Oleh: apit | September 17, 2006

‘Bahasa Gaul’ di Kalangan Remaja

Sopian Hadistiara*

“Bahasa yang digunakan seseorang mencerminkan pribadinya”

Gaul, dong! Pede aja lagi! Kasihan deh, lo! Nyantai aja, Coy! Begitulah antara lain “bahasa gaul” yang seringkali kita dengar di kalangan remaja kini. ‘Bahasa gaul” itu seakan telah menjadi bahasa resmi mereka. Bahkan bila dalatn pergaulan mereka ada diantaranya yang menggunakan bahasa Indonesia – katakanlah – yang baku, penggunaan bahasa tersebut seolah terdengar aneh dan dianggap norak dalam komunitasnya. Nggak salah, sih, apabila para remaja menggunakan “bahasa gaul”. Sedangkan dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tentu Pusat Pembinaan Bahasa yang lebih berkompeten mengurusnya, Yang jelas-jelas salah adalah, jika “bahasa gaul” yang digunakan bersinggungan dengan nilai-nilai moral dan agama. Namun nyatannya, disadari atau tidak, justru hal itu yang sering terjadi. Dengan kata lain, banyak penggunaan “bahasa gaul” yang makna aplikatifnya cenderung tidak dibatasi oleh nilai-nilai atau norma-norma tadi (norm/essness).

Gaul, dong!

Dalam konteks sosial pergaulan remaja, “gaul” bukanlah sekedar kata.. Melainkan sudah menjadi semacam istilah atau ungkapan yang ruang lingkupnya menyentuh berbagai perilaku atau gaya hidup remaja. Sayangnya, istilah atau.ungkapan itu cenderung bertentangan dengan nilai atau norma-norma yang ada. Contohnya, berpacaran dengan ngeseks-nya, minum minuman keras (ngedrink), menggunakan obat terlarang (ngedrugs), berjudi (ngegambling) atau yang lainnya dianggap “gaul”. Begitu pula dengan kebiasaan nongkrong, ngeceng, atau yang jainnya. Lebih tegasnya, makna “gaul” lebih berkonotasi negatif.  Kata “gaul” yang sudah menggejala bahkan membudaya itu, disadari atau tidaK memiliki makna psikologis yang relatif cukup kuat pengaruhnya dalam komunitas pergaulan remaja. Akibatnya karena ingin disebut “gaul”, tidak sedikit diantara remaja yang ikut-ikutan untuk segera memiliki pacar, ngedrink; nyimenk, ngedrugs, atau yang lainnya termasuk nongkrong atau ngecengnya. Entah di pinggiran jaian, di mal-mal, di tempat-tempat hiburan, dan lain sebagainya. Istilah mereka : “Gaul dooong…”

Pede aja, lagi!

“Pede” (PD) adalah “bahasa gaul” yang mengungkapkan perlunya seseorang u.ntuk “percaya diri”, Namun ironisnya, himbauan, saran, atau perlunya seorang untuk bersikap “percaya diri1 ini juga cenderung tidak dibatasi oleh norma-norma tadi, Misalnya seorang gadis berok mini dan berbaju you can see disarankan untuk “pede” (baca : percaya diri) dengan pakaiannya itu. Bahkan bisa jadi si gadis memang merasa lebih “pede” dengan model pakaian demikian. “Pede aja lagi !” Begitulah bahasa mereka. Masih banyak contoh lain yang menunjukkan perlunya seseorang untuk bersikap “pede” namun tetap normlessness seperti tadi. Sebab ukuran “pede” yang seharusnya berlandaskan pada keluhuran nilai-nilai moral dan agama, terkikis oleh hal-hal yang bersifat fisik dan kebendaan. Contoh lainnya, seseorang merasa “pede” hanya lantaran kecantikan atau ketampanan wajahnya semata, “pede” hanya jika ke sekolah atau ke kampus membawa motor atau mobil, “pede” cuma karena mengandalkan status sosial keluarga, dan masih banyak kasus yang lain, Sedangkan merasa “pede” setelah memakal deodoran di ketiak, itu sih, tidak menjadi masalah. Daripada bauket dan mengganggu orang lain ? Ukuran “pede” seperti itu, jelas nggak bermutu, selain juga keliru. Pasalnya, pemahaman “pede” harus lebih ditempatkan dalam ukuran atau standarisasi nilai-nilai ahlak. Bukan karena landasan fisik dan kebendaan semata.

Kasihan deh, Lo!

Ungkapan ini juga termasuk bahasa gaul yang masih cenderung normless. Sebab ungkapan tersebut seringkali terlontar pada konteks yang tidak tepat. Sebagai contoh, seorang remaja yang tidak mau mengikuti tren tertentu dianggap : “Kasihan deh, Lo!”. Begitu pula dengan remaja yang membatasi diri dari perilaku lainnya yang sesungguhnya memang perlu/harus dihindari karena tidak sesuai dengan nilai atau norma-norma agama (Islam). Misalnya karena.tidak pernah “turun” ke diskotek lengkap dengan ngedrink atau ngec/njgsnya, ataupun perilaku negatif lain yang sudah menjadi bagian dari gaya hidup remaja. Bisa juga ungkapan “Kasihan deh, Lu” ini tertuju pada remaja yang sama sekali tidak mengetahui berbagai informasi yang memang sesungguhnya juga tidak perlu untuk diketahui. Seperti tidak mengetahui siapa sajakah personil bintang “Meteor Garden” yang tergabung dalam “f4″ itu ? Siapa pula “Delon” itu? Atau yang lainnya

Nyantai aja, Coy!

Kekeliruan lain yang juga menggejala dalam “bahasa gaul” remaja adalah ungkapan : “Nyantai aja, Coy!” Tentu tidak masalah dalam kondisi tertentu kita “nyantai”, lebih tepatnya adalah “bersantai” atau istirahat untuk menghilangkan kepenatan. Namun yang menjadi masalah apabila “Nyantai aja, Coy” disini konteksnya mirip dengan lagu iklan Silver Queen : “‘…mumpung kiitaa masih muda, santai saja…” Ingat kan ? “Nyantai aja, Coy!” yang dilontarkan sebagian remaja seringkali bermakna ketidakpedulian terhadap kemajuan atau prestasi diri. Sebagai contoh, seorang remaja mengatakan, “Nyantai aja, Coy!” kepada temannya, karena temannya itu terlihat gelisah lantaran belum belajar untuk persiapan ujian besok pagi, “Nyantai aja, Coy!” terkadang bisa pula menunjukkan ketidakpedulian terhadap lingkungan sosial atau orang lain. Misalnya, seorang remaja putri sedang asyik ngobrol di telepon umum sementara banyak orang antri menunggu giliran. Ketika salah seorang yang antri menegurnya, ia malah menjawab “Nyantai aja, Coy!” Jika mau dicermati tentu masih banyak ungkapan : “Nyantai aja, Coy!” yang sering dilontarkan para remaja namun tidak sesuai dengan konteksnya bahkan menafikan keluhuran nilai-nilai akhlak, Repotnya, apabila mereka dinasihati untuk men}auhi berbagai perilaku yang tidak baik, termasuk dalam menggunakan ungkapan yang tidak tepat (karena tidak sesuai dengan konteksnya), maka dengan mudahnya mereka malah berbalik mengatakan, “Nyantai aja, Coy!”

Membudayakan bahasa gaul yang positif

Berbagai ungkapan seperti: “Gaul, dong!”, “Pede aja lagi!”, “Kasihan deh, Lo!”, “Nyantai aja, Coy!” atau mungkin berbagai ungkapan lain, dalam konteksnya sekali lagi seringkali tidak tepat atau tidak dibatasi oleh nilai-nilai : baik atau buruk. Karena ungkapan-ungkapan “bahasa gaul” itu mempunyai pengaruh psikologis yang relatif cukup kuat dalam mempengaruhi seorang remaja dalam komunitas pergaulannya, maka perlu adanya semacam upaya membudayakan “bahasa gaul” yang “positif” di kalangan mereka.
Contoh yang benar menggunakan ungkapan-ungkapan tersebut disesuaikan dengan konteksnya atau sejalan dengan nilai-nilai moral adalah sebagai berikut :

Ungkapan Gaul dong!.

“Sebagai seorang pelajar atau mahasiswa, gaul dong dengan buku!”
“Masak pelajar atau mahasiswa gaulnya dengan ngedrugs, nongkrong, ngeceng, lagi”.
“Masak remaja muslim gaulnya seperti itu. Gaul dong dengan remaja masjid”.

Ungkapan Pede aja, lagi!

“Kalau sudah belajar, pede aja lagi!”
“Kalau kita berada dalam kebenaran, pede aja lagi!”
“Kalau sudah berpakaian sopan, kenapa mesti tidak pede!”

Ungkapan Kasihan deh, Lo!

“Kasihan deh Lo! Masak ngaku pelajar atau mahasiswa tapi berurusan dengan polisi (karena terlibat narkoba misalnya).”
“Masak seorang muslim tidak bisa baca Al Quran. Kasihan deh, Lo! “

Ungkapan Nyantai aja, Coy!

“Kalau kita sudah belajar dengan maksimal, nyantai aja menghadapi ujian.”

Sebagai remaja yang memiliki kemampuan berpikir, tentu kita tidak mau dong termasuk orang yang “asbun” alias “asal bunyi” dalam bicara. Nah karena itu, sebaiknya kita meninjau kembali apakah “bahasa gaul” yang setiap hah kita gunakan itu sudah sesuai tidak konteksnya dengan nilai-nilai kesopanan dan moral. Biar nggak asal bunyi. Bahasa yang digunakan seseorang mencerminkan pribadinya. Silakan saja menggunakan “bahasa gaul” sebagai cerminan bahwa kita memang remaja yang senang bergaul. Namun hati-hati, jangan karena kita merasa bangga jadi “anak gaul” tetapi “bahasa gaul” yang kita gunakan tidak tepat konteksnya atau bertentangan dengan nilai-nilai kesopanan dan moral. Sebab jika demikian bisa-bisa kita justru disebut “anak yang salah gaul”. Ya nggak?!

*Penulis adalah penulis buku dan pemerhati masalah sosial remaja, tinggal di Bogor


Responses

  1. tolong di kirimi hal ini ke web saya, dan kalau ada yang lebih menarik kirimkan aja langsung. saya suka sekali bacaan ini, yang menurut saya meluruskan kesalahan – kesalahan itu. semoga semakin cepat berkembang dan jangan berhenti menulis

  2. kurang banyak boss.kalo mau lbh bgs tlg diksh asal muasalnya.

  3. aku mahasiswa jurusan ikom. mau bikin peneliian tentang semiotika bahasa gaul… bisa bnt gk???

  4. emang bahasa gaul amat di gemari kaum intelektual yang ngesok ngakunya gaul……..??
    apalagi banyak kata-kata gaul yang bikin puyeng, sebab bahasa gaul itu cenderung bersifat progresif dari bahasa indoonesia. masa seh….. bahasa gaul bisa kita kuasai dari pada bahasa indonesia? harusnya kita bangga dengan bahasa nasional kita… jangan acuh gitu dong..! ntar klo udah disambet ma negara lain.. baru lah mau ngaku “bahasa Indonesia tu..bahasa gue” kalo udah beginikan jadi repot???????

  5. ccuki deng ngoni yang kita m minta yang lebih bagus 4 m bqng makalah pa si ksnan

  6. siiipppp…….
    aku setuju banget ma kata-kata yang positif…
    palagi kita sebagai muslim jangan sampai dikatakan cupu, gara-gara gak bisa bahasa gaul. Tapi pemakaian bahasa gaul tetep dalam konteks yang positif,,,:)

  7. yaaaaaaaaaaa Aq Stju Bgt…………..

  8. aqoo se7 beud dgn kata2 ntu…..
    gaul bkan barti dgn bahasa spt nttuu…

  9. menggunakan bahasa bkn berarti harus merusak ideologi negara kan?jadi tetaplah berbahasa yang benar

  10. menggunakan bahasa bkn berarti harus merusak ideologi negara kan?jadi tetaplah berbahasa yang benar

  11. ngapain si binggung masalah ngomong….

    bUkNx Tu HaK kT ngOmNG PA aJ…………

    TApI kaLau nGoMnG…………..

    YaNg PAsZtTi_pAstTi AJA………..

  12. Bner juga sich,k’lo anak jaman skrg ngomong pake bahasa baku,kaya nya ga lazim aja.
    Kesannya kaku aj gt……
    Tp ngomong pake bahasa gaul ga ada sanksi pidana nya kan?……

  13. aq salah satu murid dSMA yg ada di wilayah surabaya. aq dapat tugas untuk membuat makala tentang remaja. tolong bantuin aq ya…. kirim aja di blog aku.
    thanks bgt….

  14. wu!!!H……
    bAguzz bGet aRtikeLnya
    bner bgEt tuE rMja skRG bNyk yG
    sLah mnGartikan makNa ” GAuuL”
    cOnGRuL@tion,,,…..!!!!!!

  15. TERIMAKASIH ATAS KOMENTAR SEMUA TEMAN-TEMAN TERHADAP TULISAN SAYA. TULISAN INI PERNAH DIMUAT DI MAJALAH AMANAH

    TULISAN SAYA YANG LAIN DAPAT DILIHAT BLOG:
    mediaspn.blogspot.com

    Salam

  16. tolong dong kirimin aku artikel ini soalnya bagus banget dheh.tolng ya
    sebelumnya makasih

  17. aku juga pengen kirimin ya….
    dan sebelumnya makasih….

  18. menurutku sih sah2 aja pake bhasa gaul. yang penting lihat sikon. masa di dalam forum pake bahasa gaul. . nunjukin banged kalau orang itu ga berpendidikan.
    tolong kasih saran supaya teman-teman yang lain bisa tepat sasaran menggunakan bahasa gaul. terimakasih


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: