalu bagaimana mana mungkin kita percaya bahwa Aisyah telah dididik secara sempurna pada usia 7 tahun seperti diklaim sebagai usia pernikahannya?</p>
<p>AbuBakr merupakan seorang yang jauh lebih bijaksana dari kita semua, Jadi dia akan merasa dalam hatinya bahwa Aisyah masih seorang anak-anak yang belum secara sempurna sebagaimana dinyatakan Qur&#8217;an. Abu Bakar tidak akan menikahkan Aisyah kepada seorangpun. Jika sebuah proposal pernikahan dari gadis belia dan belum terdidik secara memuaskan datang kepada Nabi, Beliau akan menolak dengan tegas karean itu menentang hukum-hukum Quran.</p>
<p><strong> Kesimpulan: </strong>Pernikahan Aisyah pada usia 7 tahun akan menentang hukum kedewasaan yang dinyatakan Quran. Oleh karean itu, Cerita pernikahan Aisyah gadis belia berusia 7 tahun adalah mitos semata.</p>
<p><strong> BUKTI #9:</strong> Ijin dalam pernikahan</p>
<p>Seorang wanita harus ditanya dan diminta persetujuan agar pernikahan yang dia lakukan menjadi syah (Mishakat al Masabiah, translation by James Robson, Vol. I, p. 665). Secara Islami, persetujuan yang kredible<br />
dari seorang wanita merupakan syarat dasar bagi kesyahan sebuah pernikahan. Dengan mengembangkan kondisi logis ini, persetujuan yang diberikan oleh gadis belum dewasa berusia 7 tahun tidak dapat diautorisasi sebagai validitas sebuah pernikahan.</p>
<p>Adalah tidak terbayangkan bahwa AbuBakr, seorang laki-laki yang cerdas, akan berpikir dan mananggapi secara keras ttg persetujuan pernikahan gadis 7 tahun (anaknya sendiri) dengan seorang laki-laki berusia 50<br />
tahun.</p>
<p>Serupa dengan ini, Nabi tidak mungkin menerima persetujuan dari seorang gadis yang menurut hadith dari Muslim, masih suka bermain-main dengan bonekanya ketika berumah tangga dengan Rasulullah.</p>
<p><strong> kesimpulan:</strong> Rasulullah tidak menikahi gadis berusia 7 tahun karena akan tidak memenuhi syarat dasar sebuah pernikahan islami ttg klausa persetujuan dari pihak isteri. Oleh karean itu, hanya ada satu kemungkinan Nabi menikahi Aisyah seorang wanita yang dewasa secara intelektual maupun fisik.</p>
<p><strong> SUMMARY:</strong></p>
<p>Tidak ada tradisi Arab untuk menikahkan anak perempuan atau laki-laki yang berusia 9 tahun, Demikian juga tidak ada pernikahan Rasulullah saw dan Aisyah ketika berusia 9 tahun. Orang-orang arab tidak pernha<br />
keberatan dengan pernikahan seperti ini, karean ini tak pernah terjadi sebagaimana isi beberapa riwayat.</p>
<p>Jelas nyata, riwayat pernikahan Aisyah pada usia 9 tahun oleh Hisham ibn `Urwah tidak bisa dianggap sebagai kebenaran, dan kontradisksi dengan riwayat-riwayat lain. Lebih jauh, tidak ada alasan yang nyata<br />
untuk menerima riwayat Hisham ibn `Urwah sebagai kebenaran ketika para pakar lain, termasuk Malik ibn Anas, melihat riwayat Hisham ibn `Urwah selama di Iraq adalah tidak reliable. Pernyataan dari Tabari, Bukhari<br />
dan Muslim menunjukkan mereka kontradiksi satu sama lain mengenai usia menikah bagi Aisyah. Lebih jauh, beberapa pakar periwayat mengalami internal kontradiksi dengan riwayat-riwayatnya sendiri. Jadi, riwayat usia Aisyah 9 tahun ketika menikah adalah tidak reliable karean adanya kontradiksi yang nyata pada catatan klasik dari pakar sejarah Islam. Oleh karean itu, tidak ada alasan absolut untuk menerima dan<span dir="ltr"> mempercayai usia Aisyah 9 tahun ketika menikah sebagai sebuah kebenaran disebabkan cukup banyak latar belakang untuk menolak riwayat tsb dan lebih layak disebut sebagai mitos semata. Lebih jauh, Qur&#8217;an menolak pernikahan gadis dan lelaki yang belum dewasa sebagaimana tidak layak membebankan kepada mereka tanggung jawab-tanggung jawab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;" dir="rtl" align="right">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/apit.wordpress.com/248/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/apit.wordpress.com/248/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/apit.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/apit.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/apit.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/apit.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/apit.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/apit.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/apit.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/apit.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/apit.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/apit.wordpress.com/248/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apit.wordpress.com&blog=315807&post=248&subd=apit&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apit.wordpress.com/2008/04/15/menyibak-kabut-pernikahan-nabi-aisyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1774b48d11f4128c1a85c7ae4f271293?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">apit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bidadari itu: “Perempuan Shaleh”</title>
		<link>http://apit.wordpress.com/2008/01/28/bidadari-itu-%e2%80%9cperempuan-shaleh%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://apit.wordpress.com/2008/01/28/bidadari-itu-%e2%80%9cperempuan-shaleh%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jan 2008 06:41:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>apit</dc:creator>
				<category><![CDATA[TongIlmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apit.wordpress.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[&#160;
                                                       [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apit.wordpress.com&blog=315807&post=210&subd=apit&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;" align="center"><i>                                                                         Jalaluddin Rakhmat</i></p>
<p style="text-align:justify;" align="center">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">“Benarkah hadis yang mengatakan bahwa kebanyakan penghuni neraka itu perempuan?” tanya seorang murid kepada Imam Ja’far. Fakih besar abad kedua hijrah itu tersenyum. “Tidakkah anda membaca ayat Al-Qur’an &#8211; Sesungguhnya Kami menciptakan mereka sebenar-benarnya; Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta dan berusia sebaya (QS 56:36-37). Ayat ini berkenaan dengan para bidadari, yang Allah ciptakan dari perempuan yang saleh. Di surga lebih banyak bidadari daripada laki-laki mukmin.” Secara tidak langsung, Imam Ja’far menunjukkan bahwa hadis itu tidak benar, bahwa kebanyakan penghuni surga justru perempuan.<span id="more-210"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis yang ‘mendiskreditkan’ perempuan ternyata sudah masyhur sejak abad kedua hijrah. Tetapi sejak itu juga sudah ada ahli agama yang menolaknya. Dari Imam Ja’far inilah berkembang mazhab Ja’fari, yang menetapkan bahwa akikah harus sama baik buat laki-laki maupun perempuan. Pada mazhab-mazhab yang lain, untuk anak laki-laki disembelih dua ekor domba, untuk anak perempuan seekor saja. Mengingat sejarahnya, mazhab Ja’fari lebih tua, karena itu lebih dekat dengan masa Nabi daripada mazhab lainnya. Boleh jadi, hadis-hadis yang memojokkan perempuan itu baru muncul kemudian: sebagai produk budaya yang sangat maskulin?<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Karena banyak ayat turun membela perempuan, pada zaman Nabi para sahabat memperlakukan istri mereka dengan sangat sopan. Mereka takut, kata Abdullah, wahyu turun mengecam mereka. Barulah setelah Nabi meninggal, mereka mulai bebas berbicara dengan istri mereka (Bukhari). Umar, ayah Abdullah, menceritakan bagaimana perempuan sangat bebas berbicara kepada suaminya pada zaman Nabi.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika Umar membentak karena istrinya membantahnya dengan perkataan yang keras istrinya berkata: Kenapa kamu terkejut karena aku membantahmu? Istri-istri Nabi pun sering membantah Nabi dan sebagian malah membiarkan Nabi marah sejak siang sampai malam. Ucapan itu mengejutkan Umar: Celakalah orang yang berbuat seperti itu. Ia segera menemui Hafsah, salah seorang istri Nabi: Betulkah sebagian di antara kalian membuat Nabi marah sampai malam hari? Betul, jawab Hafsah (Bukhari).</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut riwayat lain, sejak itu Umar diam setiap kali istrinya memarahinya. Aku membiarkannya, kata Umar, karena istriku memasak, mencuci, mengurus anak-anak, padahal semua itu bukan kewajiban dia. Anehnya, sekarang, di dunia Islam, pekerjaan itu dianggap kewajiban istri. Ketika umat Islam memasuki masyarakat industri, berlipat gandalah pekerjaan mereka. Berlipat juga beban dan derita mereka. Untuk menghibur mereka para mubalig (juga mubalighat) bercerita tentang pahala buat wanita saleh yang mengabdi (atau menderita) untuk suaminya: Sekiranya manusia boleh sujud kepada manusia lain, aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya (hadis 1). Bila seorang perempuan menyakiti suaminya, Allah tidak akan menerima salatnya dan semua kebaikan amalnya sampai dia membuat suaminya senang (hadis 2). Siapa yang sabar menanggung penderitaan karena perbuatan suaminya yang jelek, ia diberi pahala seperti pahala Asiyah binti Mazahim (hadis 3). Setelah hadis-hadis ini, para khatib pun menambahkan cerita-cerita dramatis. Konon, Fathimah mendengar Rasul menyebut seorang perempuan yang pertama kali masuk surga. Ia ingin tahu apa yang membuatnya semulia itu. Ternyata, ia sangat menaati suaminya begitu rupa, sehingga ia sediakan cambuk setiap kali ia berkhidmat kepada suaminya. Ia tawarkan tubuhnya untuk dicambuk kapan saja suaminya mengira service-nya kurang baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Cerita ini memang dibuat-buat saja. Tidak jelas asal-usulnya. Tetapi hadis-hadis itu memang termaktub dalam kitab-kitab hadis. Hadis 1: diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud. Tetapi Bukhari (yang lebih tinggi kedudukannya dari Abu Dawud) dan Ahmad meriwayatkan hadis sebagai berikut: Ketika Aisyah ditanya apa yang dilakukan Rasulullah di rumahnya, ia berkata: “Nabi melayani keperluan istrinya menyapu rumah, menjahit baju, memperbaiki sandal, dan memerah susu.” Anehnya, hadis ini jarang disebut oleh para mubalig. Karena bertentangan dengan ‘kepentingan laki-laki’?</p>
<p style="text-align:justify;">Hadis-hadis lainnya ternyata dipotong pada bagian yang merugikan laki-laki. Setelah hadis 2, Nabi berkata,”Begitu pula laki-laki menanggung dosa yang sama seperti itu bila ia menyakiti dan berbuat zalim kepada istrinya.” Dan sebelum hadis 3, Nabi berkata, “Barang siapa yang bersabar (menanggung penderitaan) karena perbuatan istrinya yang buruk, Allah akan Memberikan untuk setiap kesabaran yang dilakukannya pahala seperti yang diberikan kepada Nabi Ayyub.” Tetapi, begitulah, kelengkapan hadis ini jarang keluar dari khotbah Mubalig (yang umumnya laki-laki ).</p>
<p style="text-align:justify;">Maka sepeninggal Nabi, perempuan disuruh berkhidmat kepada laki-laki, sedangkan laki-laki tidak diajari berkhidmat kepada perempuan. Fikih yang semuanya dirumuskan laki-laki menempatkan perempuan pada posisi kedua. Beberapa gerakan Islam yang dipimpin laki-laki menampilkan ajaran Islam yang ‘memanjakan’ laki-laki. Ketika sebagian perempuan muslimat menghujat fikih yang mapan, banyak laki-laki saleh itu berang. Mereka dituduh agen feminisme Barat, budak kaum kuffar. Mereka dianggap merusak sunnah Nabi. Nabi saw berkata, “Samakanlah ketika kamu memberi anak-anakmu. Bila ada kelebihan, berikan kelebihan itu kepada anak perempuan.” Ketika ada sahabat yang mengeluh karena semua anaknya perempuan, Nabi berkata, “Jika ada yang mempunyai anak perempuan saja, kemudian ia memeliharanya dengan sebaik-baiknya, anak perempuan itu akan menjadi pengahalang baginya dari api neraka (Muslim).</p>
<p style="text-align:justify;">Pendeknya, dahulukan perempuan, kata Nabi dahulu. Pokoknya utamakan laki-laki, teriak kita sekarang.[]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/apit.wordpress.com/210/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/apit.wordpress.com/210/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/apit.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/apit.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/apit.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/apit.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/apit.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/apit.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/apit.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/apit.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/apit.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/apit.wordpress.com/210/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apit.wordpress.com&blog=315807&post=210&subd=apit&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apit.wordpress.com/2008/01/28/bidadari-itu-%e2%80%9cperempuan-shaleh%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1774b48d11f4128c1a85c7ae4f271293?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">apit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendidikan dan karakter</title>
		<link>http://apit.wordpress.com/2008/01/05/pendidikan-dan-karakter/</link>
		<comments>http://apit.wordpress.com/2008/01/05/pendidikan-dan-karakter/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jan 2008 11:51:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>apit</dc:creator>
				<category><![CDATA[TongIlmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apit.wordpress.com/2008/01/05/pendidikan-dan-karakter/</guid>
		<description><![CDATA[Dear Ida,
Menarik sekali tulisan nya. Kebetulan kami (my husband &#38; I) sepaham dengan cara berpikir penulis.
Anak pertama kami (15th) sejak kecil selalu duduk dalam top 5. Kegiatannya lebih focus ke pelajaran (kutu buku) dan sosialnya kurang. Kebanyakan orang tua &#8220;happy&#8221; sekali lihat anaknya selalu nangkring di top 5. Tidak demikian dengan kami (kata teman teman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apit.wordpress.com&blog=315807&post=203&subd=apit&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;text-align:justify;">Dear Ida,</p>
<p>Menarik sekali tulisan nya. Kebetulan kami (my husband &amp; I) sepaham dengan cara berpikir penulis.</p>
<p>Anak pertama kami (15th) sejak kecil selalu duduk dalam top 5. Kegiatannya lebih focus ke pelajaran (kutu buku) dan sosialnya kurang. Kebanyakan orang tua &#8220;happy&#8221; sekali lihat anaknya selalu nangkring di top 5. Tidak demikian dengan kami (kata teman teman kita ini Ortu aneh).<br />
Pada saat anak kami berumur 8 th kami memutuskan untuk mengirimnya ke boarding school di Phuket. tentu saja setelah melalui pertimbangan yg matang. Sekolah tersebut merupakan cabang atau satu group dari sekolah di UK yang cukup terkenal dengan metode bagus dan juga disiplin bagus (Dulwich  International College). Anak kami tinggal di Surin house bersama sekitar 50 anak lainnya. Semester pertama perubahan mulai terlihat, anak kami mulai bergabung dengan club renang. Nilai akademik tetap menonjol dan tetap tidak bergeming dari top 5. semester berikutnya nilai akademik turun walaupun tetap dalam top 10 tetapi anak kami memimpin group renang dan keluar sebagai pemenang. Selama 3 th berada di boarding school, anak kami menempuh perjalanan pp Phuket-Jkt setiap 5 minggu (status UM) dan mulai terlihat keberanian dalam bersuara. Ketegasannya dalam memutuskan suatu pendapat di dapat dari kehidupan asrama yg notabene membutuhkan kerjasama yg baik dan juga berkat system di asrama tersebut yang mengajarkan agar setiap student dapat secara bergilir memikul tanggung jawab sebagai pemimpin. <span id="more-203"></span></p>
<p>Sejak th 2003 kami hijrah ke NZ dan system pendidikan disini yang lumayan unik membuat kami semakin betah. Anak pertama kami masuk di High school 2 th lalu dan karena nilai akademiknya yg tetap menonjol maka pihak sekolah memasukkan anak kami dalam kelas rangking 1. di High School terdapat sekitar 15 kelas untuk umur yg sama dan setiap kelas memiliki nilai akademik yg berbeda. artinya anak yg akademiknya kurang baik tidak akan dicampur dan diharuskan bersaing dengan anak yg akademiknya tinggi. Paham yang di anut adalah, setiap anak mempunyai keistimewaan masing masing dan anak yg matematiknya misalnya selalu merah tidak akan dipaksa bersaing dengan yg matematik nya 9. begitu juga untuk non akademik, yg hebat di sport tidak akan dipaksa menghafal rumus matematika justru di dorong untuk terus berpacu dengan sport dan ikut kompetisi national or international.</p>
<p>Minggu lalu anak kami baru saja menjalani interview yg di sebut &#8220;focus career and understanding our dream&#8221; setiap anak yg duduk di kelas 10 semester akhir disarankan untuk membuat appointment dengan &#8220;career centre&#8221; dan dibantu oleh mereka si anak dibimbing untuk memahami apa yang mereka inginkan dan apakah keinginan tersebut akan dapat dicapai atau &#8220;will be just a dream&#8221;. Interview ini tidak wajib dan tidak setiap anak menggunakan kesempatan tersebut. kembali kepada ortu dirumah ada yg cuek bebek ada yg care. (Kami termasuk yg care dan mendorong anak kami menggunakan fasilitas tersebut). Anak kami selalu memfocuskan impian menjadi pilot fighter (hhhmmmm&#8230;.) setelah melalui discusi yg panjang antara kami (ortu), pihak sekolah (career centre dan class teacher) serta kemampuan si anak, akhirnya anak kami (semoga) dapat melihat bahwa memfocuskan diri menjadi seorang pilot fighter adalah langkah yg terlalu cepat dan kurang wise. Kemampuan akademik yg tinggi dan ditunjang kegemarannya akan technology (computer, robot etc) akan lebih bermanfaat jika anak kami memfocuskan diri menjadi seorang engineering dalam hal ini bergabung dengan airforce sebagai ground support dan memfocuskan diri untuk mempelajari serta menciptakan technology pesawat yang terbaru. Sebagai seorang yg menciptakan pesawat, otomatis kalau ingin menggeserkan career sebagai seorang pilot fighter tidak akan terlalu sulit. gak susah kan nyopirin produk sendiri (he he he&#8230;..)</p>
<p>Anak ke 2 kami sangat bertolak belakang dengan yg pertama. kemampuan akademik boleh dibilang &#8220;biasa&#8221; saja. tetapi kemampuan sosialnya sangat luar biasa. Jika ke 2 anak tersebut kami ajak ke suatu acara yg notabene tidak ada yg mereka kenal, dalam 5 menit anak ke 2 kami telah mendapatkan teman bermain dan pada saat acara selesai tidak akan heran jika anak ke 2 kami telah mengantongi nama &amp; alamat beberapa kenalan baru. bagaimana dengan anak 1 kami? sampai acara selesai belum tentu anak 1 kami mengenal nama orang yg berdiri disebelahnya.</p>
<p>Jika anak pertama kami focus ke akademik dan &#8220;kuliah mendapat degree&#8221; adalah wajib (menurut dia lho..) lain halnya dengan anak ke 2 kami, sejak beberapa tahun terakhir urusan &#8220;kuliah&#8221; buat dia adalah membuang waktu dan dana. Jika kami mendiskusikan masalah sekolah setelah tamat SMA, (ini menyangkut budget dan persiapan dana bagi kami sebagai ortu) maka si kecil dengan tegasnya mengatakan bahwa dia tidak akan menghabiskan waktu dan dana duduk di university hanya untuk mendapat gelar. Si kecil merasa bahwa university bukanlah tempat ideal buat dia. Cita cita nya setelah tamat SMA dia akan merintis career sebagai singer atau bermain film dengan cara bergabung dengan agen atau sekolah acting atau singing. hhhmmmmm&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Anak ke 2 juga merasakan system sekolah yg bagus, beruntung bagi kami mempunyai kesempatan mengirim anak ke international school sejak mereka kecil. Di NZ anak ke 2 mulai dengan year 4. System disini setiap tahun anak akan pindah ke kelas berikutnya (tidak ada yang tidak naik kelas). Apakah setiap anak sama? Tidak. Dalam kelas anak saya (year 5), umur setiap anak setara tetapi kemampuan tiap anak berbeda dan dalam kelas terdapat kelompok yang dibedakan berdasarkan kemampuan individual dan setiap kelompok mempelajari materi yang berbeda. Bagaimana dengan &#8220;Rapor?&#8221; setiap awal tahun kami (ortu) diberi kesempatan untuk membuat temu janji dengan class teacher dan akan mendapat penjelasan sejauh apa kemampuan anak kita dan apakah target kita sebagai ortu dan target teacher itu seimbang? lalu si anak akan dipanggil dan kami, teacher + si anak akan duduk bersama dan mendiskusikan apa harapan si anak dan target apa yg akan dicapai? Disini antara ortu, guru &amp; anak dapat menyeragamkan pendapat apa yang akan di dorong, difokuskan dalam 1 th kedepan. Akhir tahun kami kembali duduk bersama dan mendiskusikan sejauh apa target terpenuhi dan apakah target tersebut tidak menyimpang dari kemampuan si anak?<br />
lalu apa yg tertulis dalam &#8220;rapor&#8221;? penjelasan sejauh apa tingkat akademik atau non akademik si anak. Contohnya anak kami yg walaupun tergolong &#8220;rata rata&#8221; ternyata kemampuan akademik nya setara dengan anak yg berumur 13th (anak ke 2 kami umurnya 10th), kemampuan non akademik dlm bidang sport setara dng umur 9th (terlalu kecil untuk umurnya) dan kemampuan seni menonjol dan dapat dikategorikan sebagai junior advance.</p>
<p>Intinya, kami menegaskan kepada anak anak, apapun career yang akan mereka tuju asal dilakukan dan dijalani dengan sungguh sungguh akan menjadi suatu career yang membanggakan. Plan the future sedini mungkin dan ingat kemampuan dan kondisi. Jangan mimpi kuliah di Oxford kalo otak nggak sanggup dan dana pas pas-an atau jangan mimpi jadi &#8220;Madonna&#8221; kalo nyanyi di kamar mandi aja nggak becus. dan yang penting jangan memilih career karena &#8220;si pujaan hati&#8221; ada disana atau karena career tersebut lagi ngetren. Lihat kemampuan, kesempatan dan focus.</p>
<p>take care,<br />
Anna</p>
<p>On Sep 12, 2005, at 12:18 AM, Ida arimurti wrote:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> <tt><b><span style="font-size:10pt;">Mendidik Manusia atau anjing ? - Ratna Megawangi</span></b></tt></p>
<p><tt><span style="font-size:10pt;">Perjalanan anak-anak kami masih panjang, sehingga kami belum tahu</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">apakah mereka berhasil nantinya. Namun paling tidak, kami telah</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">berusaha untuk mempersiapkan mereka untuk menjadi manusia yang</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">berpikir kritis dan mandiri, tidak mudah percaya dan diprovokasi,</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">bisa mencari informasi dan mengolahnya sendiri, sehingga nantinya</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">bisa mencari solusi terhadap berbagai masalah dalam hidupnya, serta</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">mudah beradaptasi dengan lingkungan yang cepat berubah.</span></tt></p>
<p><tt><span style="font-size:10pt;">Tentunya juga dengan membekali mereka tentang prinsip-prinsip nilai</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">dan etika. Terus terang, kami memang "melarang" anak-anak kami untuk</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">mendapatkan ranking, karena sistem ini akan membuat seseorang</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">terperangkap untuk mempertahankannya, sehingga mereka hanya mampu</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">berpikir dangkal, pragmatis, dan tidak kritis, akibat terbiasa</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">menghafal dan mengerjakan soal yang jawabannya sudah baku sesuai</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">dengan rumus.</span></tt></p>
<p><tt><span style="font-size:10pt;">Menurut Albert Einstein, dengan hanya mengajarkan anak menghafal</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">mata pelajaran, tidak ada bedanya dengan melatih seekor anjing.</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">Menurut Einstein, "With his specialized knowledge-more closely</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">resembles a well-trained dog than a harmoniously developed person."</span></tt></p>
<p><tt><span style="font-size:10pt;">(Ternyata benar, dengan cara mengulang berkali-kali, anak kami sudah</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">dapat melatih anjingnya yang berusia 4 bulan untuk duduk, loncat,</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">dan salaman). Bukan berarti metode menghafal dan drilling tidak</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">perlu (kognitif), tetapi dimensi lainnya juga harus dikembangkan</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">(sosial, emosi, motorik, spiritual, dan kreativitas), sehingga</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">seluruh dimensi manusia dapat berkembang secara seimbang (harmonis).</span></tt></p>
<p><tt><span style="font-size:10pt;">Namun, semua metode pelajaran di sekolah hanya diarahkan agar anak-</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">anak dapat menjawab ujian, yang bentuknya memang hafalan, sehingga</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">potensi-potensi lainnya tidak berkembang secara harmonis.</span></tt></p>
<p><tt><span style="font-size:10pt;">Albert Einstein sudah memberikan warning akan bahayanya sistem</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">pendidikan yang terlalu menjejalkan anak dengan banyak mata</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">pelajaran, yang menurutnya dapat membuat anak berpikir dangkal,</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">bukan seorang yang independent critical thinker (New York Times,October 5, 1952).</span></tt></p>
<p><tt><span style="font-size:10pt;">Menurutnya, "It is also vital to a valuable education that</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">independent critical thinking be developed in the young human being,</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">a development that is greatly jeopardized by overburdening him with</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">too much and with too varied subject (point system). Overburdening</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">necessarily leads to superficiality. Teaching should be such that</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">what is offered is perceived as a valuable gift and not as a hard duty."</span></tt></p>
<p><tt><span style="font-size:10pt;">Kalau kita melatih seseorang untuk mempunyai fisik kuat, baik dengan</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">olahraga atau berjalan kaki, maka dengan kekuatan fisiknya ia akan</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">fit bekerja di mana saja yang memerlukan kekuatan fisik. Begitu</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">pula, apabila kita mempersiapkan seorang anak untuk dapat berpikir</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">kritis, selalu ingin tahu, dan mampu mengolah informasi, maka ia</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">akan berhasil dalam pekerjaan apa saja yang memerlukan orang berpikir.</span></tt></p>
<p><tt><span style="font-size:10pt;">Apalagi di masa depan apabila semakin banyak orang yang mempunyai</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">akses terhadap internet (lima tahun yang lalu mungkin kita tidak</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">membayangkan kalau hand phone bisa dipakai secara massal sampai ke</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">desa-desa. Hal yang sama sangat mungkin terjadi dengan internet,</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">seperti yang sudah terjadi di Korea).</span></tt></p>
<p><tt><span style="font-size:10pt;">Artinya, tanpa menghafal pun, segala informasi dengan mudah dapat diakses.</span></tt></p>
<p><tt><span style="font-size:10pt;">Mungkin ilmu yang didapat di sekolah banyak yang tidak terpakai</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">dalam kehidupan anak kita nanti. Apalagi jaman akan terus berubah</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">dengan cepat, sehingga apa yang dipelajari sekarang ini, mungkin</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">saja tidak terpakai dalam kehidupannya di masa depan nanti. Padahal</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">sudah dipelajari dan dihafalkan mati-matian, sampai banyak yang</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">stres dan mengalami masalah kejiwaan.</span></tt></p>
<p><tt><span style="font-size:10pt;">Menurut Peter Senge, sekolah-sekolah yang mendidik siswanya untuk</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">patuh begitu saja kepada pihak otoritas dan mengikuti peraturan</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">tanpa mempertanyakannya - tidak bersikap kritis - akan gagal</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">menyiapkan para siswanya untuk menghadapi dunia tempat tinggal</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">mereka yang kerap berubah.</span></tt></p>
<p><tt><span style="font-size:10pt;">Jadi, kalau kita mau menyiapkan anak-anak kita untuk cakap hidup di</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">zamannya kelak, jangan biarkan mereka terperangkap dengan cara yang</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">hanya bisa berpikir sesuai dengan yang telah diprogram (hafalan dan</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">drilling), yaitu tidak kreatif, tidak kritis, tidak berani mengambil</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">risiko, tidak proaktif, dan apatis.</span></tt></p>
<p><tt><span style="font-size:10pt;">Kasihan mereka, karena mereka harus hidup di masa depan yang begitu</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">cepat berubah, sangat kompleks, serta penuh tantangan dan beban.</span></tt><br />
<tt><span style="font-size:10pt;">Seperti kata Einstein, mereka adalah manusia, bukan well-trained dog. *</span></tt></p>
<p><tt><b><span style="font-size:10pt;">Penulis adalah pemerhati masalah sosial pendidikan</span></b></tt></p>
<p>Sumber: http://www.mail-archive.com/idakrisnashow@yahoogroups.com/msg01734.html</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/apit.wordpress.com/203/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/apit.wordpress.com/203/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/apit.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/apit.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/apit.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/apit.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/apit.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/apit.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/apit.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/apit.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/apit.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/apit.wordpress.com/203/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apit.wordpress.com&blog=315807&post=203&subd=apit&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apit.wordpress.com/2008/01/05/pendidikan-dan-karakter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1774b48d11f4128c1a85c7ae4f271293?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">apit</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>