“Teruntuk perempuan sendu yg menggugah kelelakianku”
Temaram lampu malam mu makin redup
Menemani galaumu dalam dilema teman hidup
Melahirkan sajak-sajak gelap dari rahim sengketa rasa
Tidak ada teman yang ingin dilupakan
Sekalipun kebencian memaksamu menjadikannya semu
Paling jauh, belenggu dia dalam penjara masa lalu
Aku melihatnya berhak mendapatkan kebijakan sama
Bukan kutukan kata-kata menjadikannya phobia
Tuhan begitu sayang ciptakanmu perempuan
Pun lokomotif pertama rujukan awal panutan
Maka lupakan personal dilema menawanmu tak berdaya
Sahabat selalu ada dalam keterbukaan kita
Bungkam jelmakan kebisuan, tiadakan jawaban
Lalu solusi? Entah di mana tanpa berbagi
Kawan, jika mungkin ceritakanlah segala resah
Untuk kesehatan-kebaikan, jangan kau pupuki keluh kesah
Selama tak kita perdengarkan tawa-tawa di atas durja
Lalu ingatlah Tuhan,
karena mengingatNya dijanjikan ketenangan
Nb: Dari tiap rasa yang kau bentuk prosa
Menurutku, kau butuh porsi lebih besar belaian cinta:)
Bangkit! jangan termangu di tempat kau melepas sendu