Oleh: apit | September 25, 2006

Menguntit Jejak Abdullah bin Abdul Muthalib

Oleh: Apit

Tak di ragukan lagi, Abdullah bin abdul Muthalib adalah tokoh penting dalam agama Islam. Dari rahim istrinya Aminah, kanjeng nabi Muhammad lahir. Dan di atas pundak Muhammad, risalah Islam dibebankan untuk disampaikan ke penjuru dunia. Namun sangat disayangkan, hanya secuil siluet perjalanan hidupnya yang terekam sejarah, “Abdullah ayah Rasulullah SAW tidak memiliki anak lelaki atau perempuan selain Muhammad. Dan di Madinah dia wafat bersama paman-pamanya dalam usia muda” tutur Muhammad Fawzi Hamzah dalam muqoddimah buku mininya “Abdullah Abun-Nabi”. Maka melalui tulisan padat dan singkat ini, penulis coba membentangkan jalan menyingkap tabir sejarah Abdullah ayahanda nabi yang selama ini remang-remang.  Tentang Abdullah bin abdul Muthollib

Biasanya, dalam memprediksi tahun kelahiran seorang tokoh yang tidak hadir pada zamannya, sejarawan mengaitkannya pada kejadian besar yang pernah terjadi pada masa tokoh itu hidup, sebelum dia lahir atau pun setelah kematiannya. Seperti saat menentukan kelahiran nabi besar Muhammad yang bersanding dekat dengan peristiwa diserangnya Ka’bah oleh tentara bergajah pimpinan Abrahah. Kemudian sejarah mengenalnya sebagai ‘amul fiil [tahun gajah] 570 M. Uniknya, dalam kasus Abdullah bin Abdul Mutholib tidak ada kejadian berdekatan yang bisa disandarkan untuk menentukan tahun kelahirannya. Hingga para sejarawan dalam menentukan tahun kelahirannya, perlu menarik jauh masanya sampai tahun gajah, dimana pada tahun itu pula anak semata wayangnya Muhammad lahir. DR. Haikal dalam “Hayat Muhammad”, mencoba membongkar misteri tahun kelahiran Abdullah, hingga terciptalah syajarah nasab [pohon nasab] yang memuat silsilah keluarga nabi berikut tahun kelahirannya: Qusay lahir tahun 400 M, Abdu Manaf 430 M, Hasyim 464 M, Abdul Mutholib 497 M, Abdullah 545 M, Muhammad SAW 570 M [bertepatan dengan tahun gajah, Red]. Berdasarkan perhitungan tersebut maka DR. Haikal menetapkan angka 25 sebagai usia wafatnya abdullah -terhitung sebelum tahun gajah-. Tidak banyak sejarawan yang mencatat masa kecilnya, kecuali hanya sebuah deskripsi bahwa Abdullah, “..seorang yang paling bagus rupa dan akhlaqnya di antara suku Quraisy..dari wajahnya terpancar cahaya nabi…seorang lelaki yang sedap di pandang di antara suku Quraisy..[Abdullah Abun-Nabi, hal.109]. Memang tidak ada seorang pun yang mampu melukis sosok Abdullah secara detail. Namun mengikuti perkataan nabi bahwa saat seseorang semakin bertambah umurnya, dia akan semakin menyerupai bapaknya.  Maka cukuplah meraba sosok Abdullah dari sifat-sifat yang ada pada diri anaknya, Muhammad SAW. “Maka Rasulullah adalah keturunan Adam yang paling mulia, dan terbaik nasabnya dikarenakan bapak-ibunya”, demikian Ibnu Hisyam dalam sirahnya. Kembali sejarawan berselisih dalam menetapkan umur Abdullah saat menikahi Aminah binti Wahab. Sebagian menyebut angka 18 tahun, dan lainnya mengatakan lebih dari itu. Al-Isti’ab menyebut umur Abdullah saat menikahi Aminah mencapai 30 tahun, angka yang aneh jika dikaitkan dengan kebiasaan masyarakat arab yang mengawinkan anaknya dalam usia muda. Satu hal yang pasti dalam masalah ini, Abdullah menikahi Aminah setelah lolos dari undian yang menetukan dia sebagai sembelihan bapaknya; satu-satunya peristiwa dramatik dari Abdullah yang dikenang sejarah. Ahmad Taaji dalam sirah-nya [Sirah an-nabi al-arabi [1]:42] menyebut umur Abdullah saat itu 18 tahun.     Ana Ibnu Ad-Dzabihaini

dalam Mustadrok-nya, Al-Hakim meriwayatkan sebuah hadits dari Mu’awiyyah yang mengisahkan Rasul pernah dipanggil dengan “Ibnu ad-Dzabihaini” oleh sahabat Ibnu ‘Arabi. Beliau hanya tersenyum tanpa sedikitpun menyangkalnya. Sahabat lain pun bertanya, “siapa dzabihaini itu ya Rasulullah??”. “Mereka berdua Ismail dan Abdullah”, jawab Rasul. Bahkan, -dalam kaitannya dengan julukan Abdullah sebagai ad-dzabih- Ibnu Burhanuddin, mengangkat sebuah hadits yang dengan bahasa telanjang Rasulullah menyebut dirinya, “ana ibnu Dzabihaini”. Namun dia tidak mengingkari ke-gharib-an hadits ini di karenakan dalam sanadnya ada satu periwayat yang majhul [tidak diketahui, Red].  Terlepas dari perdebatan ulama tentang status hadits pengakuan nabi sebagai ibnu dzabihaini, banyak hadits-hadits lain yang substansinya sejalan dengan klaim nabi tersebut. Karena an sich-nya julukan Ad-Dzabih untuk Abdullah berangkulan erat dengan kisah mimpi Abdul Muthalib yang diperintah Allah menggali sumur Zamzam. Banyak sekali Hadits yang mengabarkan peristiwa ini dengan berbagai macam redaksi. Maka sejarah Abdullah bergulir dari sini. Saat itu pembesar Quraisy menentang keras hasrat Abdul Muthalib menggali sumur zamzam, di karenakan letaknya yang berada di antara dua berhala, Ash dan Nailah. Selain itu, mereka juga mengetahui Abdul Muthalib tidak mempunyai apa dan siapa, kecuali seorang anak laki-laki yaitu Al-Harits. Masih ditambah lagi dengan aura homo homini lupus [manusia adalah serigala bagi manusia yang lain, Red] yang sedang menjangkiti kabilah-kabilah besar penguasa tanah arab. Maka lengkaplah alasan Abdul Muthalib untuk tidak berdaya. Abdul Muthalib pun beranjak pergi dalam galau yang mendalam. Lalu berdiri dihadapan Ka’bah dan  bernadzar kepada Allah SWT. Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Sa’ad yang sanadnya marfu’ sampai Abdullah bin Abbas RA, menuturkan: Ketika Abdul Muthalib bin Hasyim menyadari bahwa hanya sedikit kemampuan yang dia miliki untuk menggali Zamzam, dia pun bernadzar, “Jika aku dikaruniai sepuluh anak laki-laki, dan setelah mereka dewasa mampu melindungiku saat aku menggali zamzam, maka aku akan menyembelih salah seorang dari mereka di sisi Ka’bah sebagai bentuk korban”. Seiring perjalanan zaman, anak-anak Abdul Muthalib pun menjadi besar dan telah genap sepuluh orang. Abdul Muthalib berniat merealisasikan rencananya menggali Zamzam, sambil bersiap-siap mengorbankan salah satu anaknya sebagai bentuk pelaksanaan dari nadzar yang dia ucapkan. Maka dilakukanlah undian atas sepuluh anaknya, lalu keluarlah nama anaknya yang paling kecil, Abdullah. Ketika nama Abdullah keluar dalam undian, maka orang yang ada disekitarnya berusaha menolak, mereka mengatakan tidak akan membiarkan Abdullah disembelih. Abdullah saat itu terkenal sebagai seorang yang bersih, tidak pernah menyakiti siapa pun. Senyuman khas Abdullah terkenal sebagai senyuman yang paling lembut di kawasan jazirah Arab. Muatan ruhaninya demikian jernih, dan hatinya yang mulia seolah taman bunga di tengah gurun sahara yang tandus. Sungguh Abdullah telah menarik simpati masyarakat di sekitarnya.  Oleh karena itu, semua manusia datang kepadanya dan menentang usaha penyembelihannya. Para pembesar Quraisy berkata, “Lebih baik kami menyembelih anak-anak kami sebagai tebusan baginya, daripada ia yang harus disembelih. Tidak ada yang lebih baik dari dia. Pertimbangkanlah kembali masalah ini, dan biarkan kami bertanya kepada Kahin (Peramal-dukun)”. Abdul Muthalib tidak mampu menghadapi tekanan ini, lalu mempertimbangkan kembali apa yang telah ditetapkannya. Kemudian pembesar Quraisy mendatangi seorang Kahin. “Berapa taruhan yang kalian miliki?” tanya Kahin. “Sepuluh ekor unta.” Jawab mereka. “Datangkanlah sepuluh unta, lalu lakukanlah kembali undian atasnya dan atas nama Abdullah, jika dalam pengundian yang keluar nama Abdullah lagi maka tambahlah sepuluh ekor unta, begitu seterusnya, hingga tidak keluar lagi nama Abdullah”, perintah Kahin kepada mereka. Kemudian dilakukanlah undian atas nama Abdullah dan sepuluh ekor unta yang besar. Undian itu pun masih selalu mengeluarkan nama Abdullah, dan Abdul Muthalib menambah sepuluh ekor unta lagi, hingga saat jumlah unta mencapai seratus ekor maka keluarlah nama unta tersebut. Masyarakat begitu gembira hingga berlinang air mata, demi menyaksikan Abdullah berhasil diselamatkan. Kemudian disembelihlah seratus ekor unta di sisi Ka’bah sebagai ganti Abdullah. Kedua hadits di atas [hadits pengakuan nabi sebagai ibnu ad-dzabihaini dan hadits kisah penyembelihan Abdullah] mengisyaratkan sebuah kongklusi, walau keduanya berbeda dalam status, namun keduanya bersepakat bahwa Abdullah adalah Ad-Dzabih sebagaimana Ismail. Maka tanpa melihat status ghorib-nya hadits “ana Ibnu Ad-Dzabihaini”, Muhammad tetaplah ibnu Dzabihaini. Ahli Surga atau Neraka?

Setelah sedikit banyak mengetahui sosok Abdullah berikut lika-liku hidupanya. Maka selanjutnya kita coba menyelami arus perdebatan ulama –setelah wafatnya- mengenai status Abdullah di akhirat kelak, termasuk ahli surga atau neraka? Tercatat dua kubu besar ulama yang berselisih tentang statusnya di akhirat:

- Kubu pertama percaya bahwa bapak dan ibu nabi ini akan menjadi penghuni neraka. Salah satu dalil yang dipakai dalam menghukumi kedua orang tua nabi ini adalah hadits nabi yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar, At-Thabroni, dan Al-Bayhaqi, dengan lafadz dari Ma’mar: Seorang arab bertanya kepada nabi, “di mana bapakku?”. Jawab nabi, “di neraka?”. “Lalu di mana bapakkmu?” tanya orang arab itu lagi. ”Ketika kamu melewati kubur seorang kafir, maka sesungguhnya dia langsung berada di neraka” sanad hadits ini shahih menurut syarat syaikhani; Bukhori-Muslim [Sunan Ibnu Majah: Bab Janaiz, hal.105]. Al-Baihaqi dan At-Thabroni menambahkan, setelah menanyakan hal tersebut, orang arab tadi langsung masuk Islam. Untuk sedikit perenungan, lafadz-lafadz hadits yang menyebutkan ayah dan ibu nabi berada di neraka bertentangan dengan spirit ayat yang artinya: “Dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra: 15). Jadi bisa disimpulkan, sebelum turunnya perintah dan larangan tidak ada keburukan yang akan dikenakan adzab (sangsi), kecuali setelah Allah mengutus rasul-rasul yang membawa Syari’at-Nya. Bahkan jumhur ulama bersepakat ayat ini me-nasakh [menghapus] semua hadits yang berhubungan dengan permasalahan tadi ataupun sejenisnya, seperti hadits tentang status balita-balita dari kaum Musyrikin.

-          – Kubu kedua meyakini bahwa orang tua nabi termasuk ahli surga. Muhammad Fauzi hamzah dalam “Abdullah abun-nabi”-nya mengutarakan sebab dikategorikannya orang tua nabi termasuk ahli surga: 1] Karena mereka tergolong ahlu fathroh yang hidup diantara dua masa kerasulan. Dakwah nabi yang pertama tidak sampai pada mereka, dan dakwah nabi yang kedua sama sekali belum diketahui, sebab azal terlebih dahulu menjemput nyawa mereka. Dalam hadits nabi yang diriwayatkan oleh sahabat Al-Aswad bin Sari’ RA menyebutkan: 4 macam golongan manusia yang protes pada hari kiamat: 1] Seorang tuna rungu yang tidak mendengar sama sekali, 2] Orang bodoh, 3] Seorang tua yang pikun 4] Seorang yang wafat pada masa fathroh…..orang yang mati pada masa fathroh berkata: Tuhanku tidak ada seorangpun dari rasulmu yang sampai kepadaku. Tuhan pun memutuskan keyakinan mereka lalu mengirimnya ke neraka. Maka barang siapa memasuki neraka [diantara mereka berempat, red], akan merasa dingin dan sejuk. Sedang yang tidak ingin memasukinya, tuhan akan menariknya [dari jalur neraka, red]. 2] Mereka masuk surga karena tidak berlaku syirik. Sebagian menyebutkan karena mereka mengikuti agama nenek moyangnya nabi Ibrahim, “Alhanifiyyah”

Tidak hanya kedua sebab tadi yang mengisyaratkan orang tua nabi layak menjadi penghuni surga, karena syafaat pun berlaku buat mereka. Rasulullah bersabda, “Mengapa banyak kaum mengatakan bahwa syafaatku tidak akan diperoleh keluargaku, sesungguhnya mereka akan mendapatkan syafaatku [Subulul Huda [1] : 298]. Wallahu A’lam bis-Showab.  

About these ads

Responses

  1. ya baguss juga .. nggak nutp kemungkinan lo bis ajadi terkenal .. hehe apa sih nggak jelass deh .. haha..


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: