Oleh: apit | Februari 10, 2008

Petuah Kejawen Peninggalan Pak Harto

Soeharto & Tien Soeharto (Yahoo! News/REUTERS/Enny Nuraheni)Sepekan setelah Pak Harto masuk rumah sakit, tersiar kabar bahwa sang jenderal besar pernah mengeluarkan pesan lisan. Ia sempat meminta Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri, menjaga negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila.

Kabar itu dilontarkan Sekretaris Jenderal PDI-P, Pramono Anung, pada 10 Januari silam. Pramono menyampaikan hal itu dalam sebuah pertemuan di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, dalam kaitan hari ulang tahun ke-35 PDI-P. Menurut dia, pesan tersebut disampaikan ketika Taufiq Kiemas mengunjungi Pak Harto bertepatan dengan Idul Fitri.

“Satu bulan sebelum Pak Harto sakit, ada beberapa kali pertemuan dan kunjungan. Kunjungan terakhir adalah kunjungan Pak Taufiq ke kediaman Pak Harto. Pada waktu itu, Pak Harto menitipkan pesan agar disampaikan pada Ibu Mega: tolong titip untuk menjaga NKRI dan Pancasila,” ujar Pramono ketika itu, seperti disampaikan kepada Bernadetta Febriana dari GATRA.

Beragam komentar pun mencuat menanggapi kabar yang diembuskan Pramono dari markas besar PDI-P itu. Terutama dari para politisi. Ada yang menyatakan, pernyataan Pramono itu harus dikonfirmasi dulu kepada orang terdekat Pak Harto. Ada pula yang menilai, pesan Pak Harto itu berlaku bagi para tokoh bangsa lainnya.

Bahkan ada yang terang-terangan menyatakan tidak percaya pada kabar yang diembuskan Pramono. Lepas dari pro dan kontra soal pesan lisan yang dilontarkan Pramono, ada dua wasiat otentik Pak Harto yang segera terlaksan setelah ia wafat. Wasiat pertama seperti yang disampaikannya kepada mantan Menteri Agama, M. Quraish Shihab.

Sewaktu masih sadar, Pak Harto sempat mengeluarkan wasiat lisan kepada pakar ilmu tafsir itu. Quraish mengungkapkan pesan Pak Harto itu kepada Asrori S. Karni dari GATRA. Pak Harto, katanya, minta agar jenazahnya langsung dibawa ke Solo, Jawa Tengah, bila ia wafat sebelum waktu lohor. Lalu, bila ia wafat setelah lohor, Pak Harto ingin agar jenazahnya disemayamkan dulu di kediamannya di Jalan Cendana, Jakarta, baru esok harinya dibawa ke Solo.

Seperti diketahui, keinginan itu benar-benar terlaksana. Pak Harto wafat setelah waktu lohor dan jenazahnya baru diterbangkan ke Solo keesokan harinya untuk dimakamkan. Lalu keinginan dimakamkan di Astana Giribangun di samping makam Ibu Negara Tien Soeharto juga terwujud. Tak seperti wasiat lainnya, keinginan terakhir Pak Harto yang satu ini diungkap secara tersurat dan otentik.

Jauh hari sebelum wafat, malah semasa Ibu Tien masih hidup, ia mengungkapkan keinginannya itu pada satu bagian tersendiri buku otobiografi Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya. Buku yang ditulis bersama oleh G. Dwipayana dan Ramadhan KH itu diterbitkan pada 1989.

Di bawah subjudul “Kalau Ajal Saya Sampai”, Pak Harto tegas menyatakan keinginannya dimakamkan di makam keluarga Astana Giribangun. Di bagian itu, Pak Harto menuturkan, “Kalau saatnya tiba saya dipanggil oleh Yang Mahakuasa, maka mengenai diri saya selanjutnya sudah saya tetapkan: saya serahkan kepada istri saya.”

Selanjutnya Pak Harto menegaskan, “Ia (Ibu Tien) dengan Yayasan Mangadeg Surakarta sudah membangun makam keluarga di Mangadeg, tepatnya di Astana Giribangun. Dan masak saya akan pisah dari istri saya! Dengan sendirinya saya pun akan minta dimakamkan di Astana Giribangun bersama keluarga.”

Semasa hidupnya, Pak Harto dikenal sangat berpegang pada falsafah hidup orang Jawa. Ia kerap melontarkan ungkapan bijak dan ajaran khas Jawa yang didapatnya dari orangtua dan para pujangga dalam teks-teks Jawa kuno. Ungkapan-ungkapan bijak itu sering ia wasiatkan kepada bangsa ini secara lisan, baik dalam pidato maupun ceramah yang disampaikannya secara terbuka.

Satu ungkapan yang pernah begitu populer yang dilontarkannya adalah paribasa Jawa mikul dhuwur mendhem jero. Ungkapan yang secara harfiah berarti “memikul setinggi-tingginya, mengubur sedalam-dalamnya” itu merupakan petuah untuk selalu menghormati orangtua dengan cara mengenang jasa baiknya, dan mengubur segala kekurangannya.

Pada satu masa, ia berkali-kali menyebut paribasa ini dalam berbagai kesempatan. Selain itu, Pak Harto kerap juga mengutip pepatah berbunyi rumangsa bisa naging ora bisa rumangsa. Ungkapan yang secara bebas dimaknai “jangan merasa benar sendiri” itu kerap diucapkannya ketika menghadapi kecaman-kecaman terhadap kebijakan yang diambilnya.

Ia, agaknya, berwasiat kepada bangsa ini untuk mengutamakan sikap saling menenggang alias toleran, bukan saling mengecam. Petuah-petuah Jawa yang sangat mengedepankan harmoni memang begitu sering mewarnai pidato yang diucapkannya. Ia berkali-kali mengutip tuntunan hidup warisan filsuf Jawa, Sastro Kartono alias Mandor Klungsu, yang berbunyi ngluruk tanpa bala menang tanpa ngasorake.

Pada saat banyak pihak mempertahankan kedudukan tentara di lembaga legislatif, Pak Harto pun menyelipkan resep kepemimpinan Jawa yang dianutnya. Pak Harto juga memopulerkan ajaran Pangeran Samber Nyawa, pendiri dinasti Mangkunegaran. Ia mengutip ajaran Tri Dharma sang pangeran: rumangsa handarbeni, wajib hangrukebi, mulat sarira hangrasawani.

Makna yang dijelaskannya ketika itu, bangsa ini dalam bernegara harus punya rasa memiliki, rasa bertanggung jawab, dan selalu mawas diri serta berani. Lebih dari itu, sejak awal duduk jadi presiden, Pak Harto banyak sekali menggunakan paribasa Jawa sebagai semboyan bagi bangsa ini. Ia menyorongkan ungkapan rame ing gawe sepi ing pamrih, ambeg paramaartha, jer basuki mama bea, dan lain-lain.

Semua menjadi semboyan untuk mendukung program pembangunan yang dicanangkan pemerintah Orde Baru. Tuntunan moral beralas falsafah Jawa tak hanya ia tinggalkan untuk bangsa ini. Pak Harto secara khusus juga meninggalkan wasiat tertulis bagi anak-anaknya untuk dijadikan pegangan hidup. Wasiat berisi pituduh dan wewaler atawa petunjuk dan larangan itu tertuang dalam buku setebal 205 halaman, berjudul Butir-butir Budaya Jawa.

Dalam buku itu, tersebar butir tuntunan hidup dan larangan yang sering dipakai Pak Harto dan Ibu Tien dalam mendidik putra-putrinya. Semua pituduh dan wewaler yang disampaikan kepada anak-anaknya itu umumnya bersumber pada ajaran turun-temurun dan berbagai teks kuno Jawa. Pak Harto mengutip tuntunan dalam serat-serat Jawa klasik. Mulai dari Serat Centhini, Kalatidha, Wedhatama, hingga Wulangreh.

Ada juga ajaran moral pujangga Ranggawasita yang ia tuturkan kepada anak-anaknya. Pak Harto mewasiatkan masing-masing enam bagian pituduh dan wewaler dalam buku itu. Mulai hal yang menyangkut ketuhanan, kerohanian, kemanusiaan, kebangsaan, hingga kekuasaan dan kebendaan. Semuanya berisi tak kurang dari 366 butir pituduh, dan97 butir wewaler, yang seluruhnya menjadi 463 butir ajaran moral dan kearifan.

Apakah semua ajaran ini benar-benar dijalankan oleh putra-putrinya, tentulah itu soal lain. Ada lagi wasiat Pak Harto yang disampaikan khusus kepada adik tirinya, H. Probosutedjo. Dalam satu kesempatan bertemu, Pak Harto yang sudah lengser mengeluh kepada sang adik soal kesulitan yang dihadapi rakyat dan para petani.

“Saya diminta untuk bergerak, bekerja untuk menciptakan lapangan kerja. Saya diminta bekerja sungguh-sungguh agar bisa membantu mengentaskan kemiskinan di Indonesia,” ujar Probo, yang kini masih menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung.

Beberapa waktu sebelum wafat, ketika masih dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Pak Harto juga meninggalkan pesan khusus untuk cucunya, Dharma Mangkuluhur Hutomo, anak Tommy Soeharto. Hal itu disampaikannya kepada Menteri Agama, Maftuch Basyuni. “Beliau berpesan agar anak Tommy segera diislamkan (maksudnya dikhitah),” kata Maftuch kepada Asrori S. Karni dari GATRA.

Kini Pak Harto telah berpulan ke hadapan Sang Khalik. Semua wasiat yang ditinggalkannya, agaknya, bermanfaat dan patut menjadi pedoman bagi perikehidupan anak-cucunya, kerabatnya, sobat-sobatnya, dan barangkali juga kita semua.

Erwin Y. Salim
[Laporan Utama, Gatra Nomor 12 Beredar Kamis, 30 Januari 2008]

About these ads

Responses

  1. Saya sangat respek dengan petuah 2x djawa yang menurut saya sangat dalam artinya dan sulit dipahami oleh orang 2x yang mengandalkan logika.
    Mohon kiranya saya sebagai orang jawa bisa mendapatkhan petuah 2x yang lebih banyak lagi dan mohon diberikahan penjelasan apa ada hubungannya petuah 2x jawa dengan kedjawen. Makasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: