Jenderal Sonthi Boonyaratglin, pemimpin kudeta di Thailand untuk menggulingkan pemerintahan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, dikenal bersuara lembut dan pragmatis dalam karir militer.
Setahun lalu, Thaksin sendiri yang memilih Sonthi menjadi Kepala Staf Angkatan Darat, namun kini, Sonthi justru memimpin penggulingan perdana menteri.
Sonthi menjadi muslim pertama yang memimpin angkatan darat, angkatan yang paling kuat di militer Thailand, di negeri dengan mayoritas penganut Budha itu.
Pengangkatan Sonthi sebagai KSAD mendapat pujian dari pengamat dengan harapan, pemegang tanda jasa pertempuran itu dapat menemukan cara menyelesaikan perlawanan separatis Islam di provinsi-provinsi Selatan Thailand, yang kebanyakan berpenduduk muslim.
Selain seorang penganut Islam, Sonthi juga punya banyak persamaan dengan Muslim Melayu yang menjadi mayoritas di wilayah miskin dan mudah bergejolak yang di selatannya berbatasan dengan Malaysia.
Dia lahir dekat Bangkok pada 1946 dari keluarga terpandang yang punya pertalian saudara dengan kaum muslim Thailand yang terkemuka.
Nenek moyangnya, 200 tahun lalu menjadi pemimpin umat pertama di Thailand dan ibunya dayang istana kerajaan.
Sonthi lulus dari Akademi Militer Kerajaan Chulachomklao 1969 dan mengikuti pendidikan militer lanjutan di Amerika Serikat.
Dia pernah bertugas di Korps Infanteri Kerajaan, sebelum memimpin unit-unit elit termasuk pasukan komando khusus.
Dikenal dekat dengan Raja Thailand, Sonthi juga diketahui secara luas berselisih dengan Thaksin dalam hal kebijakan keamanan
Dia mengutamakan adanya dialog dengan kaum militan untuk mengakihiri kekerasan yang telah menewaskan 1.400 orang sejak Januari 2004.
Langkah yang ditempuhnya ditolak keras pemerintah yang mengumumkan pembatalan semua rencana negosiasi.
Sebelum menggulingkan pemerintah, Sonthi selalu bersikap netral dalam krisis politik yang sejak Februari 2006 marak dengan unjuk rasa anti pemerintah.
Dalam krisis itu, dia sering kali dianggap kepanjangan lidah Raja Bhumibol Adulyadej, namun di sisi lain dia mengkritik Thaksin maupun para pemrotes.
“Masalah negeri ini, yang sudah dimulai sejak lama, telah membuat Raja bersedih, hal itu membuat saya kesal dan khawatir,” katanya.
“Sebagai tentara Raja, saya ingin membantu Raja meringankan kekhawatirannya dan angkatan darat akan melakukan apa saja yang Raja sarankan,” kata Sonthi dalam pidato yang kemudian dianggap ingin menekan para politisi.
Saat situasi politik Thailand bertambah buruk, berulang kali Sonthi mengundang media untuk membantah rumor kudeta, rumor yang selalu menjadi headline dan memicu kekhawatiran tentang kerusuhan sipil.
Hanya satu minggu lalu, dia mengatakan rumor mengenai kudeta sebagai informasi yang salah.
“Yakinlah bawa kami selalu mencoba menjaga stabilitas negeri. Militer tetap sabar,” katanya.
Belum jelas apa yang membuat kesabarannya habis, tapi para diplomat mengatakan dia mengkhawatirkan ada usaha melawan dirinya, menyusul terbongkarnya dugaan rencana pembunuhan Thaksin, Agustus 2006.
Terbongkarnya kasus itu berbuntut lima anggota militer ditangkap termasuk beberapa perwira.
Kedekatan Sonthi dengan istana kembali menimbulkan dugaan bahwa kudeta yang dia pimpin adalah tanda bahwa raja tidak suka dengan situasi politik di bawah pemerintahan Thaksin. (AFP/Ant/OL-02)