Oleh: apit | September 17, 2006

Menonton Bahasa

L. Murbandono Hs

Bumi kita kayaraya dengan keanehan. Sampai saat ini kita masih bisa menonton percabulan membabi-buta antara kiat dengan siasat, di semua bidang kehidupan dan khususnya dalam urusan cari makan atau kedudukan dengan cara megal-megol menyanyi amat kocak, terjadi di mana-mana di seluruh jagat, termasuk di balik pagar rumah atau di depan mata kita sendiri.

Kalimat di atas bisa membuat kita berduka atau justru mengakuinya sebagai kalimat berita bernilai abadi yang sulit dibantah, asal kita bisa merasakan bahasa Indonesia secara patut. Di sini kita sedang menonton dua hal. Pertama, kekayarayaan bumi kita dari sudut peradaban, yaitu kayaraya dengan bahasa. Kedua, merasakan bahasa itu memang bisa lebih tajam katimbang sembilu dan bisa lebih mengerikan katimbang segala jenis gendruwo.

Meski tatanan pendidikan di Indonesia di sana sini masih ruwet, saya yakin tiap anak SD dengan IQ biasa-biasa saja pada umumnya mengerti, bahwa terdapat beribu-ribu bahasa di dunia meski jumlah negara di seluruh jagat cuma sekitar duaratusan. Di antara dan terhadap ribuan bahasa di bumi itu, bagaimana tampang dan tampilan bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa kita yang lain? Bahasa Aceh, Bali, Batak, Jawa, Minangkabau, Nias, Sunda dan ratusan bahasa lainnya. Rupawan, cantik, kucel? Atau cengar-cengir di hadapan bahasa-bahasa Barat, Arab, Jepang, atau bahasa entah apa, misalnya, bahasa gaul?

Tentu saja jawabannya bisa seluas lautan sebab cakupan masalah di atas kelewat luas. Namun sejauh demi temuan jawaban yang berlaku umum, maka kita perlu meletakkan bahasa Indonesia dalam peta bahasa-bahasa sejagat.

Bahasa-bahasa Sejagat
Dalam peta bahasa sejagat dan dari sudut peradaban, kita bisa meletakkan bahasa Indonesia di dua tempat. Pertama, dalam hal sebutan alias nama. Kedua, dalam hal jenis.

Dalam hal nama, bahasa Indonesia berada di antara ribuan bahasa yang terletak dalam salah satu rumpun bahasa. Di dunia terdapat belasan rumpun bahasa dengan puluhan anak-rumpunnya. Bahasa Indonesia termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia. Bahasa-bahasa lain yang termasuk dalam rumpun bahasa ini jumlahnya ratusan, di antaranya adalah bahasa Batak, Madura, Melayu, Jawa, Sunda, Bali, Minangkabau, Banjar, Makassar atau Mangkasara, Bugis, Aceh, Dawan, Sasak, Lampung, Tetun, Tagalog, Madagaskar, Cebuano, Tausug, Hawaii, Maori, Bikolano, Ilokano, Kapampangan, Mandar, Simeulue, Gayo, Alas, bahasa Nias, dan lain-lain termasuk bahasa-bahasa di Papua.

Belasan rumpun bahasa lainnya yang memuat ribuan bahasa itu adalah rumpun bahasa Non-Austronesia, Afro-Asia, Indo-Eropa, Roman, Slavia, Baltik, Keltik, Anatolia, Indo-Iran, Tokharia, Sino-Tibet, Tionghoa, Tibeto-Burma, Austro-Asia, Munda, Mon-Khmer, Tai-Kadai, Hmong-Mien, Ural-Altai, Finno-Ugrik, Altai, Korea, Jepang, Dravida, dan rumpun bahasa Kreol.

Selanjutnya, disusun dari berbagai sumber, di bawah ini daftar sederhana sejumlah kecil nama bahasa di dalam rumpun-rumpun bahasa. Daftar lebih lengkap bisa ditemukan di banyak acuan dan sumber-sumber bacaan yang lain.

Termasuk dalam rumpun bahasa Non-Austronesia adalah bahasa-bahasa di Papua, jumlahnya sekitar 300 bahasa, dengan catatan, jumlah tersebut termasuk bahasa-bahasa Papua yang termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia. Beberapa contohnya: bahasa Muyu, Dani, Kapauku, dan bahasa Ayamaru.

Termasuk dalam rumpun bahasa Afro-Asia, di antaranya adalah bahasa Arab (bahasa tempat kelahiran Al Quran), Aram (bahasa tempat kelahiran Injil), Ibrani, Mesir Kuna, Koptik, Malta, Berber, Amharik, Tigrinya, bahasa Somali, dll.

Adapun bahasa Belanda yang sekaum dengan bahasa Yiddish, termasuk dalam anak-rumpun bahasa Jermanik sebagai bagian rumpun bahasa Indo-Eropa, bersama dengan bahasa-bahasa Afrikaans, Elsass, Frisia, Gotik, Inggris, Jerman, Jerman Hilir (misalnya Jerman Luxemburg, Jerman Swiss, dan Jerman Austria), Norwegia, Denmark, Skotlandia, bahasa Swedia, dll.

Latin, bahasa yang tenar sebagai sumber acuan bahasa Barat dan bahasa ilmu pengetahuan, ternyata “hanya” bagian kecil dari rumpun bahasa Roman, bersama dengan bahasa Perancis, Italia, Spanyol, Portugis, Rumania, Katalan, dan bahasa Provencal.

Termasuk dalam rumpun bahasa Slavia adalah bahasa Rusia, Polandia, Ceko, Slowakia, Serbia-Kroasia, Bulgaria, Ukraina, Makedonia, Rusyn, dan bahasa Sorbia.

Bahasa Yunani yang dianggap sebagai sumber segala ilmu pengetahuan, ternyata sekedar bagian dari rumpun bahasa Baltik, bersama bahasa Lithuania, Latvia, Prusia Kuna, Albania, dan bahasa Armenia.

Termasuk dalam rumpun bahasa Keltik adalah bahasa Irlandia, Skotlandia, Welsh, Breton, dan bahasa Gaulia.

Adapun bahasa Hitit dan bahasa Luwia adalah bahasa yang termasuk dalam rumpun bahasa Anatolia.

Termasuk dalam rumpun bahasa Indo-Iran adalah bahasa-bahasa Avesta, Persia, Dari, Tajik, Kurdi, Pashtun, Urdu, Hindi, Punjabi, Bengali, Marathi, Sinhala, Divehi, Pali, Sansekerta, Sindhi, Assam, Nepal, Gujarati, Bishnupriya Manipuri, Konkani, Kashmiri, Baluchi, Siraiki, Pahlevi, Oriya, Ossetia, dan bahasa Mitanni.

Rumpun bahasa Tokharia, dengan anak-rumpun Tokharia Barat dan Tokharia Timur, memuat berpuluh-puluh bahasa. Belum yang disebut dialek. Hal yang kurang lebih sama juga berlaku dalam rumpun bahasa Sino-Tibet, Munda, dan rumpun bahasa Ural-Altai.

Termasuk dalam rumpun bahasa Tionghoa adalah bahasa Mandarin, Hokkien, Kanton, Tiochiu, Shanghai, dan bahasa Hakka, belum termasuk dialek-dialeknya.

Termasuk dalam rumpun bahasa Tibeto-Burma adalah bahasa Tibet, Myanmar, Manipuri, Baltistani, Ladakhi, dan bahasa Dzongkha. Termasuk dalam rumpun Austro-Asia cukup banyak, misalnya bahasa Aborigin.

Sedang bahasa Khmer dan Mon, adalah contoh bahasa yang termasuk dalam rumpun Mon-Khmer. Bahasa Thai dan Lao adalah bahasa yang termasuk dalam rumpun bahasa Tai-Kadai. Dalam rumpun bahasa Hmong-Mien terdapat bahasa Miao-Yao.

Termasuk dalam rumpun bahasa Finno-Ugrik adalah bahasa Hungaria, Finlandia, Laplandia, dan bahasa Estonia

Adapun bahasa Turki yang diduga dekat bahasa Arab, ternyata lebih dekat dengan bahasa Mongol, sebab mereka termasuk dalam rumpun bahasa Altai, bersama dengan bahasa-bahasa Azeri, Uzbek, Turkmen, Kirgiz, Kazak, Tatar, Uighur, dan bahasa Yakut.

Termasuk dalam rumpun bahasa Dravida, Brahui, Tamil, Telugu, Kannada, dan Bahasa Malayalam. Dalam rumpun bahasa Korea-Jepang tentu saja memuat bahasa Jepang dan bahasa Korea.

Terakhir, bukan berarti terpinggir atau di pinggir, termasuk dalam rumpun bahasa Kreol adalah bahasa Papiamento, Sranan Tongo, Tok Pisin, Bislama, Chavacano, Kreol Louisiana, Kreol Jamaika, Kreol Haiti, Papia Kristang, Kreol Melayu, dan bahasa Aukaans.

Nah, begitulah peta bahasa-bahasa sejagat. Tetapi yang disebutkan di atas hanya bagian kecil dari semua bahasa yang ada di bumi. Sebab, jumlah sebenarnya ribuan. Terpenting, semuanya tergolong bahasa yang wajar dan bermakna di dalam rangka peradaban.

Bahasa yang Dibikin-bikin
Di luar penggolongan di atas, masih terdapat bahasa bikinan dan bahasa yang dibikin-bikin alias iseng atau main-main. Termasuk bahasa bikinan tetapi gagal berkembang adalah bahasa Esperanto, Volapuk, Interlingua, Lojban, Ido, Klingon, dan Toki Pona.

Sedang termasuk bahasa yang dibikin-bikin alias iseng atau main-main adalah bahasa gaul. termasuk di dalamnya bahasa prokem dan sejenisnya. Anehnya, justru bahasa macam inilah yang “hidup” dan merajalela ke masyarakat … tertentu! Ini merupakan gejala menarik yang harus disimak oleh semua pencinta peradaban.

Untuk itu, perlu diperhatikan, walaupun di bumi terdapat ribuan bahasa, ternyata dalam hal jenis, cuma terdapat dua jenis. Pertama, bahasa beneran atau sungguh-sungguh. Kedua, bahasa dibikin-bikin (berbeda dari bikinan) alias iseng atau main-main.

Bahasa beneran adalah bahasa sungguh-sungguh yang sesungguhnya dan karena itu perlu diperhatikan secara bersungguh-sungguh. Ini tidak sulit. Sebab pedoman dan panduannya jelas, dari sudut pendidikan dan kebudayaan.

Yang berbahaya adalah bahasa iseng. Ini mantiki belaka menurut azas filsafat: segala keisengan berbahaya dalam dirinya sendiri, jika digunakan secara tidak pas dan oleh orang-orang yang tidak pas. Karena itu, cara bergaul yang pas dengannya mestinya juga dengan cara main-main. Dan, ini tidak mudah, bagi kerja-kerja pendidikan! Perlu dicatat, main-main di dini samasekali tidak berurusan dengan “bermain” sebagai keniscayaan manusiawi yang secara kefilsafatan justru amat manusiawi (silakan simak studi Prof Dr N Drijarkara mengenai ihwal main-main dan bermain). Jadi, apa sebenarnya bahasa iseng atau bahasa gaul?

Bahasa iseng atau bahasa gaul adalah bahasa main-main. Pengguna bahasa iseng adalah orang-orang iseng yang kerjanya cuma bisa main-main dan membikin-bikin (amat berbeda dari membikin) belaka. Penggunanya selalu bukan orang dewasa yang matang secara kependidikan dan kebudayaan. Jadi, tidak ada sangkut pautnya dengan usia. Tidak sedikit orang yang sampai tuaaaa sekaliiii dan masuk liang kubur tidak pernah mampu mencapai taraf kedewasaan kependidikan dan kebudayaan.

Jadi, pada umumnya pengguna bahasa iseng adalah memang remaja-remaja akilbalig yang masih mencari-cari jati diri. Para remaja bingung. Cari-cari perhatian. Ini sehat dan wajar saja! Malah bagus dan baik, menandai ada gerak, kiprah, semangat, sebagai salah satu tahap kejiwaan dalam langkah-langkah menuju ke kedewasaan. Artinya, secara azasi, bahasa iseng harus selalu bersifat sementara di dalam diri sang pengguna bahasa. Dalam rangka kebahasaan, bahasa iseng harus dipahami sebagai bahasa yang “sakit” atau “mabuk”.

Yang tidak sehat adalah jika insan-insan dewasa dan atau lembaga-lembaga peradaban – termasuk di dalamnya lembaga pendidikan, media, kebudayaan – ikut-ikutan arus ikut iseng, justru, dalam rangka menjalankan misi memajukan peradaban. Dan, dalam misi kebahasaan, menyembuhkan bahasa yang “sakit” dan “mabuk” tidak perlu larut menjadi sakit dan mabuk pula. Memang, tidak mudah. Tapi yaaah! Agaknya, justru azas pendidikan dan dasar media yang paling mendasar dan mutlak inipun tidak dipahami oleh mereka yang bekerja di bidang pendidikan dan media sendiri. Inipun wajar pula. Sebagai bagian dunia yang sedang sakit dan mabuk pula. Gara-gara rata-rata orang merasa aman-aman saja dijajah sebuah barang kelontong yang namanya globalisasi, umumnya dari barat, umumnya dari sikap pikir yang “sakit” dan “mabuk” pula. Lawan!


Beri tanggapan

Your response:

Kategori