Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa.
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.
Apakah kau masih selembut dahulu, memintaku minum susu dan tidur yang lelap.
Sambil membenarkan letak leher kemejaku.
Kabut tipispun turun pelan-pelan dilembah kasih, lembah Mandalawangi.
Kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram.
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin.
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu.
Ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra, lebih dekat.
Apakah kau masih akan berkata kudengar detak jantungmu.
Kita begitu berbeda dalam semua.
Kecuali dalam cinta.
Haripun menjadi malam kulihat semuanya menjadi muram.
Wajah-wajah yang tak kita kenal berbicara dalam bahasa yang kita tidak mengerti.
Seperti kabut pagi itu.
Sebuah puisi Yang Menggetarkan Hati. Dimana Alam Liar Selalu Jadi acuan Dan Landasan Utama Dalam setiap Kalimatnya!!
Hati yang selalu jadi topik utama dalam kehidupan tidaklah luput dari bahasan puisi ini, menyesalkan akan kepemimpinan dan kebijakan di era itu jadi bahan pokok pemekirinya.
Sungguh Sang Pecinta Alam yang tak akan pernah mati tertelan zaman.
Oleh: Deni Ali Usman on Desember 9, 2009
at 8:26 pm