Oleh: apit | September 19, 2007

Rapat Samudra Indonesia Merdeka, 19 September 1945

 

Oleh Harsutejo

Setelah proklamasi kemerdekaan dilakukan di Jakarta pada 17 Agustus 1945 yang ditandatangani oleh Sukarno Hatta, maka republik muda ini belumlah memiliki segala perlengkapan sebagai negara modern. Kekuasaan nyata ketika itu masih berada di tangan penguasa Jepang dengan segala perangkat persenjataannya, tetapi moralnya telah merosot mendekati kelumpuhan. Momentum demikian telah ditunggu sejak lama oleh para pemimpin gerakan kemerdekaan. Akan tetapi pemerintahan Republik Indonesia yang telah terbentuk tidak mempunyai gerak yang nyata untuk mengambil kekuasaan dari tangan Jepang. Para pemuda mengambil berbagai inisiatif, pada 1 September terbentuk Angkatan Pemuda Indonesia (API) bermarkas di Menteng 31 yang dipimpin oleh Wikana, Chairul Saleh dan Darwis, serta anggotanya DN Aidit, Parjono, AM Hanafi, Kusnandar, Joharnur dan Chalid Rosyidi. Hal ini diikuti oleh pembentukan Barisan Rakyat (Bara, terutama dari organisasi tani) di bawah pimpinan Maruto Nitimiharjo, MH Lukman, Suko, Sidik Kertapati; sedang Barisan Buruh Indonesia (BBI) di bawah pimpinan Nyono dan Pandu Kartowiguno, semuanya berada di bawah Komite Aksi Menteng 31 yang telah dibentuk para pemuda sebelumnya.[1]

Komite mengumumkan sebuah manifesto yang berbunyi sbb:

  1. Negara Republik Indonesia lahir pada 17 Agustus 1945, kini rakyat telah merdeka bebas dari kekuasaan asing.
  2. Seluruh kekuasaan harus berada di tangan negara dan rakyat Indonesia.
  3. Jepang telah kalah dan tidak berhak memerintah lagi di wilayah Indonesia.
  4. Rakyat Indonesia harus merebut senjata dari tangan Jepang.
  5. Semua perusahaan (kantor, gudang, pabrik dll) harus direbut dari Jepang untuk dikuasai oleh bangsa Indonesia.

Setelah manifesto ini maka API Kereta Api bersama kaum buruh mengambilalih Stasiun Manggarai dan Jatinegara serta menyatakan kereta pi sebagai milik RI. Pada 4 September kaum buruh trem Jakarta mengikuti jejak buruh kereta api. Selanjutnya pada 5 September stasiun Radio Jakarta direbut dari tangan Jepang sekaligus mengusir mereka, pada 11 September seluruh stasiun radio di Jakarta dikuasai oleh rakyat.[2] Di berbagai daerah seperti Bandung, Yogya, Surakarta, Surabaya, Malang dsb. dengan inisiatif mereka sendiri berbagai kelompok pemuda telah memelopori perebutan senjata, instalasi dan aset-aset penting negara dan rakyat dari tangan Jepang. Walaupun para pemimpin tua merasa khawatir terhadap penguasa Jepang, tetapi rakyat Surabaya telah menunjukkan semangat kemerdekaannya secara konkrit dengan mengadakan rapat raksasa yang dimotori oleh para pemuda pada 11 dan 17 September 1945.[3] Dengan demikian kota Surabaya yang dijuluki Kota Pahlawan telah memelopori dilakukannya rapat umum samudra pertama di alam Indonesia Merdeka untuk menunjukkan keberadaan negara Republik Indonesia, sebuah negara merdeka yang didukung oleh rakyat. Ketika itu kapal-kapal perang Inggris atas nama Sekutu telah mendarat di Tanjungpriok dan Kemayoran.

Tindakan rakyat yang dipelopori oleh para pemuda tersebut di atas hakekatnya merupakan cara konkrit mengisi kemerdekaan. Dengan dipelopori oleh para pemuda juga maka pada 18 September KNI Jakarta yang diketuai oleh Suwiryo mengumumkan akan diadakannya rapat samudra di lapangan Ikada (sekarang lapangan Monas) pada esok harinya.[4] Menurut pengakuan Ahmad Subardjo yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, hal itu merupakan inisiatif dirinya untuk melakukan suatu test-case akan eksisnya negara merdeka RI. Hal ini diberitahukannya kepada pemuda Sukarni dan kawan-kawannya yang dipandang mempunyai hubungan erat dengan massa untuk mengerahkan rakyat guna menghadiri rapat umum semacam itu. Pada malam harinya hal itu disampaikannya kepada sidang kabinet di kediaman Bung Karno di Jl Pegangsaan Timur 56 dan menjadi agenda pembicaraan. Rapat belum bisa memutuskan sampai jam 04.00 pagi harinya, karena Bung Karno dan Hatta berpendapat hal itu harus diberitahukan kepada pimpinan Angkatan Perang Jepang. Menurut Subardjo hal itu tidak diperlukan, karena RI merupakan negara merdeka dan berdaulat, apalagi hal itu sudah diumumkan kepada rakyat luas untuk hadir di Ikada. Bahkan ia mengusulkan agar para pemimpin berjalan kaki dari Jl Pegangsaan Timur 56 ke lapangan Ikada, ia sendiri bersedia memeloporinya bersama Menteri Sosial Mr Iwa Kusumasumantri dan Jaksa Agung Mr Gatot Tarunomihardja. Sidang kabinet dilanjutkan pada jam 10.00 pagi. Ketika sidang berjalan datang wakil pemuda Sukarni yang mendesak Bung Karno dan para pemimpin yang lain untuk hadir di Ikada. Upaya menghubungi pimpinan militer Jepang tidak berhasil, Bung Karno masih tetap ragu-ragu karena mengkhawatirkan akan reaksi pihak militer Jepang. Lagi-lagi Menlu Subardjo mengusulkan agar Bung Karno dan para pemimpin hadir di Ikada berhadapan muka dengan rakyat, menjelaskan maksud rapat samudra, selanjutnya membubarkan rapat agar rakyat kembali ke tempatnya masing-masing. Usul ini akhirnya diterima.[5]

Subardjo bersama Mr Iwa Kusumasumantri dan Menteri P&K Ki Hajar Dewantara satu mobil paling depan dalam iring-iringan para pemimpin ke lapangan Ikada yang telah dipenuhi oleh rakyat. Ketiganya naik podium yang disambut oleh Sukarni cs. Baru kemudian diikuti oleh Bung Karno, Bung Hatta dan yang lainnya.[6] Selama menunggu kedatangan Bung Karno dan para pemimpin yang lain, dua orang pemuda tampil ke mimbar, Suryo Sumanto dan DN Aidit. Keduanya memimpin rakyat mengumandangkan lagu-lagu perjuangan Darah Rakjat, Padamu Negeri, Madju Tak Gentar, di bawah moncong senapan Jepang,[7] bahkan sejumlah tank dan senjata berat Jepang mengitari lapangan. Rapat samudra itu dihadiri 200.000 orang. Dalam pidato singkatnya selama beberapa menit Bung Karno meminta kepercayaan rakyat bahwa pemerintah akan mempertahankan proklamasi “…walapun dada kami akan dirobek-robek.” Selanjutnya Bung Karno meminta rakyat tunduk pada perintah dan disiplin serta meminta rakyat untuk segera membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing dengan tenang. Berhasilnya rapat raksasa ini menunjukkan akan legitimasi pemerintah RI di mata dunia.

Rapat raksasa pertama setelah Indonesia merdeka di Jakarta itu begitu penting artinya, hingga wartawan Antara, Asa Bafagih, menulis artikel beritanya dengan “Atom Rakyat Indonesia Hampir Meletus”.[8] Sejumlah pemuda yang bermarkas di Menteng 31 yang mengorganisasi rapat raksasa tersebut segera ditangkap oleh tentara Jepang dan dijebloskan ke penjara Bukitduri. Mereka ini a.l. Darwis, Sidik Kertapati, DN Aidit, A Manafroni, Wahidin, MH Lukman, Adam Malik. Kemudian dengan mudah mereka melarikan diri[9] karena kekuasaan Jepang sudah menjadi loyo.

Dapat ditambahan bahwa pada hari yang sama di Surabaya terjadi sesuatu yang lebih dramatis yang kemudian terkenal dengan sebutan ‘insiden bendera’. Ketika itu sekelompok tawanan perang Jepang yang telah bebas terdiri dari orang Belanda hendak menunjukkan eksistensinya dengan cara mengibarkan bendera Belanda merah-putih-biru di atap Hotel Oranye, Jl Tunjungan untuk menyambut pasukan Sekutu yang menurut selebaran akan segera datang. Mereka pun mendapatkan sejumlah senjata dari tentara Jepang. Sekelompok pemuda dengan keberanian dan senjata seadanya menerobos hotel tersebut, terjadi bentrokan dengan orang-orang Belanda, beberapa korban jatuh. Sejumlah pemuda berhasil naik ke atap hotel dan menyobek warna biru, maka tinggallah bendera merah putih yang berkibar di angkasa. Merdeka!

Catatan:

[1] Soebadio Sastrosatomo, Perjuangan Revolusi, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1987:47; S Kromorahardjo, Yang Berlawan, naskah fotokopi 1998:72.
[2] Idem pertama:47-48.
[3] MC Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, Gadjahmada University Press, 1993:321

[4] Soebadio 1987:48.

[5] Ahmad Subardjo Djoyoadisuryo SH, Kesadaran Nasional, Sebuah Otobiografi, Gunung Agung, Jakarta, 1978:369-373.
[6] Idem:373-374.
[7] Sobron Aidit, Aidit, Abang, Sahabat dan Guru di Masa Pergolakan, Nuansa Bandung 2003:45.
[8] Soebagjo IN, SK Trimurti Wanita Pengabdi Bangsa, Gunung Agung, Jakarta, 1982:106.
[9] Adam Malik, Mengabdi Republik II Angkatan 45, Gunung Agung, 1984:71; S Kromorahardjo:75.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: